Cerita Tentang Rapinya Skenario Allah

Saya adalah seorang introvert, lebih banyak menghabiskan waktu untuk menyendiri, ya itulah saya.. Dan saya selalu meyakini bahwa skenario yang dibuatNya selalu indah dan tertata rapi apapun itu.. misalnya Dia menakdirkan saya menjadi aktivis di masa SMU dulu, mengurusi organisasi selama 2 tahun, berinteraksi dengan sesama aktivis lainnya, dan memikul banyak beban karena pemimpinnya bisa dibilang kurang bertanggungjawab, Dia sudah mentarbiyahi diri ini dengan keras dalam dunia organisasi sejak SMU dulu.. Tiba masa kuliah, bukankah rencanaNya begitu indah, bahkan saya tidak pernah menyangka bisa mempunyai kesempatan untuk kuliah, tepat satu bulan setelah saya menjadi mahasiswa, saya diundang langsung oleh Ketua BEM periode itu untuk masuk BEM Fakultas, dan mengisi salah satu Dinas yang kata beliau Dinas tersebut insyaAllah cocok dengan saya dan bisa melejitkan potensi saya, saya berfikir saat itu, bagaimana bisa dia mengetahui potensi dan track record saya, sedang dia tidak tahu siapa saya, kenalan pun belum pernah, dan setau saya untuk memasuki organisasi sekelas BEM Fakultas itu harus melewati beberapa tahap seleksi yang bisa dibilang tidak mudah, dan beliau hanya menjawab dengan singkat “Oh, saya hanya membaca biodata yang kamu tulis saat ospek kemarin”, dan beliau menambahkan “Selamat Datang di BEM FKM, dan menjadi penjaga Dinas Sosial dan Politik”, what?!, tanpa menanyakan kesediaanku, orang ini langsung dengan percaya dirinya berkata seperti itu, dan apa yang ada di otakku saat itu ketika mendengar dua kata itu –> Sosial Politik, kayak semacam cukup pelik dan serius. ya jadilah saya seorang semester satu yang harus belajar banyak hal, dan entah kenapa Ketua BEM itu senang sekali membuat saya sengsara, ya itu persepsi saya waktu itu, beliau memberikan sata tugas ini dan itu, mengerjakan ini dan itu, banyak sekali dan harus dikerjakan dalam hitungan jam, saya bilang beliau itu sejenis pemimpin yang menyebalkan, karena saking sebalnya, tak jarang saya menangis karena pening dan kelelahan oleh tugas-tugas BEM, beliau juga sering bercerita dan mengajari saya tentang beberapa strategi berpolitik, menyuruh saya belajar ini itu dan lalu esoknya saya harus berdiskusi dengan beliau, lalu tak jarang tiba-tiba beliau bertanya “ada masalah apa di Dinas A,B, dan C?”, ya semacam ingin mengetahui tingkat respon saya atau kepekaan saya terhadap kondisi Dinas-Dinas lain mungkin, setahun berlalu, saya masih seorang gadis manja, ya benar-benar tipikal manja, namun saya belajar banyak hal setahun itu, dan mungkin orang tetap akan memandang saya sebagai anak manja..

Setelah setahun berlalu, ternyata Allah menakdirkan saya menjadi Ketua BEM Fakultas, menggantikan kakak yang saya ceritakan tadi, mana pernah menyangka, hanya bermodal nekad dan sedikit pengalaman, saya harus menjalankan organisasi sebesar itu, BEM Fakultas kami menduduki peringkat kedua sebagai BEM berprestasi setelah BEM Farmasi, apakah saya sanggup menjadikan BEM ini berprestasi di tangan saya?, dan kakak saya itu selalu berpesan “keberhasilan kepemimpinan bukan dilihat saat kamu menjabat, namun bagaimana periode setelahmu berjalan, hidup atau mati..”, begitu banyak masalah yang saya hadapi selama menjadi Ketua BEM, dan mungkin hampir setiap hari saya menangis, maklum tipikal melankolis, dan saat itu saya menyadari bahwa tipe kepemimpinan saya otoriter, saya mau semuanya berjalan sempurna, sangat detail dalam menjalankan program, sangat detail dalam pengelolaan keuangan, di tahun itu saya sangat dekat dengan rektorat, dan sering di delegasikan untuk mengurusi anak-anak jalanan di luar kota, ya ini juga bagian dari skenarioNya untuk mentarbiyahi saya, saya tipikal cuek dengan lingkungan plus agak risih dengan anak-anak ya itu saya, namun sejak sering didelegasikan untuk mengajar anak-anak jalanan di beberapa kota, entah mengapa saya jadi menggilai kegiatan yang berhubungan dengan sosial, dan saya selalu menyukai senyum anak-anak, segala hal tentang anak-anak, ya Allah telah mentarbiyahi saya dengan caranya yang cantik..tepat saat menjadi Ketua BEM itu pula saya mengenal kembali tarbiyah, disaat saya berada dititik terendah sebagai seorang pemimpin sekaligus seorang perempuan, karena pada dasarnya saya mengakui bahwa pemimpin perempuan itu mempunyai satu keterbatasan –> “emosional”, emosi saya bisa