[CERPEN] Ngaji, Lanjut Gak Ya?

Assalamu’alaykum..

Cuma mw ngereminder lagi nih…

Nti siang qt ngaji ya di rmh Mbaknya…

Jm 1 loh.. g pake tlat,, g pake ngaret..

As usual, confirm khadiran k aq ya..

N klo mw izn,, lgsg ke Mbaknya aja,, okeh?

Sender : Ukh-Nisa

 

Berkali-kali Diana membaca sms tersebut, namun itu semakin membuat perasaannya gundah dan merasa bersalah.  Diana kembali membaringkan tubuhnya ke tempat tidur.  “Udah jam setengah dua belas,” desahnya ketika melihat jam dinding yang bertengger di salah satu dinding kamarnya yang berwarna hijau.  “Aduh, dateng ga ya? Males banget ini,”  Diana kembali melihat sms yang di kirim Nisa. 

“Kalo seandainya hari ini aku nggak ngaji, aku kasih alesan apa ya ke Mbaknya?? Aku kan paling anti bohong,” ucap Diana pada dirinya sendiri.  Diana mulai memutar otaknya, mulai mencari-cari alasan-alasan yang syar’i supaya diperbolehkan untuk tidak hadir mentoring pada hari ini.  “Argh.. sial beudh dah.. ga punya alasan yang syar’i buat ga mentoring hari ini.”  Diana kembali berpikir, sesekali melihat sms yang di kirim Nisa dan berharap ada sms lagi dari Nisa yang isinya kalau hari ini ga ada mentoring.

“Dari sekian banyak alasan, kenapa ga ada yang syar’i ya? Aduh, gimana dong…” Diana menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

“Alesan ada tugas, hm.. temen-temen yang lain juga punya tugas, mereka tetep pada ngaji.  Alesan ketiduran, tapi sekarang gw lagi sadar, kalo pun ketiduran akibat gw yang menidurkan diri, berarti itu bohong dong, ah enggak mau ah, hm.. alesan apa lagi ya? Ga boleh sama ortu. Aha!!” senyum pun akhirnya terukir di bibir tipis  Diana.

Diana ingat materi Birrul Walidain kalau orang tua itu yang utama selama mereka tidak menyuruh untuk berbuat yang mungkar.  “Kalau gw kasih alasan ini, pasti gw bakal di bolehin izin, hahahaha, tapi…” senyum licik Diana kembali tergulung.  “Bunda pasti ngizinin aku buat pergi ngaji hari ini, aduuuh… alasan apalagi ya??”  Diana sudah kehabisan alasan untuk ketidakhadirannya hari ini.  Biasanya Diana memutuskan untuk tidak izin atau pun konfirmasi kehadiran kalau memang alasannya tidak syar’i.

Dengan berat hati Diana bangun dari tempat tidurnya menuju lemari baju yang berjarak hanya satu meter.  Memilih-milih baju yang akhirnya jatuh pada gamis bewarna hijau muda.  Pertarungan antara Diana dan setan yang berada pada jiwa Diana untuk saat ini dimenangkan oleh Diana.  Kemenangan tipis, karena masih banyak keraguan dalam diri Diana, disenggol sedikit saja Diana akan melanjutkan niatnya untuk bolos mentoring hari ini.

Diana kembali membaca sms dari Nisa dengan harapan tekad Diana untuk datang ngaji hari ini semakin kuat, tak mudah tergoyahkan. 

“Kamu mau kemana Di?” tanya Bunda ketika Diana sudah duduk dengan rapi di meja makan bersiap hendak makan siang terlebih dahulu.

“Mau ngaji Bunda,”

“Kamu yakin mau berangkat?”

“Hm.. yakinlah Bunda, emangnya kenapa?”

“Diluar lagi ujan deres loh, ditambah ujan angin juga,”

“Hah? Masa sih Bunda?” Diana segera berlari menuju jendela rumahnya yang menghadap ke jalanan.  Shock dan rasa senang bercampur menjadi satu.  Shock karena Diana tidak menyadari kalau sedang terjadi hujang dan juga shock karena Diana sudah berpakaian rapi hanya tinggal berangkat saja.  Dan senang karena akhirnya mendapatkan dua alasan syar’i sekaligus untuk tidak datang mentoring hari ini, yaitu hujan dan larangan Bunda. 

“Masih mau ngaji?” tanya Bunda ketika Diana sudah duduk kembali di meja makan.

“Hm.. ga tau Bunda, liat nanti aja,” Diana sedikit jual mahal sambil melanjutkan menyendok nasi ke piringnya.

