Di Akhir Malam Nanti, Jangan Lupa Sampaikan Harap

Hidup kita menyimpan banyak harap, asa dan cita cita. Kita dikelilingi beragam keinginan dan kehendak, yang di padu sejumlah kebutuhan sebagai sarana. Ada harapan hidup dengan materi berkecukupan. Ada asa memiliki keluarga yang harmonis dan bahagia. Ada cita cita sukses dalam karir dan pekerjaan. Ada keinginan memperoleh kedudukan dan jabatan.
 
Hari-hari kita habiskan untuk mewujudkan sejumlah keinginan itu. Dua puluh empat jam waktu kita, seperti tak mencukupi untuk mengejar semua mimpi itu. Lelah yang mendera, tak kita hiraukan. Meski yang kita kejar belum jelas terlihat ujungnya.
 
Memiliki banyak keinginan dan harapan, tentu memiliki sisi baik. Sebab harapan dan asa itulah yang mendorong kita untuk selalu berusah dan berusaha. Cita citalah yang memaksa kita untuk senantiasa bekerja keras dan tak henti berbuat, meski tidak selalu mudah. Apalagi banyak cita-cita. Rasanya, duapuluh empat jam waktu kita terasa tidak cukup. Tapi tahukan kita, bahwa sebenarnya Allah swt menyediakan sepotong waktu yang sangat berharga untuk mewujudkan segala harap yang ada di kepala kita. Dan itulah sepertiga malam, yang lebih sering kita lewatkan.
 
Di Sana, Sampaikan Harap Kita untuk Karunia yang Melimpah
                Jika kita berharap Allah menambah karunia dan nikmat-Nya kepada kita, temuilah Allah di akhir malam nanti. Temuilah Allah di waktu malam, sebab hal itu bagian dari besarnya ekspresi syukur kita kepada-Nya. Dan bangun di tengah malam adalah waktu yang paling tepat untuk bersyukur, ketika kebanyakan manusia justru terlelap dalam tidurnya. Dan tidak ada syukur kecuali akan menjadi sarana menjaga karunia dan membuatnya bertambah.
                Perhatikanlah Rasulullah saw yang berdiri melakukan shalat hingga kedua kakinya bengkak. Ketika Aisyah ra berkata, “Ya Rasulullah, bukankah Allah telah mengampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang?” Beliau menjawab rasa heran itu, “Apakah aku tidak suka disebut sebagai hamba yang banyak bersyukur?” (HR. Bukhari)
                Hadits ini adalah bukti kuat betapa qiyamullail adalah sarana paling besar untuk menyampaikan syukur dan terimakasih, dan siapakah di anatara kita yang tak menerima karunia dari Allah? Nikmat dan karunia-Nya  terasa di setiap waktu, nyata dari yang kecil hingga yang besar. Dalam rezeki yang kita makan, kesehatan yang kita nikmati, pada anak-anak kita, hidup kita dan setiap kosa kata yang terkait dengan itu. Bahkan, yang tidak tampak lebih banyak dan jauh lebih banyak. Karena itu bersyukur untuk semua karunia itu wajib bagi kita disetiap waktu dan keadaan. Dan orang yang paling berhak mendapat tambahan nikmat adalah orang yang paling banyak bersyukur. Sedang waktu bersyukur yang paling tepat adalah ketika Sang Pemberi Nikmat mendekat dan turun ke langit dunia. Karena itu Rasulullah saw menjelaskan alasan bangun malam: “Apakah aku tidak suka disebut sebagai hamba yang bersyukur?” Atau “Apakah aku tidak bersyukur kepada Allah azza wa jalla.”
                Maka bangunlah kita malam nanti. Niatkan untuk berdzikir kepada Allah, untuk meminta ampun, untuk bersyukur, karena nikmat nikmat-Nya yang terbentang di hadapan kita. Dengan itu Allah mencurahkan keberkahan-Nya kepada kita, kepada harta,  kesehatan, keluarga, anak, rumah, dan keadaan kita secara keseluruhan.
 
