Melirik Kondisi Kesehatan Masyarakat di Daerah Kepulauan Sebuah Catatan Perjalanan di Kepulauan Togean, Kabupaten Tojo Una-Una

Oleh: Lafi Munira, SKM

Menuju Kepulauan Togean

Tulisan ini adalah seri kedua tentang perjalanan saya di Kabupaten Tojo Una-Una. Tulisan seri pertama terdapat di buku Jelajah Nusantara 3 tentang kisah kondisi kesehatan masyarakat di daratan Kabupaten Tojo Una-Una, dan pada tulisan ini tentang versi wilayah kecamatan yang berada di kepulauan yang terbentang luas di teluk Tomini.

Mari kita melihat ke sisi  kepulauan yang berada di Kabupaten Tojo Una-Una. Saya mengambil studi kasus pada Kecamatan Togean yang termasuk dalam wilayah kerja Puskesmas Lebiti. Untuk menuju ke Kecamatan Togean ditempuh dengan kapal puspita yang berangkat menuju daerah kepulauan dari pelabuhan Ampana pada setiap hari Senin, Rabu, dan Sabtu, dengan biaya dan durasi waktu yang berbeda-beda, misalnya untuk mencapai Desa Katupat di Kecamatan Togean membutuhkan biaya sebesar Rp 70.000,00 per penumpang dengan durasi waktu 10 jam. Sedangkan dari daerah Kepulauan apabila hendak ke ibukota Kabupaten Ampana dapat menaiki Kapal Puspita yang sama dengan jadwal setiap hari Selasa, Kamis, dan Minggu. Jika menginginkan jarak tempuh ekspress, bisa menggunakan speedboat yang berangkat tiap harinya dari Pelabuhan Wakai dengan biaya Rp. 150.000,00 per orang.

Kesulitan Aksesibilitas dan Beban Biaya Menuju Fasilitas Kesehatan

Kecamatan Togean secara geografis merupakan daerah kepulauan, dimana antar pulau satu ke pulau yang lain dipisahkan oleh Teluk Tomini. Puskesmas Lebiti merupakan puskesmas yang ada di Kepulauan Togean, untuk mencapai puskesmas tersebut, masyarakat minimal memerlukan waktu 1 jam hingga 5 jam, tergantung kejauhan jarak tempuh dengan menggunakan katinting[1] dengan biaya yang tidak “murah” bagi masyarakat. Sebagai contoh, untuk mencapai Puskesmas Lebiti dari Desa Katupat membutuhkan waktu 3 jam perjalanan, waktu tempuh untuk PP (pergi dan pulang) memakan waktu 6 jam, dan membutuhkan bensin sebanyak 17 liter, 1 liter bensin dihargai Rp. 10.000, biaya untuk bensin Rp. 170.000 dan biaya untuk motoris katinting Rp 150.000, total biaya untuk mencapai Lebiti dari Katupat sejumlah Rp. 320.000. Dengan biaya seperti yang telah disebutkan sebelumnya jelas membebani masyarakat kepulauan untuk mendapatkan akses ke fasilitas kesehatan.

Tabel 3.4. Jarak Tempuh Menuju Puskesmas Lebiti

No Nama Pulau Durasi Menuju Puskesmas Lebiti Jalur Transportasi
1 Desa Enam 20 Menit Laut, menggunakan katinting
2 Desa Bangayo 30 Menit Laut, menggunakan katinting
3 Desa Benteng 1 jam Laut, menggunakan katinting
4 Desa Bangkagi 4 jam Laut, menggunakan katinting
5 Desa Baulu 3 jam Laut, menggunakan katinting
6 Desa Katupat 3 jam Laut, menggunakan katinting
7 Desa Lembanato 4 jam Laut, menggunakan katinting
8 Desa Matobiayi 4 jam Laut, menggunakan katinting
9 Desa Titirii Popolion 5 jam Laut, menggunakan katinting
10 Desa Tobil 1 jam Laut, menggunakan katinting
11 Desa Sampobae 1 jam Laut, menggunakan katinting
12 Desa Tongkabo 5 jam Laut, menggunakan katinting
13 Desa Kololio 1 jam Laut, menggunakan katinting
14 Desa Awo 4 jam Perbukitan, menggunakan motor
15 Desa Urulepe 4 jam Perbukitan, menggunakan motor
16 Desa Panubali 2 jam Laut, menggunakan katinting

Sumber: Data Primer

 

Aksesibilitas menuju faskes memang menjadi masalah utama di wilayah kerja Puskesmas Lebiti. Masyarakat menjadi enggan ketika harus dirujuk ke RSUD di Ampana pada saat bidan atau perawat di poskesdes tidak dapat menangani penyakit yang diderita warga. Seperti yang diutarakan oleh tenaga kesehatan di salah satu desa yang terdapat dalam wilayah kerja Puskesmas Lebiti.

“…itu masyarakat kalau sudah dengar kata “dirujuk” ke Ampana, mereka pasti menolak, karena harus mengeluarkan uang banyak untuk biaya transportasi, belum lagi kalau ada keluarga yang mendampingi pun membutuhkan uang yang banyak, tidak cukup 400 ribu, belum biaya makan, dan transportasi di Ampana nanti, jadi mereka lebih memilih pasrah untuk menunggu mati saja dibandingkan harus pergi ke Ampana. Sebenarnya di Wakai ada rumah sakit namun belum kerjasama dengan BPJS Kesehatan, jadi kalau ada yang berobat kesitu pasti bayar mahal juga…” (Nakes A)

 

“…kalau saya di desa ini saya bisa kasih rujukan langsung ke Ampana untuk warga yang mempunyai Jamkesda/Jamkesmas.. jadi tak perlu urus rujukan ke Puskesmas Lebiti lagi, malas.. keluar biaya banyak.. kasihan masyarakat.. itu rumah sakit di Ampana mau terima kalau ada rujukan dari saya.. gratis.. mereka semua kenal saya…” (Nakes B)

 

Terkait ketersediaan obat di kepulauan memang memprihatinkan. Pengalaman saya sendiri ketika mendapatkan tablet tambah darah (TTD) dari perawat A pada bulan Mei 2016, pada kemasannya tertera batas kadaluarsa bulan Juni 2016. Pada saat menghadiri lokakarya mini Puskesmas Lebiti yang dihadiri oleh beberapa pejabat Dinkes, para bidan desa dan perawat desa, petugas puskesmas, serta para kepala desa dalam lingkup wilayah kerja Puskesmas Lebiti, saya baru mengetahui bahwa pendistribusian obat-obatan di wilayah kerja Puskesmas Lebiti diberikan per 3 bulan, dengan alasan bahwa distribusi obat-obatan dari Dinkes Kabupaten maupun Dinkes Provinsi juga tidak lancar.

