Mawapres itu menyimpan Luka

Sore ini, sambil duduk didepan TU FKM, ada rasa sendu di dada, saat menatapi baliho besar tentang pendaftaran mawapres FKIP. 3 Tahun lalu saya pun pernah melewatinya, lolos menjadi finalis Juara 2 mawapres FKM, dan melanjutkan seleksi berikutnya menjadi Finalis Mawapres di tingkat universitas. Berbekal IPK 3,75, puluhan sertifikat tingkat nasional maupun internasional, bahasa inggris, kepribadian, maupun tumpukan karya tulis ilmiah dan prestasi PKMM dan PKM GT, saat itu saya sedang menjabat sebagai Ketua BEM FKM UAD. Masih ingat dengan jelas bahwa saya merupakan nominasi dengan IPK terendah yakni 3,75, sedangkan nominasi dari Fakultas lain ada yang sampai 3,9,. Hari pertama tes kepribadian, dari sana akhirnya saya mengetahui dengan jelas bahwa saya mempunyai kepribadian introvert, tipe INFJ, yang kata psikolog yang memeriksa hasil tes saya itu, saya sangat setia dan tulus apabila diberikan amanah, hanya saja kendala komunikasi membuat saya sering disalahfahami oleh orang lain, ya psikolog itu sangat benar. Hari Kedua seleksi mawapres tingkat universitas, debat bahasa inggris beserta pemaparan visi misi secara acak apabila suatu hari menjadi pemimpin negeri, ditambah dengan pemaparan wawasan kenegaraan dan dunia dalam bahasa inggris. Spontan, saat itu juga, tanpa dikasih clue sebelumnya. Hari ketiga seleksi mawapres universitas dilewati dengan presentasi karya tulis ilmiah, merupakan kebanggaan tersendiri bahwa pada saat itu saya mendapatkan poin paling tinggi dalam hal substansi karya tulis, walau dalam hal presentasi saya dicap oleh juri sebagai finalis paling FLAT. Hari terakhir merupakan pengumpulan seluruh kelengkapan sertifikat dan piagam perlombaan yang sudah dicapai selama kuliah. Saat mengikuti seleksi di tingkat universitas ini saya tidak berekspektasi apapun, saya hanya ingin membuktikan bahwa ada perwakilan FKM yang lolos menjadi finalis 6 besar tingkat universitas yang berhak melanjutkan ke seleksi tingkat lanjut di Universitas. Dan saya tidak pernah menyangka pada pagi hari di closing ceremony Milad UAD tahun 2009, saya dipanggil maju ke depan untuk menerima piala sebagai Mahasiswa Berprestasi Tingkat Universitas, Juara 3 Mawapres Universitas Ahmad Dahlan 2009/2010, entah apa rasanya saat itu, hanya mampu tertunduk, menahan haru, memang sudah mengeluarkan air mata, saking tidak percayanya. Ketika diminta memberikan sepatah dua patah kata, saya hanya mampu mengucapkan “Piala dan Piagam ini untuk Seluruh Aktivis Mahasiswa di Seluruh Indonesia”.

Sampai hari ini pun, ketika saya bermain ke rektorat, bapak dengan senyuman paling tulus itu pun selalu welcome dan memberikan semangatnya kepada saya, masih dengan setia memberikan dukungannya kepada saya, walau saya tidak bisa lulus tepat waktu, walau di Fakultas saya dianggap sebagai mawapres yang gagal, namun beliau, bapak itu selalu saja menyebut saya sebagai mawapres sejati, beliau berkata, prestasi yang sebenarnya adalah ketika kita bisa bermanfaat dan berfastabiqul khairat, walau dalam pandangan manusia tidak bernilai apapun, sudah semestinya hanya mengharap ridho Illahi.

Maafkan, jika saya banyak mengecewakan fakultas, karena saya telah memilih untuk memberikan sepenuh hidup saya untuk amanah-amanah, dan memilih untuk mengulur kelulusan. Sampai hari ini pun saya masih berusaha menjadi mahasiswa seperti yang kalian harapkan, berIPK tinggi, dan mengagumkan. Ketika kalian menganggap saya sebagai mawapres yang gagal pun tak mengapa, setidaknya sejarah itu bisa saya ceritakan kepada anak-anak saya, supaya meneruskan mimpi-mimpi saya yang akan berkelanjutan sampai nanti. Sambil mengetik tulisan ini, saya berazzam, akan wisuda dengan IPK yang cemerlang seperti yang kalian ekspektasikan tentang sejatinya mawapres. Sambil mengetik tulisan ini pun berazzam, akan meninggalkan adik-adik dalam keadaan yang baik, adik-adik BEM FKM UAD, tempat dimana sejatinya saya memulai proses untuk berprestasi yang sebenarnya.

Maaf, itu adalah kata yang selalu ingin saya ucapkan  kepada kalian semua, jika saja kalian mengerti bagaimana rasanya dibebani berbagai banyak amanah di pundak, bagaimana rasanya menjadi publik figur, bagaimana rasanya beban moril mendapatkan piala itu, bagaimana rasanya beban moril menjadi satu-satunya kakak yang sangat dibutuhkan oleh adik-adiknya di BEM FKM sampai hari ini, mungkin kalian tidak akan sembarangan menjudge saya seperti ini dan seperti itu. Saya belajar untuk menyabarkan hati, tidak banyak mengeluh ini itu, dan menyerahkan semua urusan ini kepada Allah, dan disisa satu tahun ini, saya hanya mampu berdoa semoga Dia menguatkan hati ini agar tidak mudah terluka oleh penilaian-penilaian kalian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s