Di Sana,  Sampaikan Harap Kita untuk Lepas dari Kesulitan dan Desakan Kebutuhan
                Kita hidup menanggung banyak kebutuhan. Tak ada sedetik pun dari kehidupan kita yang lepas dari kebutuhan. Kita butuh makan, butuh minum, butuh tempat tinggal, butuh pekerjaan, butuh rasa aman, butuh kebebasan,  dan butuh yang lain–lain. Kebutuhan kita banyak, dan ada sepanjang hidup kita masih ada. Namun kita sering lupa, bahwa apa pun kebutuhan kita sebenarnya semua bertumpu kepada Allah swt. Sebab Dialah yang memberi, Dialah yang mencukupi.
                Karena kita kerap lupa, maka sering kali kita dibuat panik oleh kebutuhan. Kesulitan pun menerpa kita. Suatu kali mungkin kita pernah merasa sangat perlu terhadap sesuatu, dalam waktu yang sangat cepat, sementara kita tidak tahu harus kemana meminta bantuan, tidak mengerti harus kemana mencari jalan keluar. Padahal Allah Yang Maha Penyayang, dalam keadaan apapun selalu bersama kita. Dalam keadaan berdaya Dia ada bersama kita. Dalam keadaan kita sedang tidak berdaya, pun sebenarnya Allah lebih dekat lagi dengan kita. Dia akan membantu kita kapan saja, terlebih jika kita datang menjumpai-Nya di akhir malam.
                Seseorang bercerita, di suatu malam menjelang pernikahannya ia didera kebingungan yang sangat karena ternyata masih ada beberapa hal penting terkait dengan resepsinya esok hari yang harus ia biayai, sementara saat itu ia benar benar sudah kehabisan uang. Ada biaya keamanan dan kebersihan, ada biaya transportasi untuk penghulu, ada biaya penginapan untuk beberapa keluarganya, yang semuanya belum jelas darimana harus mendapatkannya.
                Ketika mengadukan keadaan itu kepada orang tuanya, ayahnya hanya tersenyum dan berpesan untuk bangun di akhir malam dan melaksanakan shalat tahajud.  Merasa tak ada jalan lain, nasehat itu dia lakukan.
                Di akhir malam, ia bangun lalu mendirikan shalat. Khusyuk, dan diliputi perasaan tak berdaya. Usai shalat, ia tengadahkan kedua tangannya. Ia sampaikan harapannya. Ia adukan kebutuhan dan keterbatasannya. Dengan tulus ia minta dimudahkan segala urusannya besok pagi. “Saya berserah diri kepada Allah seraya berdoa agar diberikan rezeki karena akan menikah besok. Saya pun berdoa sambil menangis sesegukan memohon ampun kepada-Nya. Segala ikhtiar sudah ditunaikan, sekarang saatnya saya berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Semoa Allah mengabulkan segala permintaan saya yang akan menikah esok,” cerita orang itu.
                Keesokan harinya, setelah menunaikan shalat Shubuh di masjid, dari dalam rumah dia mendengar pagar rumah diketuk seseorang. Ketika melongok, di luar sana terlihat pengurus masjid hendak bertamu ke rumahnya.
                “Saya lalu mempersilahkan orang itu masuk ke ruang tamu. Setelah berada di ruang tamu, kami mengobrol sebentar , lalul tiba tiba saja orang itu memberikan saya ampolp yang berisi uang. Jumlahnya pas sekali dengan yang saya butuhkan. Subhanallah, Alhamdulillah, allahu akbar. Say amengucap syukur kepada Allah. Ternyata di pagi hari itu, Allah memberikan rezekinya lewat bapak itu dan beberapa pengurus masjid yang lain, karena tidak bias hadir dalam pernikahan saya, ” tutur lelaki itu menyambung cerita.
                Jika kita sedang dalam desakan kebutuhan, atau ada hajat yang kita kehendaki, di akhir malam nanti, cobalah bangun. Jangan lupa sampaikan harap kita untuk lepas dari desakan keadaan. Karena disana Allah sedang turun ke langit dunia, membentangkan karunia-Nya kepada siapa saja yang meminta.
 