Salah satu contoh obat yang dianggap “langka” adalah pil KB. Pada lokakarya mini tersebut terlihat pola pendekatan “top down” dari pejabat Dinkes Kabupaten terhadap para bidan maupun perawat desa yang hadir. Pada saat acara berlangsung saya dihampiri oleh beberapa bidan maupun perawat yang mengeluh bahwa Dinas Kabupaten terkesan ingin semuanya sempurna dan belum dapat memahami perjuangan tenaga kesehatan yang berada di kepulauan.

 

“…itu mba, orang Dinkes maunya serba sempurna, sedangkan mereka tidak tahu bagaimana susahnya kami disini, persediaan obat terbatas, kami beli sendiri obat agar masyarakat bisa dapat pengobatan, masyarakat pun mengeluh kenapa obatnya harus bayar, sedangkan mereka tidak punya uang yang banyak, ya mba kan sudah lihat sendiri bagaimana kondisinya kami disini, jadi kami ikhlas saja jika dibayar cuma 10 ribu oleh masyarakat, yang penting masyarakat bisa sehat…” (Nakes C)

 

“..itu mba, banyak sekali obat-obatan yang saya buang karena kadaluarsa, saya juga heran kenapa obat yang dikasih ke torang (kami) yang so (sudah) dekat-dekat bulan kadaluarsanya dorang (mereka) kasihkan… kami biasa beli obat sendiri buat persediaan kalau-kalau ada warga yang butuh, jadi ya bekerja di kepulauan ini kami semata-mata ingin membantu orang lain jo…” (Nakes D)

 

Ada cerita dari pasien yang datang berobat dengan keluarganya dari desa seberang (Pulau Tongkabo) untuk memeriksakan kesehatannya. Beliau mengeluhkan sakit-sakit pada kakinya. Saya sempat bercakap sebentar dengan keluarga ibu tersebut dan beliau mengatakan bahwa di desa beliau tidak terdapat tenaga kesehatan, dan menggunakan katinting untuk menyeberang dari Pulau Tongkabo ke Desa Katupat. Hal yang sama pun terjadi terhadap seorang bapak, yang mengeluh sakit kepala, dan pergi untuk mencari pengobatan ke perawat yang berada di Desa Katupat, beliau berasal dari Desa Lembanato, bapak tersebut mengaku bahwa beliau naik katinting sekitar 1 jam dari pulau Lembanato, walaupun untuk mencapai Desa Katupat dapat dicapai dengan mendaki bukit ke Desa Lembanato. Pengalaman serupa dirasakan oleh 2 orang bapak tua yang tinggal di Desa Titirii Popolion (Tirpo) yang ingin mendapatkan obat ke puskesmas Lebiti.

 

“…Saya berasal dari Desa Tirpo, saya sudah berobat ke Ampana untuk mendapatkan pengobatan, kaki saya ini rematik sudah tidak sanggup berjalan. Kami naik katinting untuk menuju kesini menginap 1 malam di Pulau Enam. Tak apa kami menunggu lama syukur-syukur kami diterima dan dilayani oleh petugas kesehatan disini, kata dokter di Ampana, obat-obatan dapat diperoleh di puskesmas, jadi kami patuh untuk berobat ke puskesmas walaupun jauh jaraknya. Kalau ternyata puskesmas tidak bisa menerima kami, kami rela pulang lagi, dan berharap akan pertolongan Allah saja…” (Informan A)

 

Kisah Hidup Penderita Kusta

Desa Tirpo merupakan desa baru yang disatukan yang asalnya dari desa Titirii dan Popolion. Adalah sangat manusiawi jika kedua orang bapak tersebut merasa minder melakukan pengobatan, karena desa Popolion dahulu merupakan desa tempat pengasingan para penderita kusta. Hal tersebut dapat dilihat ketika saya mendapati bekas-bekas kecacatan di jari jemari tangan dan kaki salah seorang bapak. Cukup lama kami bercakap tentang apa yang pernah dialami oleh dua orang bapak tersebut. Tentang penderitaan yang dialami oleh para penderita kusta sejak jaman dahulu hingga saat ini.

 

“…Kami sedih sekali dari dulu sampai sekarang rasa sedih itu masih ada jika kami bertemu dengan orang baru yang tidak dapat menerima keadaan kami, karena kami sakit seperti ini, kami dulu ingin sekolah di Desa Lembanato, tapi peraturan desa berkata lain, kami anak-anak yang menderita kusta di jaman dahulu tak diizinkan menginjakkan kaki di sekolah mereka, kami tidak bisa sekolah dimana pun. Kami bekerja di kebun pun untuk menghasilkan sayur-sayuran namun masyarakat dari kampung lain pun tidak ada yang mau membeli hasil kebun kami karena takut tertular dengan penyakit kami. Kami hanya bisa berdoa kepada Allah atas apa yang kami rasakan, kami juga tidak bisa menyalahkan Allah atas takdir yang kami jalani…” (Informan A)

 

“Refleksi Diri”

Selama hidup dan tinggal di Kecamatan Togean, yang merupakan wilayah kerja Puskesmas Lebiti saya merefleksikan pengalaman-pengalaman, observasi terus-menerus, bahwa memang sulit mengatakan kondisi kesehatan yang masih butuh diperhatikan ini salah siapa, atau apa-apa saja yang perlu di evaluasi. Tiada yang salah atas semua problema yang terjadi, hanya butuh keyakinan untuk masing-masing tenaga kesehatan menginisiasi diri sendiri untuk terus meningkatkan kemampuan diri dalam melayani masyarakat dalam hal kesehatan. Tiada yang salah, karena memang jumlah SDM terbatas, tidak ada dokter, dan belum ada tenaga kesehatan  yang mumpuni dalam hal manajerial puskesmas yang komprehensif.