dibilang terkendali sejak mengenal tarbiyah, meneduhkan, dan saya selalu bilang mungkin saya akan menjadi gila jika saat itu saya tidak mengenal tarbiyah, tepatnya saya tidak bisa menceritakan disini tentang apa yang terjadi saat saya menjadi pemimpin, namun saya belajar banyak hal, sampai perpolitikan negara hingga berbagai jenis strategi politik, yaah kalo denger kata politik mungkin semacam tragis gitu di tahun itu, dan berbagai permasalahan lainnya, dan disaat yang sama saya juga harus mempersiapkan penerus saya, saya terlanjur cinta kepada BEM ini dan saya tidak ingin menyia-nyiakan sedikit pun waktu untuk berbuat banyak dan banyak, ah ya di tahun yang sama Allah membuatkan skenario dimana saya harus mengenal mahasiswa dari berbagai universitas dan berbagai daerah di seluruh Indonesia, saat itu betapa kupernya saya, baru mengetahui lagu-lagu aksi pada saat pertemuan itu juga, dan saya mengagumi mereka semua, saya benar-benar tidak ada apa-apanya dan benar-benar kelihatan cupu plus kurang pengetahuan kalau disejajarkan dengan mereka, dan dari merekalah saya mengambil semangat, dan lalu belajar, dan saya tidak pernah menyangka, semangat yang saya ambil lalu pelajaran yang saya kumpulkan sedikit demi sedikit dari mereka itu mengantarkan saya kepada skenarioNya yang lain, ya di tahun berikutnya, saya menjadi salah satu pengurus di organisasi nasional tersebut, fungsi saya disini hanya sebatas melengkapi, bukan sebagai pemimpinnya, ya sebagai asisten gitu lah, dan di tahun ini saya bukanlah saya yang otoriter, tapi kebalikannya, you know what, menjadi seorang asisten yang lebay, merangkul banyak orang, mengirimkan sms ini itu, menanyakan kabar, dsb, at least ini bukan saya yang sebenarnya dan tidak tahu mengapa saya bisa kerasukan kayak gitu, aslinya saya tipikal cool ya saya cool. Dan mereka memanggil saya dengan sebutan ibu, mereka curhat ini itu, disanalah saya belajar merakyat, belajar mendengarkan, karena saya memang bukan pendengar yang baik, dan dari sanalah saya mulai menyukai psikologi, saya bisa dengan mudah membaca karakter orang dan lalu menyesuaikan sikap dan pembicaraan dengan orang lain sesuai karakternya masing-masing, dan di tahun itu pula saya bisa berkeliling Indonesia, di tahun ini saya mengembangkan potensi saya dalam hal politik, beberapa hal yang sudah pelajari di tahun lalu dan aplikasi yang sedikit di tahun lalu memberikan saya sedikit pengalaman tentang membaca situasi yang sangat diperlukan dalam organisasi nasional, di organisasi ini saya juga belajar apa itu berkorban dalam arti yang besar, berkorban diri untuk orang lain, ya walaupun saya sudah dapat nilai ini saat di BEM selama dua tahun namun sejatinya saya semakin belajar tentang hal ini, saya suka mengamati, memperhatikan, lalu terdiam meresapi, saya mencintai organisasi nasional ini, dan entah kenapa di tahun berikutnya saya masih berada di organisasi ini untuk skenarioNya yang berbeda, ah ya di tahun sebelumnya juga saya berjodoh bekerja dengan Dikti, dan disana saya belajar apa itu profesional, tepat waktu, dan managerial yang benar-benar rapi, dan itu sangat berguna untuk menjalani skenarioNya selanjutnya, ya setelah satu tahun saya menjadi saya yang ceria seorang introvert yang aneh, ya itu persepsi pribadi saya, di tahun selanjutnya saya memiliki skenario menjadi pengawas di organisasi nasional itu, saya menjadi pemimpin diantara empat orang pengawas, dan tugasnya bisa dibilang berat, saya harus mengetahui setiap detail permasalahan dan kondisi di organisasi nasional ini, ya seluruh indonesia, ada banyak benturan sana-sini, sampai-sampai saya sakit karena tidak sanggup menanggung beban secara psikis dan butuh recovery lebih dari enam bulan, enam bulan saya melakukan trial and error, antara melepaskan amanah ini sebentar lalu mengerjakan lagi lalu melepaskan lagi, bukan maksudnya saya mempermainkan amanah yang ada pada saya, namun ini benar-benar berat, akhirnya saya merenungi apa yang sudah saya lewati selama ini, dan mengingat-ngingat kenapa saya bisa terjatuh, dan akhirnya saya menemukan formula bahwa saya harus menambahkan ilmu dan pengalaman yang saya dapat sejak 2 tahun di BEM sebagai orang yang ketat aturan, 1 tahun berikutnya sebagai Ibu yang lebay + pengalaman bekerja professional di level pemerintahan, saya mendapatkan formula itu setelah 1 tahun lebih saya menjabat sebagai