“Udah ga usah aja, ujan-ujan juga, libur dulu ngaji nya sekali-kali ga papa kan?” rayu Bunda.

Diana diam saja, terus melanjutkan makannya dengan khidmat, senyum kecil kembali terukir di wajahnya.  Iya Bunda, tenang aja koq untuk kali ini anakmu akan menurut tanpa banyak protes, karena aku juga emang ga mau ngaji hari ini, hahaha.

Seusai makan Diana langsung mengirim sms perizinan ke murobbiyahnya dan konfirmasi ketidakhadirannya ke Nisa selaku ketua kelompok mentoringnya.  Sesuai harapan, Diana diizinkan untuk tidak hadir mentoring pada siang hari ini.  Alhamdulillah, jadinya kan aku ga perlu bohong atau pun ga ngasih kabar, hahaha…

***

Kedudukan matahari telah sepenggalah, dimana kondisi matahari yang seperti itu menyebabkan bayangan yang jatuh akibat tempaan sinar matahari sama dengan tinggi benda yang sebenarnya.  Itu artinya umat Islam sudah diperbolehkan untuk melakukan shalat duha.  Hari ini Diana memutuskan untuk shalat duha di mushalla kampus meskipun sebenarnya perkuliahan baru di mulai pukul sepuluh.  Bukan suatu hal yang aneh sebenarnya ketika Diana datang lebih pagi dari waktu kuliah, rapat yang biasanya menjadi alasan, namun tidak untuk hari ini.  Kumpul kelompok menyiapkan presentasi untuk kuliah pagi inilah yang menjadi alasannya kali ini.

“Hoi, Di!” sapa Firdha tepat ketika salah satu kakinya menginjak mushalla.  Diana yang sedang merapihkan mukenanya menoleh ke arah sumber suara.  Suara yang tak asing lagi bagi Diana.  Suara khas Firdha teman satu sekolahnya sejak di sekolah dasar dan selalu satu sekolah bahkan kuliah pun satu jurusan, tapi untungnya tidak selalu satu kelas.

Diana hanya membalas sapaan Firdha dengan senyum termanisnya.  Firdha menghampiri Diana dengan penuh keceriaan.  Mereka bersalaman, cipika-cipiki layaknya akhwat-akhwat yang lain ketika baru bertemu dan tidak lupa untuk mengucap salam.

“Assalamu’alaykum,” sapa Firdha lembut.  Firdha ialah akhwat yang punya dua kepribadian yang bertolak belakang sekaligus ya itu lembut dan tegas.  Jika dihadapan akhwat Firdha akan menjadi orang yang sangat kemayu sedangkan jika dihadapkan dengan seorang ikhwan dia akan bersikap tegas dan penuh wibawa.

“Wa’alaykumussalam,” Diana kembali menyunggingkan senyum di bibir tipisnya.

“Kamu ngapain Di, pagi-pagi uda ngampus? Emang hari ini ada rapat?” Diana pun menggelengkan kepalanya. “Lah, terus ngapain? Bukannya nanti kita baru mulai kuliah jam sepuluh ya?”

“Aku ada kumpul kelompok Fir, nanti kelompok aku yang presentasi.  Trus kamu sendiri ngapain?  Kelompok kamu ga presentasi juga kan?”

“Ah, enggak, tadi aku ada rapat BPH BEM.  Eh, Di, aku nitip tas aku ya? Bentar kok, cuma buat wudhu, oke?” pinta Firdha seraya meletakkan tas dan jaketnya tepat di sebelah Diana.

“Jiah, nitip nya tas eh dapet bonus jaket,” gurau Diana dan Firdha membalasnya dengan cengiran lebar. 

Diana membuka mushafnya.  Bismillah, selembar dua lembar dapet lah, sambil nunggu si Firdha selesai, lagian masih ada waktu setengah jam lagi buat kumpul kelompok.

“Di,” ucap Firdha seraya mendekati Diana sambil melepaskan atasan mukenanya.  Diana tidak menjawab, ia hanya mengangkat tangannya yang sebelah kanan sebagai sebuah isyarat ‘sebentar’.

“Ya, kenapa Fir?”  Diana mengakhiri bacaannya dan memasukkan mushafnya ke dalam tasnya.

“Kamu kemarin kenapa ga ngaji? Tumben banget dah,”

“Hm… kenapa ya?”  Diana berhenti sejenak, “Emang kemarin Nisa ga bilang alasannya aku ga dateng ngaji?”

“Bilang sih,”

“Nah, terus kenapa?”