Di Sana, Sampaikan Harap Terhadap Ampunan dan Kemuliaan-Nya  
                Dosa dan kesalahan itu adalah kegelapan. Perilaku kita yang sulit lepas dari dosa dan kesalahan, ibarat polusi yang setiap saat menambah kelabu cerahnya awan kehidupan kita. Semakin banyak dosa yang kita perbuat, semakin gelap hidup ini, dan semakin jauh pula kita dari Allah swt.
                Meski mungkin kita tidak menyadari, sebenarnya koleksi dosa dan kesalahan itu membuat dunia kita terasa sempit. Bahkan, boleh jadi sebagian kegagalan kita karena pengaruh dosa dan kesalahan itu. Namun begitu kita tidak perlu berputus asa, sebab Allah swt setiap saat mengulurkan tangan-Nya untuk menyambut kita kembali menerima pengakuan tulus kita terhadap dosa-dosa yang dilakukan, khususnya di sepertiga malam yang akhir.
                Jika kita ingin hidup dalam kecerahan dan keceriaan, kelapangan dan kemudahan, di sana ampunan Allah menanti. Bahkan sebenarnya ampunan itu datang mendatangi kita, tapi kadang kita tidak mengerti, sehingga lebih memilih berselimut daripada bangkit. Abu Musa Al Asy’ari mengatakan, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah swt membentangkan tangan-Nya di waktu malam, untuk menerima taubat si pelaku dosa di siang hari, dan membentangkan tangan-Nya di waktu siang untuk menerima taubat si pelaku dosa di waktu malam, hingga matahari terbit dari tempat tenggelamnya” (HR. Muslim)
                Memang tangan Allah swt selalu terbentang untuk orang-orang yang meminta ampun, di malam ataupun di siang hari. Akan tetapi. Istighfar di waktu malam lebih utama daripada istighfar di waktu siang, tetntu karena keutamaan dan keberkahan waktu sahur. Sebab Allah swt memberikan pujian-Nya pada orang-orang yang meminta ampun di malam hari, seperti disebutkan dalam firman-Nya, “Dan orang-orang yang memohon ampun di waktu sahur” (QS. Ali Imran: 17)
                Keutamaan itu mungkin karena kita lebih sulit bersitighfar di waktu sahur, maka Allah pun mengagungkannya. Disaat itu ada orang yang merasa berat meninggalkan tempat tidurnya karena nikmatnya tidur dan memelihara kantuk, sehingga tidak memperdulikan jawaban dan pengabulan-Nya. Padahal saat itu, Allah swt turun ke langit dunia dan mendekat kepada orang-orang yang meminta ampunan. Tak ada keraguan, bahwa turunnya Allah membawa keberkahan yang melimpah, yang memenuhi doa-doa orang-orang yang memohon dan taubat orang-orang yang meminta ampun.
                Kita yang melampaui batas dan banyak melakukan dosa, yang merasakan betapa sempitnya hidup ini, bangunlah! Bisikanlah dalam sujud kita dengan penuh kepasrahan dan kekhusyuan, dengan mengucap, “Astaghfiruka wa atubu ilaika. Rabbighfirli warhamni wa anta khoirurrahimin. La ilaaha illa anta subhana inni kuntu minazh zhalimin. Allahumma inni zhalamtu nafsi zhulman illa anta., faghfirli maghfiratan min’indika, warhamni innaka antal ghofururrahim”
                Jika siang tadi kita banyak mengumpulkan dosa, jangan lupa. Sekali lagi, jangan lupa. Di akhir malam nanti bangunlah mengharap ampunan Allah. Sebab ampunan-Nya telah menunggu kita. Sampaikan keinginan kita untuk diampuni, karena Dia Maha Mendengar dan Maha Menerima taubat kita, terlebih disana, di ujung malam nanti. Sebab itulah yang selalu dilakukan orang-orang shalih. Seperti itulah kebiasaan mereka, sehingga kebahagiaan dan keceriaan selalu meliputi kehidupan mereka. Rasulullah  saw bersabda, “Hendaklah kalian melaksanakan shalat malam karena shalat malam itu merupakan kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian; ibadah yang mendekatkan diri kepada Tuhan kalian, menutup kesalahan dan menghapus dosa” (HR. Tirmidzi)
               
