Buku: Tiupan Sanro, Pengobatan Balita Bajo

Sebutan “Etnik Bajo”, umumnya digunakan penduduk di wilayah Indonesia Timur untuk menyebut suku pengembara laut. Menurut orang Bajo, kesakitan terjadi karena adanya ketidakharmonisan dalam hubungan antara sesama manusia, supranatural, serta hubungan dengan Tuhan. Sosok seorang Sanro dipercaya mampu menyembuhkan penyakit.

Etnik Bajo memilih membawa anak yang sakit untuk disembuhkan oleh Sanro dibandingkan memilih pengobatan ke fasilitas kesehatan. Sejalan dengan konsep sakit yang berada di benak orang Bajo, maka ketika seorang anak terkena sarampa (campak dan cacar air) pertolongan pertama bagi anak tersebut adalah memberikan air minum dan tiupan doa oleh Sanro. Pada beberapa kasus setelah diobati Sanro seorang anak akan sembuh. Namun pada kasus lain kondisi sakit pada anak terlambat ditangani secara medis.

Sila free download pada tautan berikuthttps://goo.gl/KXFwcu

20638524_10208271509100053_9059205257511825904_n

Buku: Dilema Program Keluarga Berencana

Bagi masyarakat Aceh Timur, memiliki 10 orang anak bukanlah sesuatu yang aneh. Masyarakat yakin bahwa anak adalah anugerah yang tidak boleh ditolak. Mempunyai banyak anak dianggap tidak masalah karena pengasuhannya dilakukan oleh keluarga besar dan secara ekonomi, anak punya rejeki masing-masing. Namun kenyataan yang ditemukan berbeda. Keluarga luas tidak lagi mampu berperan dalam pengasuhan anak. Tidak jarang ditemukan permasalahan kesehatan akibat anak tidak terurus.

Budaya patriarki membuat semua keputusan berada pada pihak laki-laki. Demikian juga dalam merencanakan jumlah keluarga. Merupakan hal biasa bila suami melarang penggunaan alat kontrasepsi, dengan alasan menghalangi terciptanya anak yang merupakan titipan Ilahi.

Penerimaan masyarakat terhadap keluarga dengan banyak anak, nampaknya juga terkait dengan sejarah panjang rakyat Aceh. Pada masa perang melawan Belanda dan pada jaman DOM, memperbanyak anak diperlukan sebagai upaya eksistensi orang Aceh. Menjadi tantangan tersendiri ketika Program Keluarga Berencana sulit diterima, karena dianggap berasal dari pemerintah yang berada di luar kesatuan hidup komunitas orang Aceh. Ketika petugas kesehatan dipandang sebagai bagian dari struktur pemerintah yang punya misi tertentu. Pertanyaannya adalah bisakah pemerintah bertransformasi menjadi bagian dari kesatuan hidup komunitas orang Aceh?

“Dilema Program Keluarga Berencana”. Riset Etnografi Kesehatan 2015 pada Etnik Aceh di Kabupaten Aceh Timur. Unesa-University Press. 2016.

sila download dimari
https://www.scribd.com/document/333666720/Dilema-Program-Keluarga-Berencana-Etnik-Aceh-Kabupaten-Aceh-Timur

15326500_10206568477525328_7811871109984242947_n

In Yongsan

In Yongsan – Oleh Oh Gyu Won

Masih banyak orang orang konvensional di dunia ini yang meyakini puisi mengandung kisah hebat. Tidak ada yang istimewa di dalam puisi. Hanya mengandung kehidupan kita yang sedikit hebat. Mengandung fantasi orang-orang yang tidak dapat kita abaikan. Sebagaimana kebodohan kita tumbuh di dalam kehendak dan idealisme kita. Begitu pula dengan cinta dan kepercayaan. Demikian juga moral dan keyakinan ku atas mereka. Mereka tidak yakin sejauh keyakinan mereka. Dan pada rerumputan yang indah gulma pun tumbuh. Seperti ala ketidakyakinan cinta itu? Tidak ada yang istimewa dalam puisi. Hanya mengandung kehidupan kita yang masih berlanjut. Dan kehidupan kita yang masih berlanjut berhadapan dengan kita sepanjang waktu. Pada jalan yang menjadikannya sedikit hebat. Mungkin kamu tidak akan mempercayainya tetapi memang tidak sehebat itu.

