Wanita punya potensi untuk menjadi bodoh dalam urusan cinta.

wanita itu punya potensi untuk menjadi bodoh dalam urusan cinta, tapi berusahalah untuk menjadi tidak bodoh-bodoh amat.

ini quote yang terlintas di fikiran saya dini hari ini, dan bukan berarti saya pintar dalam urusan cinta, saya akui saya pun bodoh dalam urusan cinta, namun berusaha untuk tidak menjadi bodoh, dan berusaha untuk berfikir dan realistis.

begitulah wanita, sebagian besar di dalam dirinya di dominasi oleh perasaan dan kelembutan. Dan tidak salah jika kita mengatakan dalam suatu hubungan, biasanya wanita lah yang lebih setia daripada pria, misalnya, ketika sedang jalan-jalan di mall, pria bisa dengan mudahnya lirik kanan-kiri dan sulit mengendalikan pandangannya untuk wanita yang dianggap “oke penampilannya”, sedangkan wanita biasanya datar-datar saja, alias gak cuci mata kalau lihat ada yang lebih “oke” daripada kekasih disampingnya. ya wanita itu setia. saya bilang begini karena memperhatikan mayoritas wanita ya seperti ini.

Dan wanita itu juga cenderung lebih masokis dalam urusan cinta, masokis dalam konteks ini adalah, dia rela sakit-sakit, berjuang susah payah, berkorban lebih banyak untuk lelaki yang dicintainya, apapun agar lelaki yang dicintainya dalam keadaan baik dan bahagia, yah mungkin semacam itu.

Terkadang saya kasihan kepada wanita, ini ekspresi yang sulit saya deskripsikan.

Ada banyak kasus dimana wanita pada akhirnya hanya menjadi korban, misal, hamil diluar nikah saat SMP atau SMU, diduakan oleh yang dicinta, dsb. Apakah dalam mencintai, wanita tidak bisa punya pilihan selain harus menjadi penurut dan seseorang yang rela berkorban?

Terkadang saya kasihan kepada wanita, dan saya juga mengasihani diri saya sendiri, karena dulu pun saya kurang berfikir sehingga terlihat bodoh dalam urusan cinta.

Saya ingin menuliskan sebuah cerita nyata tentang alasan saya mengasihani wanita:

Sepanjang Ramadhan ini, salah seorang adik kos, selalu bangun pukul 2.30 pagi, dan lalu sibuk masak sendiri, dapur kos-kosan kami posisinya out door dan otomatis sambil memasak pun bisa merasakan dinginnya udara yogya yang mencapai 16 derajat celcius, adik ini begitu rajin dan tekun, tanpa terlewat sehari pun untuk memasak, dia memasak dengan penuh cinta, tentu saja untuk makan sahur kekasihnya, pukul 3 pagi dia selesai masak, dan lalu mandi, amazing bukan?, dengan udara sedingin itu masih sanggup mandi, dan 3.30 berangkat ke kos kekasihnya, bawa motor sendiri, melewati jalanan sepi, hanya untuk menyiapkan sahur kekasihnya, dan jam 4 pagi kekasihnya bisa langsung makan dengan enak. saya membayangkan apa yang sedang dilakukan oleh kekasihnya itu di pukul 2.30-3.30 pagi?, mungkin dia masih asik tidur!, dan dia juga tidak menjemput adik kos saya itu, kadang saya heran, bagaimana dia bisa membiarkan seorang wanita naik motor sendirian dini hari seperti ini. 

yah itu hanya sedikit penggalan kisah, yang kadang membuat saya berfikir, mungkin ada banyak wanita lain diluar sana yang berbuat seperti adik kos saya itu. semoga kisahnya berakhir happy ending.

Apakah dalam hal cinta, wanita tidak bisa punya pilihan dan harus pasrah melakukan yang terbaik agar tidak ditinggalkan?.

Mungkin wanita memang punya potensi untuk menjadi bodoh dalam urusan cinta, tapi berusahalah untuk tidak menjadi bodoh-bodoh amat. Dalam hal cinta, bukan berarti wanita harus menjadi lemah, bukannya tidak punya pilihan sehingga harus melakukan apa saja agar tidak ditinggalkan, percayalah, jika memang yang dicintai itu adalah yang terbaik dan sudah ditakdirkan untuk menjadi teman hidup, tanpa kita harus berusaha keras pun, dia akan tetap menjadi teman hidup kita, namun sebaliknya sekeras apapun kita berusaha namun jika memang dia tidak ditakdirkan untuk kita, maka dia bukan yang terbaik untuk kita. Dalam hal cinta bukannya menghitung-hitung untung rugi, “sebanyak apa saya berkorban, maka dia tidak akan bisa meninggalkan”, cinta itu hubungan timbal balik, “berkorban sama banyak dengan tulus, tanpa berat sebelah, tanpa menyusahkan sebelah pihak”. Lantas apakah dia yang kita cintai sudah berkorban lebih besar untuk kita?, atau malah kita yang selalu berkorban untuknya?, ah wanita, mungkin ketika mencintai pun kita perlu melibatkan fikiran kita, sedikit saja tidak perlu banyak, hanya untuk merenungkan, ya merenungkan, agar kita tidak menjadi kecewa diakhirnya, agar kita lebih tegas dalam bersikap, agar kita lebih tangguh menjalaninya, sesuatu yang bernama cinta itu jangan membuat kita menjadi lemah, tangguhlah.. ^___^

“Semoga wanita di seluruh pelosok dunia, mampu meraih kebahagiaan dalam cinta, dengan orang yang tepat, di waktu yang tepat, insyaAllah”

Yogyakarta, 03.22

Lafi Munira

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s