Melanjutkan Hidup

Kini aku telah memutuskan untuk melanjutkan hidup. Menegakkan tubuhku lalu terus melangkah. Aku akan membuka lenganku seluas-luasnya untuk mencintai keluargaku. Aku akan terus berusaha menjadi manusia yang lebih baik. Aku berusaha untuk menjadi dewasa dengan caraku sendiri. Aku ingin mencintai diriku seutuhnya, dan mendekapnya dengan erat sembari mengatakan “Semua akan baik-baik saja”. Aku akan menjaga hatiku dengan baik mulai sekarang, agar ia tidak terjatuh lagi atau mungkin agar ia tidak melambung tinggi lagi, menjaga hati dengan baik adalah misiku saat ini. Aku akan melapangkan dadaku dengan mengatakan “Sabar lah dalam menjalani hidup ini”. Kemarin aku ingin hidup berteman berdua dengan seseorang, namun kini ku fikir aku masih akan berjalan sendirian untuk beberapa waktu ke depan. Aku akan menikmati kesendirianku sembari terus menjadi manusia yang baik. Aku akan meringankan fikiranku, melepas semua simpul dan ikatan yang membelenggu dan mengatakan “tenanglah tenang sayang”. Aku mulai mensyukuri waktu yang ku miliki, waktu disaat aku bisa berdekatan dengan ibuku, ku rasa aku semakin mencintainya, namun entah apa aku sanggup mengatakan bahwa aku mencintaimu bu. Kata orang, menjadi dewasa itu berat, namun bagiku menjadi dewasa itu bisa dikatakan menyenangkan, itu yang ku rasakan, aku tidak lagi menjadi seorang yang cengeng dan melabilkan banyak hal, perlahan aku menata hati dan fikiranku.

Selesai dengan diri sendiri

Ku fikir, ku telah selesai dengan diriku sendiri, menata hati dan fikiranku hingga ku berani mempertanyakan diri sendiri: “Lalu, mau kemana sekarang fi, mau apa?”.

Aku telah mengenal yang namanya cinta sejak lama, dan mencari-cari seorang teman pun sejak lama, namun belum juga satupun yang bisa ku tarik kesimpulan: “Ah, kamu orangnya!”

Aku belajar mendefinisikan pernikahan pun sejak lama, aku mengamati sekitarku, aku memahami diriku, aku belajar bahwa aku harus mencintai diriku sendiri terlebih dahulu sebelum aku belajar mencintaimu. Aku belajar bahwa aku harus berdamai dengan diriku sendiri, menerima aku seutuhnya dan mendekap erat semua luka yang ada dan mengikhlaskannya lalu membuka lembaran hidup yang baru bersama seseorang yang ku sebut dengan teman hidup. Aku sangat memahami diriku sendiri, aku kesulitan mendeskripsikan perasaan ataupun meluapkan fikiranku kepada mereka yang tidak ku anggap dekat secara batiniah denganku. Aku introvert sejati. Namun bukan berarti aku tidak bisa berteman, karena itulah aku mencari teman yang memiliki kedekatan batiniah denganku.

Ada alasan mengapa aku pada akhirnya menjatuhkan pilihan untuk berteman dengan mu. Aku berharap aku bisa menjadi teman untukmu dan kau bisa menjadi teman untukku. Kita saling berteman dan mendukung. Bukankah pernikahan akan kokoh jika saling berteman dan mendukung. Pertanyaan berikutnya adalah apakah kau mampu meluaskan hatimu untuk menerimaku dan seluruh kehidupanku?

Kali ini aku tidak akan goyah lagi, aku telah memulainya, entah apa keputusan Tuhan untuk urusan ini, aku tidak akan jatuh lagi. Dengan ataupun tanpamu nanti, aku akan tetap melanjutkan hidup.

 

Memaknai Hidup

#Repost

Kalau Anda merasa sedang butuh makna hidup, jalan-jalanlah ke Pangkalan Udara Sultan Hasanuddin. Di Mandai. Dekat bandara lama.

Di sini, uang tidak begitu berarti. Anda boleh punya belasan juta di dompet dan ratusan juta di ATM, tetapi jika kota tujuan Anda adalah Palu, tak akan ada tempat duduk yang nyaman.

