Kapal Pinisi dalam Botol Kaca

Imagel

botol kaca diatas adalah salah satu hadiah yang saya dapatkan sepulang dari Makassar, tentunya saya merasa bahagia bila melihatnya, bukan karena bentuknya, ataupun harganya, namun karena kenangannya..

hari itu dipenghujung tahun 2011, saya mengenal seseorang yang kini menjadi kenalan baik saya, gadis itu bernama Chitra Dewi Rasyid, usianya beberapa tahun dibawah saya, kami berkenalan melalui jejaring sosial, ya lagi-lagi karena urusan organisasi, dia memiliki kepribadian yang unik, seorang gadis sanguin yang penuh antusias dalam mengenal organisasi, dan dia friendly i think, ya i just read her by our conversation in social media, tepatnya bulan november, saya mempunyai proyek yang harus dikerjakan di makassar, dan saya mengabarinya, karena seperti biasa, setiap kali keluar kota, saya tidak pernah melewatkan kesempatan untuk keliling beberapa kampus, ini menjadi kebiasaan yang saya lakukan sejak tahun 2010, saya hanya punya waktu 3-4 hari di makassar, dengan jatah untuk proyek saya selama 2 hari, dan 2 hari lagi untuk bersilaturahmi, melihat keadaan kampus-kampus, dan menyelesaikan hal-hal lain. Chitra dengan penuh antusias mengajakku untuk mendatangi kampusnya, mengenalkan organisasi ini kepada pengurus HIMAnya, oh, pengurus HIMA saja batinku, jadi aku iyakan, walau sebenarnya aku tidak yakin apakah aku mempunyai space waktu longgar untuk Chitra dan kampusnya.. aku mulai belajar untuk tidak sering bilang “iya” sejak lelaki yang aku cintai itu mengatakan padaku bahwa aku terlalu baik, terlalu polos dengan mudahnya mengatakan “iya” ketika seseorang meminta sesuatu dariku, tapi untuk kasus Chitra entah mengapa aku juga bilang iya, walau sebenarnya aku tidak begitu bergairah untuk mengerjakan banyak hal di makassar saat itu. Kepalaku serasa mau pecah, mengerjakan ini itu, apa lagi sebelumnya aku mobile dari beberapa kota, ya dalam satu hari aku berada di tiga kota sekaligus, yogya-jakarta-lalu makassar, aku tiba di makassar pukul 1 pagi, dan besok paginya aku harus bangun pagi-pagi sekali menyiapkan segala tugasku untuk urusan proyek, dan bekerja full sampai sore, malamnya aku janji ke unhas, dan di unhas aku bertemu dengan lelaki-lelaki itu yang sebagiannya suka menggombal, namun ya, seburuk apapun mereka, walau mereka masuk dalam list orang-orang yang cuma bisa ngomong doank, tapi mereka tetap saja menjadi bagian yang mengisi kenangan.. dan lalu aku kembali ke hotel pukul 24.00, membuka laptop, menatapi powerpoint presentasi, yang bahkan aku belum membaca lagi, sedangkan siang esok harinya aku harus ke kampusnya Chitra. well, entah mengapa malam itu serasa gak punya tulang, mungkin karena kelelahan, dan aku memutuskan untuk membaca-baca, sambil menyelurup secangkir teh hangat, dan menegak beberapa obat, seperti biasa. aku bangun pukul 8 pagi, karena teman sekamarku penerbangan pukul 10, dan aku hanya bangun sebentar lalu tidur lagi, semacam gak punya tenaga dan melewatkan makan pagi begitu saja, aku tahu aku pasti terlambat ke kampusnya Chitra, tapi memang itu kebiasaan burukku, aku adalah seorang deadliner, bagiku kalau masih bisa tidur sesaat ya gak pa2 nanti bangunnya tergesa-gesa. LoL. atau dalam bahasa lain sebagian orang yang pernah sekamar denganku akan bilang kalo aku tipikal putri solo, at least aku bukan putri solo, hanya saja setelah bangun tidur itu semacam belum sadar sepenuhnya, jadi agak malas berbuat segala sesuatu hal. ya aku demam semalaman, dan ini benar-benar worst dengan agenda seharian itu, siang aku harus ke tempat Chitra, lalu sore ke kampus-kampus, aigooo it’s impossible i think, dan janji adalah janji, ngesot ke kamar mandi lalu berganti pakaian, dan check out, malangnya tidak ada jatah makan siang.. sungguh kelaparan, namun syukurnya sebelum ke kampus Chitra, aku singgah dulu membeli sop konro bakar, sugooi sugee, enak T__T, dan makan pun tidak tenang sambil memikirkan ekspektasi orang yang menunggu, dan mungkin mereka akan mikir kalo aku sok penting banget segala pake telat, yaa, menjadi sok penting tidak ada dalam kamusku, aku hanya hanya hanya plegmatis untuk urusan hidupku — aigoo aku teringat seorang adik kecil tukang parkir di rumah makan itu, perempuan, entah kenapa aku selalu gak tegaan untuk banyak hal, lelaki yang kucintai mengatakan kalau aku ini sensitif. anak perempuan itu, kelas 4 SD, dan dia seorang tukang parkir di rumah makan terkenal di makassar.