[1]Katinting merupakan perahu dengan mesin bermotor yang menggunakan bahan bakar bensin.

Iklan

Ironi Sosial Ekonomi dan Kesehatan Masyarakat Sebuah Catatan Perjalanan di Negeri Penghasil Batu Bara, Kabupaten Kutai Timur

Oleh: Lafi Munira

Banjarmasin, 18 Januari 2017

Menuju Kabupaten Kutai Timur

 

Perjalanan saya dimulai dari Kota Banjarmasin menuju Kota Balikpapan. Bandara Sepinggan kali itu terlihat lebih menarik karena banyak perubahan arsitektur hingga menjadi luas dan ciamik bila dibandingkan dengan tampilan bandara tersebut pada tahun 2011 kala pertama kali saya ke Balikpapan. Setibanya di Bandara Sepinggan saya mencari meeting point tempat dimana beberapa peneliti yang terdiri dari perawat dan sarjana kesehatan masyarakat berkumpul untuk berangkat bersama menuju Kabupaten Kutai Timur.

Perjalanan darat dari Balikpapan menuju Kabupaten Kutai Timur membutuhkan waktu selama 10 jam. Tekstur jalanan yang dilewati bisa dikatakan mulus melewati Kota Samarinda dan sungai Mahakam. Ketika sudah memasuki wilayah “gunung menangis” yang sudah termasuk lingkungan Kabupaten Kutai Timur tekstur jalanan berbatu-batu dan berkelok-kelok sehingga mobil elf pun mengurangi kecepatannya. Mengapa daerah tersebut disebut dengan nama “gunung menangis”?, konon masyarakat menamainya seperti itu dikarenakan daerah tersebut rawan longsor dan tekstur jalan tidak bagus ditambah dengan banyaknya angka kecelakaan di daerah tersebut serta tidak ada penerangan lampu jalanan, kala itu akhir tahun 2015. Pukul 21.00 wita tiba lah kami di Ibukota Kabupaten Kutai Timur, yakni Sangatta.

Sangatta yang “kaya” dan masyarakat transmigran yang miskin

 

Ini adalah kali pertama saya menapakan kaki di tanah Sangatta, tentu saja saya belum mengenal lebih dekat tempat ini. Kota ini tidak begitu luas. Ketika di lapangan dan bercakap dengan para responden penelitian saya baru mengetahui bahwa Sangatta merupakan negeri penghasil bahan bakar minyak. Saya melewati pabrik pertamina yang sangat luas dan ketat penjagaannya. Selain itu masyarakat pun memberi tahu saya bahwa Sangatta juga merupakan Negeri penghasil tambang batu bara.

Rupanya, orang-orang dari luar kota berlomba-lomba untuk hidup dan tinggal di Sangatta agar mendapatkan pekerjaan yang besar nominal gajinya. Pada suatu kesempatan saya melakukan sweeping ke beberapa kecamatan, saya menemukan beberapa kejutan sekaligus keprihatinan.

Pada saat mewawancarai seorang bapak seorang transmigran dari Jawa yang sejak 20 tahun yang lalu bekerja di salah satu perusahaan tambang batu bara, beliau mengatakan bahwa pendapatan beliau sebesar 20 juta rupiah per bulan, ditambah dengan fasilitas rumah, listrik dan PDAM yang dibiayai full oleh perusahaan pun juga asuransi kesehatan swasta. Kedekatan antar masyarakat dalam suatu komplek perumahan yang bagus-bagus tersebut bisa dibilang kurang dekat. Semacam pergaulan lingkungan tetangga pada komplek elit di Jakarta yang antar satu dengan yang lain saling tidak peduli dan mengurusi hidup masing-masing, saling tidak tahu nama dan merasa tidak kenal padahal tinggal di 1 RT yang sama. Miris.

Beda halnya ketika saya mewawancarai masyarakat para pendatang dengan lokasi rumah-rumah yang tampilannya sederhana. Mereka adalah para pendatang dari luar Sangatta yang datang ke Sangatta dengan harapan bisa mendapatkan pekerjaan yang baik di perusahaan pertambangan batu bara ataupun migas. Mereka bekerja serabutan, ada yang menjadi kuli bangunan, satpam, ada juga yang pengangguran. Mereka berkata ternyata Sangatta tidak seindah apa yang mereka bayangkan sebelum meninggalkan asal domisili mereka sebelumnya. Mereka mengontrak rumah, dan harus bekerja keras untuk mendapatkan biaya untuk bayar kontrakan rumah dan biaya hidup sehari-hari. Masyarakat di daerah perumahan yang saling berdekatan tersebut merupakan multi etnik, ada yang dari Jawa, NTT, Kalimantan Selatan, dan lain-lain. Pada akhirnya mereka hanya bisa pasrah tinggal di Sangatta selamanya, karena mereka tidak punya uang yang cukup untuk keluar dari Sangatta menuju kampung halaman mereka. Biaiya hidup di Sangatta bisa dikatakan tinggi, biaya transportasi dari Sangatta menuju Samarinda ataupun Balikpapan bisa membuat isi dompet jebol. Lain halnya bagi mereka yang bekerja di pertambangan batu bara dan migas, bagi mereka, dalam waktu 1 bulan mereka harus refreshing ke Samarinda atau Balikpapan dengan mobil pribadi, ah kesenjangan. Mereka yang menganggap dirinya miskin ini ternyata lebih hangat kedekatannya dengan peneliti dan antara satu tetangga dengan tetangga yang lain saling kenal dan saling berkomunikasi satu sama lain.