Going Home

Going home – Oleh Kim Yoon ahn

Pada jalan pulang aku meninggalkan hatimu pada matahari terbenam. Dan aku memikirkan segala yang telah kau lakukan. Aku merasakan kesedihan dan tak ada cara untuk mengetahuinya apa yang akan terjadi esok. Aku hanya bisa memeluk dan mengatakan semuanya akan baik saja. Aku merasa akan ada lebih yang dapat aku lakukan. Menimbulkan ketidak sabaran. Aku merasa sedih atas beban pada hari-hari panjang mu. Ku harap suatu yang baik akan  terjadi esok. Karena kau layak mendapatkan nya. Aku harap beban mu kan menghilang. Aku mendoakannya dengan tulus.

Lily Magnolia

Lily magnolia – Oleh Do Jong Hwan

Aku bahagia karena bertemu dengan mu. Dan aku juga menderita bertemu dengan mu. Ketika aku menghempaskan tubuh ke ranjang selagi memeluk seseorang yang tak lagi memiliki perasaan padaku. Aku merasakan seolah kelopak bunga berjatuhan di kepalaku dari atas ku. Di sebuah lebih Lili magnolia bermekaran Setelah magnolia putih berguguran. Pikiran tentang lily magnolia akan kembali mekar memberiku rasa sakit yang hebat. Sebagaimana aku menyaksikan pohon dan bunga terpisah secara runtun. Sulit bagiku untuk berdiri di samping pohonnya. Rasanya seperti melihat diri sendiri menjadi sosok yang keji. Aku bahagia karena bertemu denganmu aku juga menderita semakin lama karenamu.

I thought it was okay for mother to do that

I thought it was okay for mother to do that (Ku kira ibu baik-baik saja melakukannya) — Oleh Shim Soon Deok

Ku kira ibu baik-baik saja melakukannya. Bahkan jika ia bekerja membandingkan tulang di ladang pertanian. Ku kira ibu baik-baik saja melakukannya. Bahkan meski ia duduk di ubin dan hanya memakan nasi dingin untuk makan siang.  Ku kira ibu baik-baik saja melakukannya. Bahkan meski ia mencuci dengan tangan telanjang dan air dingin ketika musim dingin. Kukira ibu baik-baik saja melakukannya. Aku kenyang aku tidak lapar itulah yang ia katakan meski kelaparan demi keluarganya. Kukira ibu baik-baik saja melakukannya. Bahkan meski telapak kakinya sakit hingga menimbulkan suara berisik dari balik selimutnya. Kukira ibu baik-baik saja melakukannya. Bahkan meski kuku jari yang begitu buruk hingga tak dapat lagi dibersihkan. Kukira ibu baik-baik saja melakukannya. Akan saat ayah mengantuk san pemberontakan kita menyusahkan dirinya. Ku kira ibu baik-baik saja melakukannya. Aku merindukan nenekmu aku merindukan nenekmu. Ku sangka mereka mengatakannya untuk protes. Dia terbangun di tengah malam dan mengisi dalam diam. Ketika melihat ibu seperti itu. Ah, ibu tidak baik-baik saja melakukannya.

Nusantara Ethnographic

24296717_10208931338595378_1781571895484985854_n

Buku Nusantara Ethnographic, yang ditulis oleh para peneliti dan gabungan penulis muda dengan latar public health, epidemiolog, antropolog maupun sosiolog, merupakan langkah cerdas dalam memadukan kompetensi lintas disiplin ilmu yang dapat memperkaya paparan mendalam tentang kondisi kesehatan masyarakat di berbagai belahan Nusantara.
Hal yang menarik adalah pembaca diajak berkeliling Nusantara dalam paduan bahasa kesehatan yang mudah dipahami, serta tidak terbatas sisi sempit konsumen di kalangan akademisi, tetapi juga dapat dibaca oleh praktisi kesehatan masyarakat dalam konteks pemahaman yang lebih mudah dan cepat.
Membaca buku ini juga melahirkan perasaan prihatin akan kepincangan yang tinggi antara kemewahan akses kesehatan bagi sebagian masyarakat, tapi di sisi lain pojok-pojok Nusantara sangat minim pengetahuan dan fasilitas kesehatan masyarakat.
Buku ini luar biasa. Itulah kata-kata yang bisa saya simpulkan!
(Hanifa Maher Denny, SKM., MPH., Ph.D.; Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro Semarang)

Free download https://goo.gl/2v59y3