ya, aku terlambat 2 jam ke kampusnya Chitra, dan moodku hari itu benar-benar random, kalo kelelahan aku memang jadi manusia flat seketika, siang hari itu kami berkenalan, dan dia sedikit gugup i think🙂, dia bilang kalau dia adalah salah seorang fansku, aku ketawa dalam hati, dan berucap dalam hati, bagaimana bisa cewek unorganized life kayak aku punya fans aigooo dari sudut pandang mana, mungkin karena aku benar-benar menyadari kalo aku benar-benar MESSED. seperti biasa aku mengandalkan sikap coolku yang alamiah, tsaaah, dan mendadak shocked ketika masuk ke ruangan besar dengan mereka yang sudah menungguku disana, speechless iya, karena ini diluar bayanganku, (boleh aku pingsan sebentar), sembari keringat sudah menetes-netes karena menahan grogi, bicara di depan umum adalah pekerjaan yang paling tidak saya sukai, dan saya harus melakukannya siang itu, dan mereka sangat antusias, sangat antusias, miris, karena mereka masih mempunyai antusias sebesar itu sedang aku tidak mempersiapkan apa-apa, as always, aku hanya berusaha terlihat keren. sorenya aku pergi ke kampus lain dengan Chitra dan temannya, aku lupa namanya, aku mempunyai ingatan yang buruk. kemana-mana naik taksi semoga mereka gak ngira aku anak manja, hanya saja benar-benar tak bertenaga untuk naik turun angkot.berbeda tidak seperti di dunia maya, saat bertemu denganku, Chitra tidak banyak cakap, begitupun dengan aku, aku memang tipe orang yang gak suka banyak bicara, yah semacam itu, maghribnya kami singgah lagi di kampus Chitra, dan entah mengapa berada di kampusnya Chitra itu semacam menenangkan, bangunannya hampir mirip dengan UNRIYO ataupun UNIMUS, aku jadi merindukan anak-anakku, aku merindukan anak-anak dan ayahnya. 

sebelum aku pulang ke yogya, Chitra memberikan ku sesuatu, ya aku baru membukanya di dalam bandara dan barang ini unik, kapal pinisi dalam botol kaca, terimakasih ucapku dalam hati seraya mendekap almamater lelaki yang ku cinta erat-erat. Fin.

4 comments

  1. your welcome lafi🙂
    makasih banyak sudah nyimpan botol kaca itu,
    saya pun belum pernah liat wujud asli dari botol kacanyaa
    bersyukur sekali lafi masih simpan dan suka sama hadiah itu…
    yah, walaupun ga seberapa harganya
    semoga bisa jd kenang2 yg indah🙂
    kalaupun toh wkt kita ketemu ada kesan yg buruk, silahkan buang yaa, yg baik2 nya saja yang di ingat🙂
    semoga masih bisa bertemu di dunia nyata lafi sayangg
    di lain kesempatan dan lain waktu
    *bersyukur bisa kenal lafi sampai saat ini*🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s