Di Sana, Sampaikan Harap Kita untuk Terbebas dari Kegelisahan
                Tidak ada orang yang ingin hidupnya gelisah, batinnya tersiksa atau jiwanya merana. Yang diinginkan pastilah hidup tenang, tentram dan bahagia. Itu pula harapan dan keinginan kita semua. Tapi pertarungan yang setiap hari kita jumpai, di jalan jalan-jalan, di tempat kerja, dan dalam kondisi-kondisi yang rumit, membuahkan kegelisahan di jiwa.  
                Namun begitu ada solusi yang disediakan Allah swt untuk kita. Di sudut malam yang Dia hamparkan. Di pojok kegelapan yang membuat kebanyakan manusia lebih memilih terlelap dalam mimpinya. Bersama tahajud yag didirikan, bersama tilawah Al Quran yang kita lantunkan. Bersama dzikir dan munajat yang kita panjatkan, Allah menghampiri kita dengan ketenangan dalam jiwa.
                Qiyamullail kita di saat itu, yang dikerjakan secara ikhlas dan berkesinambungan mampu menekan stress yang kita alami. Ibnu Qayyim mengatakan, sebagian orang yang melakukan shalat kepada Allah, seperti orang yang memasuki sebuah istana raja. Tirai penghalang di hadapannya dibuka sehingga ia bisa merasakan sejuknya memandang kepada si raja, si pemilik istana. Ia bisa merasakan nikmatnya berdiri, berkhidmat dan menaatinya.  Raja kemudian memberinya hadiah bermacam-macam, setidaknya perasaan tenang dan damai berada di dekat raja tersebut. Karenanya, ia tidak ingin segera berpaling dari situasi itu. Perasaan nikmat dan kesejukan pandangan matanya, serta penerimaan raja kepadanya. Ia terus menerus memanjatkan munajat. Lalu ia memperoleh hadiah dari berbagai sisi. Seperti itulah orang yang melakukan shalat dengan khusyu; merasakan kebahagiaan dan refreshing saat menghamba kepada Allah swt.
                Shalat menyimpan kenyamanan, ketentraman dan kebahagiaan. Karena shalat seluruhnya berisi dzikir dan doa, sebagaimana dirumuskan Al Quran, pasti memberi warna yang terang dalam batin yang akan tertuang lewat kejernihan berpikir dan kelapangan menyikapi berbagai persoalan. Jika kita berharap terbebas dari stress, gelisah dan gundah gulana, dan menginginkan kebahagiaan, ketentraman dan kejernihana dalam hidup kita, jangan lupa di akhir malam nanti. Bangunlah dan berdirilah, temuilah Allah Sang Pemilik kebahagiaan dan ketenangan, lewat shalat malam, munajat dan tilawah Al Qurandi keheningan malam, di ujung kegelapan.
 
Di Sana, Sampaikan Harap Kita untuk Sembuh dari Sakit Yang Mendera
                Sebuah buku berjudul “Home Tested Recipes and the Secrets of Natural Healing”, yang di tulis tahun 1993 oleh beberapa penulis Amerika, menyebutkan bahwa bangun dari tempat tidur di tengah malam lalu melakukan gerakan-gerakan sederhana di dalam rumah, serta kemudian melakukan latihan olah raga yang ringan, memijat ujung-unjung kaki, tangan dan anggota badan yang lain dengan air, melakukan pernapasan, ternyata semua hal tersebut memberi manfaat yanga sangat banyak untuk menjaga kesehatan.
                Perhatikan sejenak saran-saran tersebut di atas. Di sana akan kita temukan bahwa ternyata semua itu nyaris sama dengan perilaku wudhu dan shalat yang dikerjakan di sekitar malam, seperti apa yang telah diajarkan Rasulullah saw.  Bahkan beliau sudah terlebih dahulu mengajarkan dan mempraktekannya lebih dari empat belas abad yang lalu., dan itulah baranga kali salah satu rahasia qiyamullail yang di sunahkan dalam agama kita. Bealiau saw bersabda, “Hendaklah kalian melakukan qiyamullail karena hal itu adalah kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian, taqarrub kepada Allah azza wa jalla, menghapus dosa, penebus bagi perbutan-perbuatan buruk, dan mengusir penyakit dari tubuh.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
                Sorang mahasiswa di sebuah universitas di Yogyakarta, beberapa tahun lalu ia pernah menderita penyakit hepatitis C yang cukup akut. Akibat penyakit itu, tubuhnya menjadi sangat kurus, bahkan terlihat sangat sulit bernapas. Dokter yang merawatnya bahkan mengatakan kalau ia sudah kecil kemungkinan untuk sembuh. Dijelaskan kepada mahasiswa tersebut, bahwa usianya mungkin tidak akan bertahan lama.
                Meski divonis sudah tidak akan berumur panjang, namun ia tidak pernah terlihat berputus asa. Dia berusaha mengobati penyakitnya dengan setiap malam mengerjakan  shalat Tahajud. Hanya itu yang bisa ia lakukan., karena dokter sudah menyatakan kepasrahan.
                Setiap malam, di ujung gelap, dia bangaun dan menunaikan shalat dan menyampaikan harapannya untuk sembuh. Tiga tahun kemudian, mukjizat Allah berbicara. Ketika sedang berada di Jakarta dalam sebuah kunjungan, kesehatannya telah pulih, tubuhnya gemuk dan wajahnya terlihat segar dan berseri. Allah memberikan kesembuhan kepadanya setelah lama menderita sakit, lewat shalat Tahajud yang selalu ia tunaikan setiap malam.
 