Kondisi Kesehatan Masyarakat

Pada saat saya dan rekan perawat sweeping ke rumah-rumah warga, ternyata kami menemukan bahwa banyak dari masyarakat yang kami kunjungi mempunyai riwayat Positif Hepatitis B, dan mereka tidak faham bahwa Hepatitis B bisa menular dengan kontak wadah makanan (Piring makan, gelas, sendok) saat mencuci piring. Ketika kami menemukan kasus HepatitIs B pada suatu rumah tangga, kami mengambil sampel darah semua anggota keluarga. Penyakit menular ini dianggap menjadi suatu hal yang biasa saja.

Pola pencarian pengobatan pun berbeda-beda tergantung status ekonomi warga. Bagi yang bekerja di pertambangan mereka lebih memilih untuk berobat ke rumah sakit swasta tanpa menggunakan asuransi jaminan kesehatan. Sedangkan bagi warga yang hidupnya sederhana lebih memilih berobat ke puskesmas dengan berjalan kaki sejauh 4 KM karena mereka tidak mempunyai motor dan di Sangatta tidak ada angkutan umum.

Fenomena kesehatan masyarakat di daerah pertambangan ini adalah efek “BLASTING”, blasting merupakan upaya peledakan dan pengeboran batu bara yang efeknya bisa dirasakan getarannya hingga puluhan kilometer dan terdengar suaranya yang mampu membuat kebisingan. Ketika saya mewawancarai responden, mereka mengaku sering merasakan getaran tersebut beberapa kali dalam seminggu, selama beberapa menit, sensasinya menurut mereka seperti sedang gempa bumi. Dari form kuesioner yang saya baca, blasting dapat mengakibatkan kelumpuhan permanen pada masyarakat jika terpapar terus-menerus, hingga mengalami ketulian.

Sebuah kisah perjalanan menuju kecamatan Bengalon

 

Kecamatan Bengalon merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Kutai Timur. Sepanjang perjalanan kami disuguhkan pemandangan galian batu bara yang sangat dalam sekaligus kebakaran hutan. Saat itu saya berfikir kenapa ada kebakaran hutan dimana-mana.

 

Asumsi pribadi saya sendiri mungkin ada hubungannya hutan dibakar dengan lahan baru untuk pengeboran tambang batu bara yang masih sangat luas. Jalanan menuju Kecamatan Bengalon bisa dikatakan mulus, teraspal dengan baik, namun tidak ada lampu penerangan jalan, perjalanan dari Sangatta menuju Bengalon membutuhkan waktu sekitar 3 jam dengan menggunakan mobil. Pada kecamatan ini tidak terdapat perumahan elit layaknya di Sangatta, yang ada hanya rumah-rumah sederhana yang saling berdekatan.

 Sepaso Timur RT 15 yang terisolir, “Kami Ingin Sekolah Papa..”

Saya ditugaskan kala itu untuk sweeping ke daerah Sepaso Timur, RT 15, wilayah ini masih bagian dari Kecamatan Bengalon. Saat perjalanan menuju ke Sepaso Timur, mobil yang membawa kami tersesat di dalam hutan yang kanan kirinya terbakar dan asap dimana-mana. Wajar kalau saya panik, pak supir bilang berdoalah karena kalau sampai hujan turun, kemungkinan mobil ga bisa jalan karena jalananya bukan aspal, melainkan tanah merah yang berlumpur. Kami berputar-putar mencari arah jalan yang benar, hingga pada akhirnya kami menemukan jajaran tanaman sawit dan sampailah kami setelah 3 jam mencari RT 15 ini.

 

Tibalah kami di permukiman warga dengan tampilan rumah kayu yang sangat sederhana. Anak-anak kecil berkerumunan, ya hanya ada anak-anak saja saat kami kesana, ketika kami tanyakan dimana orangtua mereka, mereka menjawab bahwa orang tua mereka sedang ke ladang sawit. Kami menunggu sampai sore hingga orang tua mereka datang. Tak satu pun dari anak-anak tersebut yang bersekolah, ya mereka tidak sekolah. Kami tidak menemukan adanya sekolah dasar didaerah tersebut, pun tidak ada faslitas kesehatan primer. Mereka bermain-main di tanah tanpa menggunakan alas kaki.

Ketika orang tua mereka pulang dari ladang sawit kami mulai bercakap dengan mereka. Sepaso Timur, RT 15 ini merupakan pemukiman homogen etnik NTT, mereka cenderung tertutup, butuh sekitar setengah jam kami membaur dengan mereka hingga mereka mau bercakap dengan kami. Anak-anak mereka yang telah remaja pun tidak sekolah sedari kecil, mereka yang remaja ikut berkebun sawit bersama orang tuanya, karena dapat menambah penghasilan keluarga. Mereka digaji  satu juta rupiah per orang.

Selain aksesibilitas menuju puskesmas dan sekolah yang jauh, anak-anak di komunitas tersebut semuanya menderita kecacingan. Mereka sempat meminta kepada kami apakah ada obat cacing. Mereka bercerita bahwa feses anak-anaknya ada cacingnya, begitupun dengan orang tuanya. Secara personal hygiene memang tidak bersih sepanjang saya mengamati responden.

Akhirnya yang kami khawatirkan tiba juga, hujan deras datang dan mobil yang membawa kami hampir masuk jurang. Disaat genting seperti itu saya masih memikirkan mereka, adakah pemerintah menengok sejenak ke tempat ini?.

Surat Untuk Para Tenaga Kesehatan

Kontemplasi Seorang Peneliti,

Dear para nakes, pertama-tama, aku ingin mengucapkan terimakasih karena kalian ada, melayani masyarakat di negeri ini di setiap rumah sakit di kota-kabupaten-kecamatan-desa. Kedua, aku ingin mengucapkan selamat!, karena bisa bekerja di Puskesmas-RS-Dinkes-Kemenkes tidak semua orang dengan latar belakang pendidikan kesehatan bisa mendapatkan kesempatan itu. Ketiga, aku ingin berkisah tentang apa yang ku rasakan-fikirkan-amati selama 2 tahun terakhir Tuhan memberikanku kesempatan untuk mengenal dunia yang belum pernah ku selami sebelumnya. Mengapa belum pernah ku selami sebelumnya?, karena aku masih fakir ilmu, karena ketika aku melihat dunia luar terkadang aku merasa bahwa aku masih belum banyak mengetahui apa-apa.

