Tak Dapat Menebak

Pada perjalanan kali ini, aku belajar bahwa kita tidak dapat menebak kehidupan. Kita tidak dapat menebak rencana apa yang sedang dijalankan Tuhan untuk kita dan rencana apa lagi di depan sana. Seluruh nalar, logika, dan perasaan kita sebagai manusia rasa-rasanya tak mampu melampaui lompatan-lompatan peristiwa yang kadang di luar ekspektasi, kadang juga menyedihkan, kadang juga melegakan, kita tidak pernah tahu, dan yang perlu kita ketahui hanyalah kita perlu untuk berserah.

Tenang Bersama Allah

Sore tadi, setelah sekian lama, lupa tepatnya, kalau tidak salah terakhir tahun lalu aku menginjakkan kaki ku ke Ponpes Darush Shalihat untuk mendengarkan kajian Ust. Syatori. Beberapa pekan ini, memang aku sedang dalam kondisi psikis yang kurang baik, mungkin aku lelah dengan rentetan episode kehidupan yang harus aku jalani, sehingga aku butuh sendiri. Annoy menemaniku ke DS tadi sore, motivasiku sederhana, aku ingin mendapatkan ketenangan minimal saat doa bersama dipanjatkan di penghujung kajian. Darush Shalihat bisa disebut sebagai tempat pelarianku ketika aku membutuhkan ketenangan. Dan qadarullah tema kajian hari ini adalah tentang bagaimana memaknai hidup, dan bagaimana caranya mendapatkan ketenangan dalam hidup.

Aku merasa diberkati oleh doa ribuan malaikat yang ujar beberapa riwayat hadist, ribuan malaikat mengiringi mereka yang melangkahkan kakinya menuju majelis ilmu seraya mendoakan kebaikan untuk hamba Allah tersebut.

“..Dan Allah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang yang beriman” (QS: Al-Fath)

Tenang bersama Allah didefinisikan sebagai menjalankan sesuatu yang bersesuaian dengan kehendak Allah. Tenang disini sifatnya bertautnya hati kepada Allah karena cahaya dariNya telah memasuki relung hati kita. Kita melakukan apa-apa yang Allah suka, misalnya: bersiap sebelum adzan tiba, merutinkan dhuha 4 rakaat karena Allah suka, dan lainnya. Disini kita perlu membenahi lagi niat kita, agar apa yang Allah berikan kepada kita dapat kita terima dengan ridho, dan kita pun mengharap ridhoNya. Tenang akan hadir jika kita mensinergiskan antara melakukan apa yang Allah suka, mengharap ridho Allah, dan kita melakukannya (amalan-amalan) dengan sangat suka.

“Hatiku tenang mengetahui bahwa apa yang ditakdirkan untukku takkan melewatkanku, begitu pun sebaliknya” (Umar bin Khattab)

Fade Away

Terkadang cukup sulit bagiku untuk mencoba memahami mengapa orang lain tidak mampu memiliki pemahaman yang baik dalam bertutur dan menempatkan empati pada setiap kondisi yang berbeda. Terkadang aku merasa lelah sendiri ketika berusaha sendirian untuk mencoba mentolerir hal-hal buruk yang orang lain lakukan, entah apakah mereka dengan sadar melakukan itu atau tidak. Terkadang aku bertanya kepada Tuhan, mengapa hanya orang-orang tertentu saja di dunia ini yang mempunyai kepekaan dalam berperilaku dan bertutur, yang mempunyai empati walau sebatas diam tidak berkomentar apapun karena mungkin diam lebih baik, karena terkadang pendapat yang kita punya terlalu “kekitaan” tanpa mau menelisik lebih dalam sudut pandang lain. Bahkan ku fikir seorang psikolog atau psikiater sekalipun punya batas toleransi akan hal-hal yang dapat mengganggu kehidupan mereka. Terkadang, aku ingin sekali menampar diriku, mencoba untuk menyadarkan diri sendiri agar tidak terlalu perasa, agar tidak terlalu punya rasa empati dan simpati yang tinggi, karena terkadang menjadi perasa dan peka dapat berujung pada luka. Aku sedang pada titik terjenuhku sehingga aku ingin menghilang sementara entah sampai kapan. Aku ingin kembali merasakan damainya hidup tanpa sosial media seperti saat aku berada di Touna. Aku ingin menyembuhkan diriku sendiri, dengan menyendiri.

Seperti Hujan

MERAPIKAN KENANGAN

Sore ini hujan turun lagi. Bukan hujan deras, tetapi tidak juga bisa dibilang gerimis. Yang pasti, cukup untuk menahanku meringkuk sendiri di dalam ruang mungil ini, menatap kosong ke luar jendela yang tirainya kubiarkan terbuka.