Di Sana, Sampaikan Harap Kita untuk Meraih Kemuliaan
                Semua kita tentu ingin hidup mulia, dihargai dan bermartabat. Bukan kemuliaan yang diperoleh lantaran kita keturunan bangsawan, penguasa, pejabat atau status apa saja, tetapi karena kemuliaan yang disematkan Allah swt kepada kita lewat prestasi-prestasi amal shalih yang kita lakukan. Sebab itulah kemuliaan yang diterima Bilal ketika Rasulullah mendengar terompahnya di surga, meski awalnya hanya seorang hamba; atau seperti kemuliaan nenek si penyapu mesjid yang kematiannya dihadiahi shalat Ghaib oleh Beliau saw, atau seperti kemuliaan seorang budak belian yang doanya mengundang turunnya hujan di kota Makkah setelah dilanda kemarau panjang di Ibnul Mubarak.
                Kemuliaan itu hanya milik Allah swt, dari Allah dan untuk Allah. Maka kita tak perlu mencari kemuliaan itu dari selain-Nya, tapi carilah dari-Nya. Sebab siapa saja yang Dia muliakan tak ada yang sanggup menghinakannya, dan siapa saja yang Dia hinakan tak ada yang sanggup memuliakannya.
                Tentu banyak cara untuk mendapatkan kemuliaan-Nya. Tapi kita perlu tahu, bahwa Allah swt meletakkan sebagian kemuliaan-Nya di akhir malam. Allah swt berfirman, “Dan pada sebagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al Isra: 79)
                Salim, salah seorang putra Abdullah, kemudian berkata, “Setelah itu, Abdullah tidak lagi tidur di waktu malam kecuali hanya sedikit.”
                Di sana, di kahir malam Allah menanti kita. Sahl bin Sa’ad ra mengisahkan, “Pernah Jibril datang menemui Nabi saw lalu berkata, “Hai Muhammad, hiduplah sesukamu karena kau pasti akan mati. Cintailah siapa saja orang yang kau suka karena sungguh kau akan berpisah dengannya. Berbuatlah sesukamu karena sesungguhnya kau dibalas dengan perbuatanmu itu. ” Jibril melanjutkan ucapannya itu, “Hai Muhammad, kemuliaan orang beriman adalah dengan shalat malam. Dan kegagalan orang beriman adalah ketergantungannya dengan orang lain” (HR Hakim)
                Kemuliaan yang diperoleh seorang mukmin melalui shalat malam, tidak hanya menyangkut kedudukannya. Tapi juga memuliakan dan memperindah tampilan fisiknya. Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Sesungguhnya shalat malam itu dapat memberikan sinar yang tampak di wajah dan membaguskannya.”
                Bahkan, disebutkan pula oleh Ibnu Qayyim, bahwa ada sejumlah istri yang melakukan shalat malam. Ketika mereka ditanya mengapa mereka melakukan hal itu, mereka menjawab, “Shalat malam itu dapat mempercantik wajah dan kami senang jika wajah kami menjadi lebih cantik ”
                Jika kita juga punya harapan mendapat  kemuliaan dari-Nya, maka di akhir malam nanti, bangunlah. Tanggalkan selimut kita, tinggalkan peraduan dan beranjaklah mengambil air wudhu. Setelah itu, tunaikan shalat beberapa rakaat dan berdoalah. Semoga Allah menambah kemuliaan kita.
 