Terkadang aku merasa salut terhadap kalian yang mau bekerja untuk rakyat, namun disaat yang lain aku merasa ada yang salah. “Sesuatu yang salah” itu ku definisikan sebagai hasil dari renunganku sebagai seorang peneliti, yang mungkin ini merupakan perspektif satu sisi.

Aku diberikan kesempatan olehNya untuk melakukan perjalanan ke beberapa daerah bermasalah kesehatan. Pada kesempatan itu banyak hal-hal yang ku pelajari dan amati berulang kali dan aku menemukan pola yang sama.

Pelajaran pertama yang aku dapatkan adalah ketika aku mempelajari data sekunder di puskesmas lalu ku bandingkan dengan data primer yang aku temukan secara kualitatif di lapangan, dan hasilnya berbeda. Temuan kualitatif lebih banyak daripada temuan yang ada di data sekunder puskesmas. Mengapa bisa berbeda, aku tidak berhak memberikan justifikasi, namun menurutku ada yang “salah”. Pesanku kepada kalian, ketika kalian mengentry data di komputer jika memang jumlah kasusnya banyak, ketiklah sesuai jumlah kasusnya. Kalau kalian takut dianggap tidak bagus jika angka kasus meningkat, maka teruslah mengentry data dengan benar. Jika memang kasusnya banyak, terimalah kenyataannya, toh itu bukanlah hal yang memalukan, berjuanglah untuk mengatasinya secara sinergis.

Pelajaran kedua yang aku dapatkan adalah ketika aku menemukan sepasang suami istri yang lansia dan mereka meneteskan air matanya ketika anak mereka yang mengalami gangguan mental kembali mengamuk di desa, dan nakes memberikan obat yang menurut kedua orang tua anak tersebut mengeluhkan bahwa mereka bingung kenapa kedua lengan anaknya sering tegang dan kaku pasca meminum obat yang diberikan pihak puskesmas. Membawa paksa orang dengan riwayat schizophrenia dan menganggap mereka orang gila dan biasa saja dalam satu pekan membawa “orang gila” tersebut sebanyak 3 orang tiap pekan untuk dibawa ke kota besar yang ada rumah sakit jiwanya. Menurutku ada yang “salah” disini, pasien tersebut tidak pantas untuk ditertawakan maupun dianggap “biasa saja” dalam hal kekambuhan dan penanganannya, serta keluarga tidak diberikan edukasi tentang pola pengobatan pasien. Pesanku kepada kalian, jangan menyebut mereka “gila”, jangan tertawakan mereka, belajarlah tentang nilai-nilai kemanusiaan dan kesantunan, mereka adalah bagian yang memang harus dilayani pengobatannya, dan berikanlah informasi kepada keluarga tentang apapun mulai dari informasi sekitar masalah gangguan mental, bagaimana agar tidak putus obat, bagaimana dukungan keluarga di rumah dan hal penting lainnya.

Pelajaran ketiga yang aku dapatkan masih sekitar pola komunikasi dan empati. Aku tahu bahwa pekerjaan kalian banyak sehingga mungkin kalian hanya punya waktu yang singkat, saat posyandu kalian menyuntikkan imunisasi bayi dan baduta dengan ekspress lalu memberikan obat kepada orang tua dengan bilang nanti kalau demam diminum obatnya. Sebagai orang tua yang awam banyak yang merasa khawatir kenapa anaknya yang awalnya sehat menjadi sakit pasca disuntik. Jangan mengatakan dan menganggap mereka bodoh karena kita sebagai nakes munurut kita lebih banyak ilmunya dibandingkan dengan mereka orang tua yang putus sekolah atau bahkan membaca pun tidak lancar. Aku melihat jarak itu ada diantara kalian dengan masyarakat. Pesanku kepada kalian, mulai lah membangun komunikasi dan empati kepada masyarakat sehingga kalian bisa diterima dengan baik oleh masyarakat, sehingga program kalian dapat berjalan dengan baik. Aku tahu, laporan bulanan kalian banyak dan dituntut harus sempurna agar tidak terjadi masalah di dalam struktural pelayanan kesehatan. Aku juga tidak bisa membandingkan kepribadian manusia satu dengan manusia yang lain. Namun, ku fikir kalian seharusnya mendapatkan mata kuliah empati-komunikasi-nasionalisme ketika membaur ke masyarakat kelak, institusi pendidikan yang melahirkan kalian menjadi seorang nakes harusnya mengajarkan kalian juga tentang nilai-nilai kehidupan bermasyarakat.

Ada banyak yang ingin ku sampaikan, aku menundanya untuk judul tulisanku yang lain. Sebelumnya aku berterimakasih kepada kalian para tenaga kesehatan karena telah ada untuk melayani masyarakat. Kondisi kesehatan di negeri ini kompleks, dan jika diurai satu-persatu kadang bisa mengelus dada. Bersyukurlah kalian yang ditakdirkan mempunyai gelar sebagai tenaga kesehatan. Tulisan ini hanya hasil refleksiku dari apa yang ku lihat, ku fikirkan, dan ku rasakan. Permasalahan sederhana yang masih bisa diusahakan ketika ingin menuntaskan permasalahan kesehatan di negeri ini berawal dengan kedekatan nakes dengan masyarakat, ini bukan perkara tugas satu orang saja, namun kita semua. Harapan itu masih ada, ya masih ada, jika kita mau berusaha.