“Oh, gapapa, aku kira ada alasan yang lain, abis belakangan ini kamu jadi agak sering ga dateng ngaji, aku pikir kamu terkena penyakit pekanan.”

“Penyakit pekanan?”

“Iya, penyakit yang tiba-tiba muncul pas waktu mau ngaji.  Ya tiba-tiba sakit lah, pusing lah, diare lah, maleslah, pokoknya banyak deh alesannya yang akhirnya memaklumi dirinya untuk tidak datang dengan meminta pemakluman dari yang lainnya.   Alasan yang tidak ada tapi di ada-adakan.  Alasan yang tidak syar’i tapi dibuat menjadi syar’i se syar’i mungkin.”

Ucapan Firdha tepat menusuk ke jantung Diana.  Perasaan bersalah Diana kembali muncul karena mengada-adakan alasan supaya bisa ga dateng mentoring.  Raut wajah Diana berubah dan Firdha dapat melihat itu.

“Hayo, kamu kenapa?  Apa yang sedang kamu sembunyiin dari aku! Hayo ngaku!”

“Hm… Gapapa kok,”

“Udah ga usah ngeles, pasti kamu tuh lagi nutup-nutupin sesuatu, iya kan?”

Diana merasa ragu untuk mengungkapkan perasaan yang sedang ia rasakan saat ini, bukan karena tidak percaya kepada Firdha, tapi lebih ke arah Diana masih merasa belum yakin dengan keputusannya dan waktunya belum tepat untuk mengatakan semua ini sekarang.

“Udah certain aja, sama aku aja pake rahasia-rahasiaan segala,”

“Ehm, gini…” Diana akhirnya memutuskan untuk menceritakannya kepada Firdha, karena Diana butuh teman sharing perihal keputusannya yang satu ini, meskipun Diana bingung harus memulai dari mana.  Firdha menunggunya dengan sabar meski rasa penasaran terus menggerogoti jiwa. 

“Jadi,” Diana menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.  “Aku gak mau lanjutin ngaji Fir,”

“Apa?” Ucap Firdha setengah berteriak saking kagetnya.  Firdha tak pernah menyangka kata-kata itu bisa keluar dari mulut seorang akhwat sekaliber Diana. “Kamu lagi bercanda kan Di?”

“Enggak Fir, aku serius, sangat serius bahkan, mungkin itulah alasannya kenapa belakangan ini aku agak sering bolos ngaji,”

“Emang kenapa Di? Kok bisa?”

“Aku merasa kalau diri aku munafik Fir, dan itu membuat aku merasa aku tak pantas untuk terus berada di jalan ini, berjuang bersama kalian atas nama dakwah, aku merasa malu kalau aku berada dalam jamaah ini, aku malah takut kalau karena aku lah jamaah tarbiyah ini akan tercoreng citranya.”

“Kok bisa? Gimana cerita?”

“Sekarang coba kamu jawab pertanyaan aku, coba kamu gambarin aku orangnya itu seperti apa?”

Firdha mencoba mengerti maksud dari pertanyaan yang diajukan Diana.  “Hm… Apa ya? Menurut aku kamu itu akhwat yang mampu menjaga izzah dan iffahnya, seorang akhwat yang sangat menjaga antara batasan antara ikhwan dan akhwat, seorang akhwat yang konsisten amal ibadahnya, akhwat yang selalu berada di garda terdepan dalam setiap agenda dakwahnya, akhwat yang … “

“Stop!” sergah Diana “Cukup.  Ga usah dilanjutin.”  Gambaran Firdha mengenai dirinya semakin memperkokoh keinginannya untuk tidak melanjutkan ngaji nya lagi.

“Loh, kenapa Di? Emangnya aku salah ya? Tapi, itulah bayangan dirimu yang selalu ada di otakku, akhwat yang tangguh, maka nya aku sangat shock waktu kamu bilang kamu bilang ga mau ngelanjutin ngaji lagi.”

“Justru itu Fir alasan aku yang membuat aku mau keluar,”

“Itu? Itu gimana maksudnya?”

“Ya, aku pandai sekali mencitrakan citra baik diriku di hadapan orang lain.  Tapi kesini-sini nya aku mulai menyadari, kalau sepertinya ibadahku semakin kuat ketika aku bersama-sama kalian, ketika aku berada di luar rumah, dimana ketika aku sedang tidak sendirian, tetapi ketika aku sendirian, sebenarnya aku tidak sekuat itu, aku tidak sestabil itu, justru aku sangat labil, keimananku seolah turun seketika, kecintaanku terhadap dunia semakin tinggi.