Hujan turun perlahan, sesekali meliuk serentak ditabrak angin. Di tiap-tiap rintiknya, aku melihat wajahmu, berjatuhan menyerang bumi. Sebagian dari mereka jatuh menabrak genting, menimbulkan bunyi yang juga terdengar seperti bisikanmu. Aku masih ingat bagaimana suara itu terdengar, ketika dulu kau bilang, “Aku sepertinya tak bisa menunggu.”

Kupikir-pikir, kamu itu memang seperti hujan, yang turun ketika ingin turun. Dan pergi jika sudah waktunya pergi. Hujan bisa datang dengan atau tanpa tanda-tanda, dengan atau tanpa aba-aba.

Tidak salah lagi. Kamu betul-betul

Lihat pos aslinya 95 kata lagi

Kau dan Aku; Manusia Penuh Luka

MERAPIKAN KENANGAN

Sebagai manusia biasa, kadang-kadang kau terluka. Kau tak tahu cara menyembuhkannya, tak tahu di mana bisa dapat resep untuk mengobatinya. Yang pertama-tama kau tahu dan yakini, ruang sendiri akan sedikit menenangkanmu. Maka kau mencari sudut terjauh yang bisa kau jangkau, lalu bersembunyi di sana. Menyepi dari keramaian.

Di sudut itu, tak ada yang bisa menemukanmu. Tak ada yang bisa mengajak dan diajak bicara. Tak ada yang terganggu oleh jerit-tangismu. Tak ada yang bisa menertawakan air matamu. Ini tempat yang tepat untuk memulihkan diri, batinmu.

Waktu seperti mengurangi kecepatan berputarnya, membiarkanmu menikmati kesunyian yang perih itu tanpa perlu terburu-buru. Batas antara siang dan malam mulai kabur. Gelap dan terang melebur. Waktu terus melambat … dan semakin lambat nyaris berhenti.

Kamu tersiksa. Tetapi, kamu pura-pura menikmatinya dengan satu keyakinan bahwa di luar sana, di dunia yang sebenarnya, hidup berjalan dengan jauh lebih menyedihkan karena kamu harus jadi ’yang sendiri dalam kerumunan’. Sebatang…

Lihat pos aslinya 174 kata lagi

Orang yang Tepat

MERAPIKAN KENANGAN

Barangkali, kita ini sering salah paham. Kita mengira, untuk menjadi pecinta yang baik, satu-satunya yang dibutuhkan adalah seseorang yang tepat. Seolah-olah, mendapati seseorang yang kita kagumi di sisi kita adalah kunci menuju kehidupan rumah tangga yang bahagia.

Ini seperti seorang calon koki yang mengira bahwa satu-satunya yang dibutuhkan untuk menjadi koki yang hebat adalah bahan makanan pilihan yang mahal dan berkualitas tinggi. Atau seorang yang ingin jadi pelukis, namun yang dilakukannya hanyalah menunggu objek yang tepat. Dengan begitu, dikiranya, ia bisa mencipta lukisan yang indah.

Padahal, kalau kita belajar memasak dengan baik, lalu menjadi koki yang hebat, aneka bahan makanan bisa diolah menjadi masakan lezat. Kalau belajar melukis dengan sabar, objek apa pun bisa jadi karya seni yang tak ternilai. Dengan membangun kemampuan mencintai, siapa pun orangnya, bagaimana pun latar belakangnya, di mana pun dirinya sekarang, kita siap mewujudkan rumah tangga yang bahagia.

Barangkali …

Lihat pos aslinya

Undo

MERAPIKAN KENANGAN

Salah satu manfaat yang paling terasa dari kehadiran komputer adalah betapa mudahnya membatalkan keputusan.

Saat kita mengetik kalimat yang salah, lalu klik ‘undo’, naskah pun kembali seperti semula—kesalahan diperbaiki. Jika kita tak suka akan keberadaan sebuah foto yang di dalamnya kita terlihat gemuk, kita tinggal menekan ‘delete’. Lalu, seandainya kita tak sengaja menghapus sebuah dokumen penting, kita hanya perlu membuka recyclebin, klik ‘restore’. Maka, simsalabim, dokumen terselamatkan.

Sayangnya, hal demikian tak selalu berlaku dalam kehidupan.

Dalam hidup, ketika kita melakukan kesalahan—misalnya melukai hati seseorang, tak ada tombol ‘undo’ yang bisa ditekan. Mau tidak mau, kita harus meminta maaf. Itu pun, tentu tak memperbaiki segalanya.

Kita juga tak bisa begitu saja menghindari tanggung jawab, hanya karena hal tersebut tak menyenangkan buat kita. Sebab, beberapa hal dalam hidup memang tak selalu berjalan sesuai keinginan.

Dan yang paling disayangkan, ketika

Lihat pos aslinya 54 kata lagi