pengawas, sambil diiringi dengan trial dan error, disaat yang sama juga tarbiyah selalu meneduhkan saya, saya pernah bilang, mungkin kalau saya tidak punya ummi dan saudari halaqah, serta tarbiyah yang sudah tertanam, mungkin saya sudah bunuh diri, karena tidak seimbang secara psikologis, namun lagi-lagi Dia memberikan akal untuk berfikir dan merenung.. di tahun ini ada banyak faktor yang membuat saya beranjak pulih dari sakit yang cukup parah itu, ya saya sakit hampir satu tahun lebih, saat menulis ini pun masih sakit, namun saya masih recovery, Dia di skenarioNya membuat saya berjodoh dengan kos baru di tahun ini, kos muslimah baitunnisa, kos yang unik menurut saya, penghuninya macam-macam, ada 2 orang akhwat salafiyyah, 3 orang akhwat tarbiyah yang gaul namun terkendali, 2 orang berpacaran namun berpenampilan seperti akhwat tarbiyah, 1 orang guru agama lulusan UIN, 1 orang yang hobi menyanyi dan perfeksionis walau suaranya gak bagus hehehe, 1 orang penggila korea, dan 1 orang pendiam abiez, plus ibu kos yang suka jalan-jalan ngelewatin tiap kamar malem-malem ^___^, nah saya masuk yang mana —> saya,  adalah seorang dari 3 orang akhwat tarbiyah yg gaul namun terkendali, di kos ini saya jadi tahu berbagai jenis perempuan mulai dari yang bermanhaj sampai yang biasa saja, hidup bersama mereka menyenangkan, walau saya masih punya batas ruang privasi, kami berbagi drama korea dan jepang, berbagi musik, main games bareng, makan bareng, berbagi makanan, saling berkomunikasi, saling menyapa, saling menanyakan mau kemana, saling memberitahu kalau punya barang baru, saling ledek-ledekan, dan saling-saling yang lain, di kos baitunnisa sepekan 3-4 kali akan datang ustadz yang mengajar tahsin atau bahasa arab, ustadz itu super galak dan cool, belum menikah, ikhwan salafiyah, dia mengajar tanpa dibayar, pernah aku berfikiran mau membuatkan dia teh hangat gitu, tapi kata anak-anak kos, ustadz itu gak nerima kayak gituan zzzzzzzzzz segitunya kah -____-, dan malam ini sangat lucu, saya memasak dua bungkus agar-agar merah, plus vla coklat instan, alhamdulillah semuanya kebagian, benar-benar berkah, tsaah, nah entah kenapa kefikiran mau ngasih buat ustadz yang lagi ngajar di depan, agar-agar dan saos coklatnya sudah siap, entah kenapa hal kayak gitu aja bikin anak-anak heboh dan kami saling heboh, piringnya yang mana, sendoknya yang mana, dan ada yang bilang mungkin ustadznya gak mau makan zzzzzzz, aku bilang sama salah satu anak kos “bilangin ustadznya itu agar-agarnya ada racunnya, racun gegara dia sering galak pas ngajar” “plus tenang aja, masaknya gak pake cinta kok” zzzzzzzzz satu jam berlalu, aku gak ikutan tahsin, tau kenapa?, saya risih kalo diajar ustadz lelaki tahsin, suara saya ini bisa menimbulkan masalah bagi kaum lelaki, jadi baiknya belajar tahsin sama ustadzah aja..  saya asik main game sambil dengerin musik lalu net meet, dan ada yang tiba-tiba datang sambil ketawa-ketawa “ustadznya makan lhoo” weeh dalam hatiku #speechless, ya sudah abaikan, toh gak penting juga, dan seketika kos baitunnisa jadi heboh lagi, tambah heboh ketika saya dan seorang adik teriak-teriak histeris saat kalah main game cradle of persia T__T, yah begitulah hari-hari di kos baru, saya masih seorang introvert, namun sudah bisa bersosialisasi, sudah bisa membaur, dan membaiknya kondisi kesehatanku juga berpengaruh terhadap kinerja dalam menjalankan di amanah, “Dan apabila aku sakit. Dialah (Allah) yang menyembuhkanku” (As Syu’araa: 80). Begitulah Dia menyembuhkanku, dan berdoa dengan disertai ikhtiar. Aku mulai bisa berfikir dengan baik dan sistematis lagi, mulai bisa melakukan banyak hal di depan layar laptop, dan ketika mulai bermasalah, saya akan melakukan hal-hal yang menyenangkan, semacam menyanyi, ya saya hanya bisa menyanyi dengan baik untuk 1-2 lagu, karena saya  bermasalah dengan pita suara tampaknya, saya tidak bisa bicara lebih dari 15 menit tanpa henti kalo tidak suara saya akan langsung habis lalu menghilang perlahan, atau batuk-batuk, namun saya senang jika anak-anak kos baitunnisa bisa terhibur dan merasa nyaman dengan 1-2 lagu yang saya nyanyikan di kamar ^___^, beginilah Allah mentarbiyahi saya lewat skenarioNya, skenarioNya itu semacam puzzle, yang setiap sisinya ada clue-clue yang saling berhubungan dan berkelanjutan, dengan indah, insyaAllah ^___^

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s