Aku merasa kalau aku ini munafik.  Aku bisa berbuat hebat dihadapan orang lain, di depan orang banyak dan langsung jatuh seketika ketika aku sendirian, aku jadi ragu dengan diri aku sendiri, aku malu dengan jilbab aku, aku malu dengan label tarbiyah pada diriku.  Aku malu Fir, aku malu.  Aku takut kalau ternyata ibadahku selama ini tidak murni ku tujukan semata-mata hanya kepada Allah, makanya aku pikir dengan keluar dari mentoring, beban akan hal tersebut dapat sedikit berkurang meskipun tidak berkurang secara signifikan.”

Firdha memandang wajah Diana lekat-lekat.  Firdha mencoba merangkai kata-kata supaya kata-kata yang keluar nantinya dari mulutnya dapat menjadi penyemangat bagi Diana untuk tetap melanjutkan mentoringnya.  Sayang kalau Diana harus putus mentoring cuma karena hal ini.

“Hm… ya ampun Di, lebay banget deh kamu,”

“Lebay?”

“Iya, lebay.  Masa gara-gara gitu doang kamu sampe gak mau ngelanjutin ngaji lagi,”

“Gara-gara gitu doang? Aduh, dilema aku ini, dilema!”

“Eh, tau ga sih, yang kamu alami ini juga pernah dialami oleh sahabat Rasul loh, Abu bakar, dalam suatu hadis dikatakan Abu bakar pernah bertanya kepada Rosul perihal Ibadahnya, ketika dia bersama Rasul seolah-olah dia bisa melihat neraka, tetapi ketika kembali kepada keluarganya ia merasa jauh dari surga.  Ya itulah manusia, keimanannya naik turun.  Tidak pernah ada yang bisa menjamin kapan keimanan itu naik atau kapan keimanan itu turun, tetapi yang jelas memang sudah sesuatu hal yang kodrati ketika kita bersama-sama dengan orang yang soleh kita jadi ketularan soleh.  Makanya kita dianjurkan untuk selalu berkumpul, bergabung, atau berteman dengan orang-orang yang soleh.”

“Ehm..”  Diana mencoba memikirkan maksud dari perkataan Firdha.

“Gini deh, seharusnya kamu tuh bersyukur, karena kamu dikasih lingkungan yang kondusif, lingkungan yang mayoritasnya akhwat, kamu di izinkan oleh Allah untuk diberi kelapangan waktu sehingga masih bisa ikut ngaji ga seperti teman-teman yang lain, harusnya kamu tuh bersyukur karena Allah sudah begitu baiknya kepada kamu dengan mengizinkan kamu untuk terus berada di dalam jalan dakwahnya.  Dan kini kamu mau mencoba bersyukur dengan keluar dari mentoring?”

“Ehm, ga gitu maksud aku.”

“Ga gitu gimana? Jelas-jelas begitu kok.  Emangnya kamu pernah berpikir kalau kamu ga ngaji kamu akan seperti apa? Yakin akan kondisi yang lebih baik?  Kenapa sih kamu berpikir bahwa kamu yang seperti itu malah akan membuat malu jilbab dan status orang-orang tarbiyah??”

“Ehm, aku…” Diana bingung mau alasan seperti apa lagi.

“Tadi kamu bilang, kalau kamu sendirian kamu akan jatuh.  Lalu ketika kamu sudah keluar dari mentoring, apa kamu yakin itu lebih baik? Kamu akan lebih banyak sendirian, orang-orang saleh disekitar kamu akan semakin berkurang intensitas pertemuannya.  Kamu yakin akan itu? Trus kenapa sih kamu takut membuat malu jilbab sama status tarbiyahmu itu? karena pribadi atau perilaku mu yang belum baik?  Harusnya bukan jilbab atau status tarbiyah yang menjadi tolok ukurnya, tetapi kamu yang harus terus dan terus memperbaiki pribadi dan perilaku kamu sehingga jilbab kamu yang akan menjadi rem nantinya ketika kamu sudah berlaku melebihi batas normal.”

“Ehm, gitu ya Fir menurut kamu.”  Firdha menjawabnya dengan anggukan.

“Iya, bukannya kamu berhenti dari ngaji, tapi harusnya kamu tingkatin dan terus upgrade diri kamu dengan ngaji, gitu, so, lanjutkan ngaji nya?”

“Yup! Thanks ya Fir…”

http://putriazalea.multiply.com/journal/item/6/CERPEN-Ngaji-Lanjut-Gak-Ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s