Salam hangatku,

Lafi Munira

Peran Religi dan Edukasi Orang Tua tentang Kesehatan Reproduksi Remaja (Studi Kasus Keluarga S)

 

 

Noviyanti Liana Dewi, Lafi Munira, Abdul Haris Martakusumah

Perkampungan A terdapat dalam cakupan wilayah kerja Puskesmas Gedong Tenen. Jarak tempuh menuju ke rumah informan membutuhkan waktu sekitar 15-20 menit dengan berjalan kaki. Tampak pemukiman warga yang berukuran kecil-kecil dan gang yang sempit, namun indahnya ketika mereka tersenyum ketika kami mengucap “…permisi pak, bu…”. Jika dilihat sekilas permukiman warga nampaknya cukup “baik-baik saja”, sebelum informan yang kami datangi mengatakan bahwa “lingkungan” tersebut “bermasalah”.

“…kalau daerah RT sini itu ya bisa dibilang lumayan tapi itu sebelah sana (RT sebelah) remajanya nakal-nakal, beberapa  ada yang hamil di luar nikah, tapi di wilayah RT saya itu ada juga yang mabuk-mabuk, pakai narkoba, yah tapi anak-anak saya nurut-nurut puji Tuhan, jarang bergaul dengan mereka…”  (Informan 1, Ibu S)

Keluarga ibu S baru tinggal di blok tersebut sejak tahun 2007. Rumah ibu S sendiri warga setempat sementara sang suami berasal dari kampung tetangga. Keluarga ibu S mempunyai 5 orang anak, 3 anak perempuan, dan 2 anak laki-laki. Tiga diantara mereka merupakan remaja dengan usia yang beragam.  Anak perempuan tertua dan anak lelaki kedua sudah lulus SMK, anak ketiga baru saja melewati ujian nasional, anak ke-empat masih SMP, dan anak terakhir masih kelas 5 SD dengan usia yang termasuk golongan remaja.

Keluarga ibu S menempati rumah di atas tanah seluas kira 50 meter persegi, bertingkat dua. Di lantai pertama, terdapat ruang untuk warung, sementara pada ruang tengah merangkap fungsi ruang tamu, ruang keluarga  dan ruang makan, juga berfungsi sebagai “garasi” bagi motor bebeknya. Sementara di lantai dua merupakan ruang tidur untuk seluruh keluarga, lima kamar untuk anak dan satu kamar untuk  orang tua “…anak saya tidur di kamar masing-masing…” jelas ibu S.

Meskipun begitu, ruang tengah tersebut terlihat rapi, tidak nampak barang-barang rumah tangga yang tergeletak sembarangan, beberapa alat musik sang anak seperti dua buah biola dan gitar terbungkus sarung hitam tertata di sudut ruangan tersebut, beberapa foto keluarga terpajang manis di dua sisi dinding rumah yang bercat putih bersih. Lantai rumah beserta teras mungil di dominasi keramik putih yang terawat, tidak terlihat ada noda atau sampah rumah tangga di lantai tersebut. Di bagian ruang warung, terdapat kulkas mini, rak kecil warung, dan meja untuk meletakkan sayur. Barang-barang tertata rapi, tidak tercium sedikitpun bau tidak sedap sayuran busuk diruang warung. Ada satu hal yang unik di bagian luar rumah, terlihat talang seng dan pipa yang terhubung ke sebuah drum biru ukuran 10 liter yang berisi air hujan. Rumah tangga tersebut menggunakan air hujan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.

 

Mata pencaharian  keluarga ibu S beragam, bapak S  dengan mata pencaharian sehari-hari sebagai wiraswasta, yang sebelumnya bekerja di jasa pelayaran, dan ibu S sendiri biasa jualan bahan makanan dan sayur-sayuran di depan gang. Namun setelah siang barang dagangannya dibawa ke ruangan sebelah ruang tengah di rumahnya, sehingga menjadi semacam warung mini yang menjual sayur dan bahan makanan. Selain itu ibu S juga membuka jasa catering. Sementara dua dari tiga anaknya sudah bekerja namun keduanya masih hidup satu dapur dengan kedua orang tuanya.

Beberapa dari anak-anak ibu S memiliki talenta yang baik dalam bidang seni. Ada yang pintar menyanyi dan bermain biola serta keyboard di gereja, ada yang pintar menyanyi dan bermain gitar, dan dari semua talenta yang dimiliki oleh anak-anak ibu S tersebut dapat menghasilkan uang tambahan untuk jajan mereka maupun untuk saling berbagi dengan keluarga.

Anak kedua yang sudah lulus pun telah bekerja di hotel, “…di keluarga saya ada program pendidikan tersendiri, anak-anak saya memang diarahkan untuk sekolah di SMK, sehingga setelah lulus bisa langsung bekerja…”.

Remaja menurut Orang Tua dan Anak

Menurut ibu S terdapat perubahan pada fase peralihan ketika anak mereka masih kecil menuju remaja. Beliau mengatakan bahwa ketika sudah memasuki fase remaja ditandai dengan perubahan dari sisi biologis dari anak-anak mereka, diantaranya berupa haid pada anak perempuan, dan mimpi basah pada anak laki-laki.

“…ya ada perubahan itu terlihat ya dari perubahan anggota badan, dan tingkah laku, ya seperti haid, mimpi basah, payudaranya membesar bagi anak perempuan, dan juga ada perubahan tingkah laku…”. (Informan 1, Ibu S)

Perubahan tingkah laku disadari ketika anak-anaknya mulai mendengarkan musik-musik kekinian, mulai “berdandan”, dan mulai bisa diajak komunikasi lebih dekat dengan anggota keluarga satu sama lain.

“…perubahan tingkah laku itu misalnya yaa itu anak saya yang paling kecil kalau udah ketemu temen-temennya sesama perempuan suka ngomongin tentang cowok, suka musik-musik yaa anak sekarang…”. (Informan 1, Ibu S)

Eb, anak ketiga ibu S yang berusia 18 tahun beranggapan dirinya kini sudah bukan benar-benar remaja. Apalagi sudah memiliki keputusan untuk bekerja setelah menjalani Ujian Akhir Nasional di SMK-nya. Eb, sudah mendaftar menjadi housekeeping di salah satu hotel mewah di pusat kota Yogyakarta, “…sekarang sih sudah bukan remaja lagi, itu dulu masa – masa smp, sekarang saya mau lanjut bekerja, biar bisa mandiri dan bantu keluarga…” terang Eb.