Begitu banyak yang berpakaian rapi, harum, dan mahal. Namun tetap harus antre seat di Hercules, satu-satunya pesawat yang bisa berangkat ke tanah yang baru dua hari diterjang gempa dan tsunami itu.

Lupakan dahulu penerbangan komersial, duduk di bussines class, dan dilayani pramugari. Lupakan dahulu ruang tunggu yang dingin dan banyak toilet. Lupakan Starbucks, J.Co, dan executive lounge.

Ada yang rela bermalam di sini, tidur di tegel dan taman, tetapi belum juga bisa terbang sampai sekarang.

Terlalu banyak yang mendaftar. Kapasitas terbatas. Beberapa Hercules yang mondar-mandir Makassar-Palu, Palu-Makassar, belum cukup untuk mengangkut semuanya.

Asri, teman kantor saya sangat mencemaskan kakak dan ponakannya. Belum ada yang bisa dihubungi. Makanya dia mesti berangkat ke Palu. Mencari sendiri kepastian itu.

Doelnest la Maspul, Paulus Tandi Bone, Nurdin Amir, Hariandi Hafid, Maman Sukirman, dan banyak rekan jurnalis lain juga masih menanti dipanggil namanya. Lambung mulai getar, baterai ponsel melemah, badan penat. Namun tidak ada yang bisa mempercepat keberangkatan sebelum tiba gilirannya.

Para relawan dan tim medis juga menunggu jatah terbang.

Lalu di bagian kedatangan, yang tanpa AC dan pengharum, ratusan orang lainnya tiba. Mereka para korban gempa yang selamat.

“Habis semuanya. Ada mobil, tapi kami parkir sembarangan di bandara Palu. Tidak ada artinya lagi,” ujar seorang ibu yang tampak sangat lelah. Matanya berair.

Seorang anggota keluarganya tidak ikut ke Makassar. Belum ditemukan. Dia cuma memikirkan dua kemungkinan; tenggelam atau tertanam. Gempa dan tsunami membuat banyak yang hilang.

Empat bocah bersaudara duduk bernaung di bawah kanopi kantin. Ibunya yang bercadar membelikan minuman dan wafer.

Di Palu, kata mereka, sekarang sangat susah mengasup. Krisis air, krisis makanan. Belum banyak bantuan yang datang. Bandara tutup. Jalur darat putus. Pelabuhan juga kabarnya rusak.

Masih di bagian kedatangan, beberapa ambulans menembus blokade. Sejumlah penumpang harus segera dibawa ke rumah sakit. Ada yang tangannya dibalut perban. Ada yang tidak bisa berjalan karena kakinya entah tertimpa apa pada Magrib di hari Jumat itu.

Saya juga melihat seorang wanita tua, yang melangkah gontai sambil terus terisak. Pasti ada yang hilang dari dirinya. Entah harta, sanak saudara, atau apa. Saya tak mungkin menambah perihnya dengan pertanyaan.

Namun inilah realitas di dunia. Tempat kita sedang mampir ini. Begitu banyak duka, luka.

Jadi kalau sekarang kita masih dalam suka, ada baiknya kita meresponsnya dengan qana’ah. Kalau sekarang kita masih bisa sarapan Indomie, makan siangnya ikan teri, lalu malamnya bakso, itu sudah rezeki yang besar

Percuma banyak deposito bila tak ada yang bisa dibeli. Uang dan kartu debit tak mungkin dikunyah.

Dan bila saat ini kita dalam keadaan berlebih, tengoklah ke saudara-saudara yang sedang tak berpunya.

Hidup seperti roda Hercules yang melaju di runway.
(FB Imam Dzulkifli)

Buku: Tiupan Sanro, Pengobatan Balita Bajo

Sebutan “Etnik Bajo”, umumnya digunakan penduduk di wilayah Indonesia Timur untuk menyebut suku pengembara laut. Menurut orang Bajo, kesakitan terjadi karena adanya ketidakharmonisan dalam hubungan antara sesama manusia, supranatural, serta hubungan dengan Tuhan. Sosok seorang Sanro dipercaya mampu menyembuhkan penyakit.

