Jangan bawa-bawa Indonesia dalam niatan, dan ucapan, jika kamu tidak “meng-Indonesiakan” perbuatan ketika mewujudkannya..

“Jangan bawa-bawa Indonesia dalam niatan, dan ucapan, jika kamu tidak “meng-Indonesiakan” perbuatan ketika mewujudkannya.”

Kalimat diatas merupakan kalimat sebuah refleksi malam ini bagi saya, berdasar apa yang saya rasakan, saya lihat, dan alami dari lingkungan sekitar saya.

Saya, belum menemukan sekelompok orang lainnya yang seperti sekelompok saudara yang saya kenal di rumah enam huruf yang ketika mereka berkata cinta kepada Indonesia, maka mereka berbuat dengan sungguh-sungguh untuk Indonesia, dengan sabar, dengan perlahan namun pasti, dan tentunya dengan perbuatan yang “Indonesia”, apa yang dimaksud dengan perbuatan yang “Indonesia”?, perbuatan yang “Indonesia” adalah perbuatan yang mencerminkan Indonesia: bhineka tunggal ika, toleransi, tolong-menolong, saling mengerti dan memahami serta tidak egois, walau di beberapa sisi memang tidak semuanya sempurna menjalankan perbuatan “Indonesia” ini, namun sudah cukup mewakili untuk menjawab cinta “Indonesia”, untuk “Indonesia”, yang diwujudkan dengan perbuatan “Indonesia”. Satu lagi yang tidak saya temukan di tempat lain, sekelompok saudara saya yang hitungan jari itu rela berkorban, mengorbankan hidupnya, melepaskan egoisme pribadi dan kepentingan pribadinya, tanpa bayaran bahkan ucapan terimakasih semata-mata untuk mengejewantahkan sesuatu yang dinamakan cinta “Indonesia”

Mungkin saya adalah tipikal orang “idealis-freak” yang menjadi gerah ketika ada orang yang menyebut-nyebut cinta Indonesia namun menginginkan sesuatu untuk kepentingan pribadinya dengan membawa-bawa embel-embel Indonesia, lalu berbuat tidak “Indonesia” alias ngebossy, tidak tolong-menolong, “professional-freak” tanpa memahami dan membantu orang lain, dan mengaku “Indonesia” namun berbuat “Liberal” atau bahkan “Kapitalis”.

“Sungguh unik perkaranya orang mukmin, sesungguhnya seluruh perkaranya baik, dan itu tidaklah dimiliki kecuali oleh orang mukmin. Apabila ia diberi nikmat, ia bersyukur, dan ini baik baginya dan apabila ditimpa musibah, dia bersabar, dan ini baik pula baginya.” (HR. Muslim)

Yang ingin saya syukuri malam ini adalah, saya masih mampu bersabar menjalani amanah, walau kesabaran saya tidak sempurna, walau saya sering merasa kesal dan mengeluh, kesabaran saya tidak sempurna, namun saya berusaha untuk memperbaikinya perlahan, dan yang paling sulit adalah melawan diri sendiri, bukan melawan orang lain, senantiasa mengingatkan diri sendiri tentang niatan, tentang perbuatan, tentang kekhilafan.

Yang ingin saya syukuri malam ini adalah, saya dibesarkan bertahun-tahun ditempat yang baik, dimana saya mengenal apa itu perjuangan, pengorbanan untuk hal yang lebih besar daripada diri saya sendiri, mengenal saudara-saudara yang mengenalkan saya cinta Indonesia, dan pada akhirnya saya mulai belajar untuk meng-Indonesiakan perbuatan dan sikap saya, bersyukur mengenal sejatinya cinta, cinta adalah: “Jika memulai karena Allah, maka jangan akhiri karena manusia”, cinta adalah : Menginginkan yang baik-baik bagi yang dicinta, dengan niatan yang baik, dan cara yang baik-baik, dengan tidak diiringi oleh niatan-niatan untuk diri sendiri.

“Ya Rabb, menyadari diri ini tidak sempurna kesabarannya, diri ini tidak sempurna ketaatannya, maka ingatkan aku untuk menjadi manusia yang memanusiakan perbuatan, menyadari diri ini lemah, maka kuatkan pundak untuk memikul beban, dan luruskan hati, kuatkan hati untuk menjalani semuanya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, karena diri ini tidak sempurna kesabaran dan keikhlasannya.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s