Pada saat kami bertanya kepada anak perempuan paling bungsu (Adik V) yang sudah haid, dia mengaku bahwa dia merasa bingung ketika saat kelas 4 SD pada celana dalamnya terdapat bercak-bercak darah, lalu ia memberitahu ibunya dan ibunya pun mengajarkan cara memakai Softex. Selain itu anak perempuan paling bungsu ibu S itu diajarkan oleh ibunya bahwa jangan dekat-dekat dengan laki-laki kalau sudah mengalami haid. Adik V juga mengakui bahwa ia pernah merasa suka kepada teman sekolahnya yang laki-laki, tapi itu dulu katanya, sekarang sudah tidak. Selebihnya adik V tidak mengetahui banyak hal tentang mengapa ia tidak boleh dekat dengan laki-laki seperti yang ibunya katakan.

Sementara kakaknya, Eb, memiliki pemahaman dan pengalaman yang baik mengenai fase remaja. Pengalaman  perubahan fisik dan psikis yang dia alami saat menginjak kelas 3 SMP, berjalan dengan mulus tanpa dirasakan ada kegelisahan yang mendalam. Ada kesiapan mental, karena dia sudah memiliki bekal pengetahuan yang cukup mengenai fase remaja melalui pos Pusat Informasi Konseling Remaja (PIKR) dilingkungan rumahnya, “…iya dulu pas SMP saya pernah ikutan kelompok remaja di PIKR, jadi ada pengetahuan soal itu…” terangnya.

Pada saat kami melakukan wawancara dan observasi, terlihat pula bahwa keluarga ibu S merupakan suatu keluarga yang hangat. Antar anggota keluarga yang satu dengan yang lain saling terbuka untuk berkomunikasi apapun topiknya.

“…saya buka-bukaan saja ya, saya kan gemuk terus ga bisa pasang pengait bra saya, jadi semua anak saya baik yang laki-laki maupun perempuan membantu saya untuk mengaitkan bra saya, sudah ga tabu lagi, saya juga mengajarkan ga usah pacaran kalau belum lulus sekolah dan bekerja. Harus sekolah dan bekerja dulu sebelum pacaran. Hati-hati dengan lawan jenis, harus bisa bertanggung jawab jika melewati batas-batas yang sudah saya bicarakan…” (Informan 1, Ibu S)

“…saya sedari kecil selalu menasehati anak saya kalau kami orang susah, jangan macam-macam, tapi ya saya tahu kalau anak laki-laki saya pernah menonton film itu sendiri-sendiri, dan kadang nonton bertiga semua anak laki-laki saya menonton film itu dan pintunya dikunci, pasti ada sesuatu yang saya rasa saya tidak boleh mengetahuinya…” (Informan 1, Ibu S)

Ibu S juga menceritakan bahwa anak-anaknya sudah terpapar pendidikan kesehatan reproduksi (kespro) di sanggar PIKR. PKIR merupakan sanggar yang dibentuk oleh BKKBN yang bekerjasama dengan Puskesmas Gedong Tengen yang memiliki program untuk mengedukasi remaja dan orang tuanya terkait dengan kesehatan reproduksi mereka. Pertemuan pada PKIR bukan hanya untuk para remaja, tetapi juga ada pertemuan untuk para orang tua yang memiliki anak usia remaja. “…iya kami di yogya membuat banyak PIKR, tapi yang paling baik ini ya di RT ini…” ucap salah seorang petugas puskesmas. Pada saat di PKIR, remaja diajarkan tentang pengetahuan kespro berjenjang, yang disertai dengan media promosi kesehatan yang unik seperti ular tangga kespro, yang ketika dimainkan akan dipandu dengan seorang pendamping yang menjelaskan misalnya, perempuan itu apa, laki-laki itu apa, HIV AIDS itu apa dan lainnya.

Kemudian ketika kami menanyakan tentang mengapa ibu S belum memberitahu adik V tentang kespro, beliau menjawab bahwa nanti ketika adik V sudah kelas 6 sejalan dengan program kesehatan di sekolah.

Pengaruh Agama dalam Pembentukan Persepsi dan Sikap Remaja terhadap Kesehatan Reproduksi

Keluarga ibu S merupakan penganut agama Katholik yang taat, dalam satu pekan mereka bisa mendatangi gereja tiga kali. Kami baru mengetahui hal yang menarik bahwa dalam kepercayaan di agama yang mereka anut ada istilah jika masih suci akan menikah di atas mimbar, dan jika tidak suci ya tidak boleh menikah di atas mimbar.  “…kami beri tahu anak-anak kami, jika suci harus menikah diatas mimbar, sebaliknya gak boleh diatas mimbar…” jelas ibu S. Dengan adanya norma tersebut, anak-anak ibu S pun selalu menuruti apa yang dinasehatkan oleh kedua orang tuanya dan hal tersebut pun membantu dalam pembentukan persepsi dan sikap anak-anak ibu S, sehingga mereka menjaga diri dengan baik.

Pengenalan agama yang ditanamkan sejak dini pada anak-anak ibu S menjadi landasan ibu S untuk membesarkan anak-anaknya dari kecil, melewati masa remaja, serta akan beranjak dewasa. “…dari dalam kandungan saya ajak ke gereja, waktu kecil walaupun repot juga tetap saya ajak ke gereja…” terang ibu S.

Eb menceritakan dalam lingkungan pergaulannya mendapati teman-teman yang suka mengajak dia untuk mencoba rokok dan minum-minum alkohol. Tetapi Eb memiliki pendirian yang baik, dia menegaskan selalu menolak ajakan-ajakan negatif temannya. Pesan dan kepercayaan orang tua nya dipegangnya dengan baik. Selain itu, aktifitas sebagai pegiat ekstrakuler olahraga menjadi alasan dia dalam menolak ajakan-ajakan negative teman-temannya “…saya gak pernah bilang itu dilarang agama sih, tapi saya kan aktif berolahraga, jadi mereka paham kalo dengan alasan itu…” terangnya.