Di Sana, Sampaikan Harap Kita untuk Mendapatkan Surga-Nya
                Asa kita yang paling tinggi, tertuju kepada surga. Tentu setelah ridha Allahswt dan cinta-Nya. Setiap kita pasti ingin perjalanan hidupnya berakhir disana. Maka tanyalah kepada semua orang beragama, yanga beriman kepada Allah atau tidak, semua tentu berharap surga menjadi stasiun akhir bagi kehidupannya.
                Tapi meraih surga tentu tidak mudah. Setelah iman, kita harus membuktikannya dengan usaha dan kerja keras, lewat ibadah dan amal-amal shalih. Sebab tidak ada cita-cita yang diraih tanpa usaha. Tidak ada impian yang diperoleh atanpa kelelahan, terlebih surga yang merupakan puncak dari segala kesungguhan dan pengorbanan, serta balasan dan perhitungan.
                Maka orang-orang yang benar asanya, kuat harapnya, dan jujur pada cita-citanya untuk mendapatkan surga, akan melakukan untuk mendapatkannya. Perhatikanlah pujian Allah kepada mereka, “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka diantara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).” (QS. Al Ahzab: 23)
                Jika kita tidak memilih gugur, mudah-mudahan kita termasuk orang yang menunggu, yang selalu memegang teguh janji dan asa itu, dan menjadikan qiyamullail di penghujung malam sebagai salah satu cara untuk meraihnya. Sebab orang-orang yang membiasakan shalat malam adalah orang-orang yang berbuat ihsan dalam ibadah, sehingga layak untuk medapatkan rahmat dan surga. Al Quran menyebutkan, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa ada di dalam surga dan dekat dengan air yang mengalir. Sambil mengambil apa yang diberikan oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum ini di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik (ihsan). Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah.” (QS. Adz Dzariyat: 15-18)
                Allah manjadikan bangun dan shalat malam kita sebagai kendaraan menuju kesana, Allah mengangkat derajat hamba-Nya dengan itu, menyediakan kamar-kamar istimewa Karena bagun malam. Diriwayatkan dari Abu Malik Al Asy’ari ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “Sungguh dalam surga terdapat kamar-kamar yang bagian dalamnya terlihat dari luar dan bagian luarnya terlihat dari dalam. Kamar-kamar itu Allah sediakan untuk oaring yang memberi makan, melembutkan perkataan, mengiringi puasa ramadhan, menebar salam dan sibuk dengan shalat malam disaat manusia terlelap tidur” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
                Abdullah bin Salam ra pernah bercerita, “Pada waktu Rasulullah saw tiba di Madinah, orang-orang menyambut dengan ucapan, “Rasulullah saw tiba! Rasulullah saw tiba! Begitulah suara teriakan terdengar. Aku pun datang bersama banyak orang, Karena ingin melihat Beliau. Setelah bisa melihatnya dengan jelas, akupun tahu bahwa wajah Beliau bukanlah wajah pendusta. Dan sabda Beliau yang pertama kali aku dengar adalah, “Wahai manusia, sebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah kekerabatan dan shalatlah disaat manusia terlelap tidur pada saat malam  niscaya engkau akan mendapatkan surga, kampung keselamatan ” (HR. Ibnu Majah)
                Maka jika kita punya harap yang kuat mendapatkan surga, bangunlah  di akhir malam nanti. Sampaikan harap kita disana, lewat shalat, tilawah dan munajat kita kepada-Nya. Semoga setiap keinginan, harap dan cita-cita kita, segera diwujudkan Allah swt.
 
Diambil dari majalah Tarbawi
Edisi 251 kolom Dirosat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s