Etnik Bajo memilih membawa anak yang sakit untuk disembuhkan oleh Sanro dibandingkan memilih pengobatan ke fasilitas kesehatan. Sejalan dengan konsep sakit yang berada di benak orang Bajo, maka ketika seorang anak terkena sarampa (campak dan cacar air) pertolongan pertama bagi anak tersebut adalah memberikan air minum dan tiupan doa oleh Sanro. Pada beberapa kasus setelah diobati Sanro seorang anak akan sembuh. Namun pada kasus lain kondisi sakit pada anak terlambat ditangani secara medis.

Sila free download pada tautan berikuthttps://goo.gl/KXFwcu

20638524_10208271509100053_9059205257511825904_n

Buku: Dilema Program Keluarga Berencana

Bagi masyarakat Aceh Timur, memiliki 10 orang anak bukanlah sesuatu yang aneh. Masyarakat yakin bahwa anak adalah anugerah yang tidak boleh ditolak. Mempunyai banyak anak dianggap tidak masalah karena pengasuhannya dilakukan oleh keluarga besar dan secara ekonomi, anak punya rejeki masing-masing. Namun kenyataan yang ditemukan berbeda. Keluarga luas tidak lagi mampu berperan dalam pengasuhan anak. Tidak jarang ditemukan permasalahan kesehatan akibat anak tidak terurus.

Budaya patriarki membuat semua keputusan berada pada pihak laki-laki. Demikian juga dalam merencanakan jumlah keluarga. Merupakan hal biasa bila suami melarang penggunaan alat kontrasepsi, dengan alasan menghalangi terciptanya anak yang merupakan titipan Ilahi.

Penerimaan masyarakat terhadap keluarga dengan banyak anak, nampaknya juga terkait dengan sejarah panjang rakyat Aceh. Pada masa perang melawan Belanda dan pada jaman DOM, memperbanyak anak diperlukan sebagai upaya eksistensi orang Aceh. Menjadi tantangan tersendiri ketika Program Keluarga Berencana sulit diterima, karena dianggap berasal dari pemerintah yang berada di luar kesatuan hidup komunitas orang Aceh. Ketika petugas kesehatan dipandang sebagai bagian dari struktur pemerintah yang punya misi tertentu. Pertanyaannya adalah bisakah pemerintah bertransformasi menjadi bagian dari kesatuan hidup komunitas orang Aceh?

“Dilema Program Keluarga Berencana”. Riset Etnografi Kesehatan 2015 pada Etnik Aceh di Kabupaten Aceh Timur. Unesa-University Press. 2016.

sila download dimari
https://www.scribd.com/document/333666720/Dilema-Program-Keluarga-Berencana-Etnik-Aceh-Kabupaten-Aceh-Timur

15326500_10206568477525328_7811871109984242947_n

In Yongsan

In Yongsan – Oleh Oh Gyu Won

Masih banyak orang orang konvensional di dunia ini yang meyakini puisi mengandung kisah hebat. Tidak ada yang istimewa di dalam puisi. Hanya mengandung kehidupan kita yang sedikit hebat. Mengandung fantasi orang-orang yang tidak dapat kita abaikan. Sebagaimana kebodohan kita tumbuh di dalam kehendak dan idealisme kita. Begitu pula dengan cinta dan kepercayaan. Demikian juga moral dan keyakinan ku atas mereka. Mereka tidak yakin sejauh keyakinan mereka. Dan pada rerumputan yang indah gulma pun tumbuh. Seperti ala ketidakyakinan cinta itu? Tidak ada yang istimewa dalam puisi. Hanya mengandung kehidupan kita yang masih berlanjut. Dan kehidupan kita yang masih berlanjut berhadapan dengan kita sepanjang waktu. Pada jalan yang menjadikannya sedikit hebat. Mungkin kamu tidak akan mempercayainya tetapi memang tidak sehebat itu.

Going Home

Going home – Oleh Kim Yoon ahn

Pada jalan pulang aku meninggalkan hatimu pada matahari terbenam. Dan aku memikirkan segala yang telah kau lakukan. Aku merasakan kesedihan dan tak ada cara untuk mengetahuinya apa yang akan terjadi esok. Aku hanya bisa memeluk dan mengatakan semuanya akan baik saja. Aku merasa akan ada lebih yang dapat aku lakukan. Menimbulkan ketidak sabaran. Aku merasa sedih atas beban pada hari-hari panjang mu. Ku harap suatu yang baik akan  terjadi esok. Karena kau layak mendapatkan nya. Aku harap beban mu kan menghilang. Aku mendoakannya dengan tulus.