Eb bercerita bahwa beberapa teman di sekolahnya ada yang alami kasus kehamilan diluar nikah. Menurut dia, kasus itu kesalahan dari orang tua yang kurang baik dalam mendidik anak. Bahkan dia sangat tidak setuju jika siswa/i tersebut dikeluarkan dari sekolah, terutama bagi perempuan yg menjadi korban. Dia akan tetap menganggap teman apabila ada yang berperilaku seperti itu, “…harusnya itu orang tua yang disalahkan, lalu sekolah gak usah tuh ngasih drop out…saya tetap berteman dengan mereka, kasi support bagi korbannya…” jelas Eb.

Jalan Hidup

Hidup ini penuh teka-teki yang memang kita sebagai manusia tidak bisa menebak apa yang ada di depan sana. Betapa banyak mimpi-mimpi kita yang kita dekap erat, ada cita-cita, ada cinta dan harapan yang lagi-lagi kita dekap erat. Kita mendekap erat kesemuanya itu dan berharap semua berjalan sesuai dengan rencana kita, berharap semuanya menjadi indah dan nyata. Jika dianalogikan, siapa dari kita yang sedang menonton film mengharapkan akhirnya tidak digantung dan happy ending.

Bagi yang masih sendiri di usia yang kian menua, mungkin terbersit tanya dihatinya, siapakah yang akan menjadi teman hidup sampai menua. Manusia-manusia tersebut adalah manusia yang sendirian yang ingin menemukan ataupun ditemukan oleh seseorang yang dianggap jodoh baginya di masa depan. Ada juga mereka yang sedang jatuh cinta bersama, dan berharap akan menua bersama dalam suatu hubungan yang sakral, di sisi lain mungkin juga manusia-manusia yang sedang jatuh cinta ini sedang cemas berjuang untuk mengumpulkan uang untuk resepsi pernikahan sesuai dengan harapan mereka. Semuanya sedang menaruh harapan, dan harapan. Semuanya sedang berusaha meraih asa, dengan doa sebaik-baiknya. Tapi siapa yang bisa menjamin semuanya akan happy ending?

Bagi yang belum mempunyai pekerjaan, tak jarang mereka merasa kurang percaya diri dengan kemampuannya. Tak jarang yang menyentuh gelar sarjana sekalipun kesulitan mendapatkan pekerjaan. Tapi di negeri ini untuk menyentuh pendidikan setingkat sarjana tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bagi mereka yang punya uang berlebih bisa dengan pesta merayakan momen baru masuk kuliah, ditambah bonus dibelikan mobil untuk mobilisasi kost-kampus. Sedangkan sebaliknya tidak semua pemuda di negeri ini bisa beruntung mendapatkan fasilitas pendidikan. Namun yang paling menyentuh hati adalah ketika ada manusia-manusia yang bekerja serabutan mulai dari sol sepatu, jualan koran di pagi hari, menjual jamu, dan sayur-sayuran di pasar.

Siapa yang bisa menjamin semuanya dalam hidup ini akan happy ending?. Kita tak akan mampu mendekap semua mimpi-mimpi kita dan menjadikan semuanya nyata. Kita diberikan akan oleh-Nya untuk bisa memilah-milih segala sesuatunya, baik untuk urusan pekerjaan-pendidikan-cinta-serta harapan-harapan lain. Jika saja semua keinginan itu memberontak ingin diwujudkan maka sesungguhnya kita sedang menggali kuburan sendiri. Kita, pada hakikatnya tidak memiliki apa-apa. Kita, pada hakikatnya sedang menunggu panggilan-Nya dan itu adalah hal yang pasti. Kita pada hakikatnya adalah mahluk yang lemah, dan pada akhirnya kepadaNya lah semua urusan diserahkan. Kita hanya mampu berikhtiar, dan berdoa. Titip harapan-harapan ini kepada-Mu Yang Maha Kuasa.

Banjarmasin,23 November 2016

 

 

 

Jangan.

gambar-orang-sedih-dan-menangis-2

Kelak di suatu hari seorang anak akan membawa kenangan-kenangannya sampai ia beranjak remaja, menua menjadi dewasa, dan berkesempatan menjadi seorang orang tua. Kelak di suatu hari seorang anak akan terseok-seok berjalan melewati waktu dengan banyak jahitan di dalam hatinya, terluka, hanya itu yang tersisa hingga ia membawa kenangan-kenangannya sambil berjalan menuju masa depan.

Oleh karena itu, Jangan, Jangan menciptakan kenangan yang buruk bagi anak kalian. Sesederhana pukulan, ancaman, bentakan, jeweran, makian, dan amarah orang dewasa yang bagi orang tua yang sudah menjadi seorang dewasa ini menganggap semuanya itu mungkin hanya hal yang sederhana dan sepele, biasa aja menghukum anak karena kenakalannya, dan dengan melakukan itu akan terpuaskan amarahnya dalam hitungan menit anda melakukannya. Hitungan menit tersebut bisa saja menjadi mimpi buruk yang berlaku seumur hidup bagi anak kalian.

Bagi kalian yang belum menikah, sudah siapkah anda untuk menikah dengan semua konsekuensinya?, Konsekuensi kelak akan menjadi orang tua, mempunyai anak, mendidik anak, menjaga psikologis anak dalam poin-poin tertentu. Sanggupkah kalian menjadikan pernikahan kalian menjadi pernikahan yang visioner, bukan hanya ikut-ikutan menikah dengan alasan cinta, karena cinta bukanlah segalanya, banyak faktor lain yang menentukan keberhasilan suatu pernikahan. Pernikahan bukanlah perkara hitungan bulan, namun perjalanan panjang bersama pasangan dan anak-anak yang menjalani proses yang panjang.

Dan pada intinya tulisan ini adalah tentang bagaimana mendidik, menjaga, dan melindungi psikologis anak sedini mungkin agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang baik, santun, dan tidak terluka serta membawa luka kemana saja sepanjang hidupnya.

Banjarmasin, 5 November 2016