Mencintai pendidikan, mencintai anak-anak, mencintai generasi, mencintai Indonesia..

saya, sejak kecil sudah dibiasakan oleh ayah saya untuk mencintai pendidikan, sejak usia 3 tahun saya sudah bisa membaca kalimat singkat, dan bisa menghafal beberapa doa dan surat pendek, hingga saya lulus diterima masuk SD pada usia 5 tahun. 

ayah saya tipikal perfectionist yang menginginkan anak-anaknya selalu menjadi bintang kelas, sehingga semua anaknya berusaha menggapai keinginan ayah saya tersebut. al hasil saya dan adik-adik saya selalu mendapatkan rangking 1 di kelas. Selain itu ayah saya juga mendidik saya menjadi seorang yang mandiri sejak kecil, walau saya anak perempuan, beliau memasukkan saya ke bimbingan belajar yang jaraknya cukup jauh dari rumah dan harus ditempuh dengan 2 kali naik bis. saat itu saya kelas 4 SD, dan sepekan 2 kali ke tempat bimbingan belajar, seorang diri. Dan saya terus dididik mandiri, mulai dari mendaftar SMP sendiri, dsb sendiri.

Di SMP saya masuk ke sekolah teladan, dan masuk kelas unggulan, dimana mayoritas muridnya fasih berbahasa Inggris, dan hal tersebut menjadi nightmare tersendiri bagi saya, karena saat itu saya tidak terlalu mengerti bahasa Inggris. Saya agak malas les bahasa inggris karena waktu saya dalam sepekan sudah habis untuk PR-PR, dan juga bimbel lagi dan lagi. Karenanya saya mencatat segala rumus tensis, dan sering membaca oxford, dan alhamdulillah di kelas 2 SMP saya sudah tidak terlalu merasa minder dengan kelas “yang expert bahasa inggrisnya itu”, dan kebiasaan berbahasa inggris lisan maupun tulisan tersebut terbawa sampai sekarang walau saya tidak pernah kursus bahasa inggris ^^

Sampai SMU pun saya masih masuk kelas unggulan, dan sebenarnya selalu masuk kelas unggulan itu tidak terlalu nyaman, berada diantara orang pintar itu tidak terlalu nyaman, itu yang saya rasakan.

Saat SMU saya mengenal apa itu organisasi.

Dan melanjutkan kuliah, mendapatkan IPK tertinggi di angkatan itu pun tidak enak rasanya, selalu dijadikan sorotan, apalagi sejak menjadi mawapres univ dan lalu jadi aktivis jam terbang tinggi. ckckckck. saat kuliah ini juga saya mengenal apa itu sosial, apa itu masyarakat, apa itu dunia, sesuatu yang selama ini masih abstrak dalam bayangan saya, karena kerja saya selama ini hanya belajar saja. Namun sejak berorganisasi di kampus, saya jadi bisa mengenal banyak hal, memahami bahwa hidup itu tidak seFLAT yang saya fikir selama ini, bahwa hidup ini rumit sebenarnya. Saya berkesempatan beberapa kali ditugaskan oleh kampus untuk mengajar anak-anak jalanan di luar kota, anak-anak yang kurang mampu, anak-anak yang tidak berkesempatan untuk sekolah. Dan satu kata yang membuat saya tercekat “MIRIS”, kalau dibandingkan dengan masa kecil saya yang full fasilitas buku pelajaran, buku tulis, alat tulis lengkap, tas, sepatu, dsb tanpa kekurangan plus bimbel, dan mereka ternyata tidak seberuntung saya. Dan saat itu saya merasa bahwa saya adalah salah satu dari anak Indonesia yang mendapatkan kesempatan yang baik untuk mendapatkan pendidikan yang cukup dan layak. Saya bersyukur. Entah karena rasa syukur saya yang begitu besar itu akhirnya saya memutuskan untuk menjadi aktivis sejati, menomerduakan kuliah saya, dan saya benar-benar ingin mengabdi untuk orang-orang yang hidupnya tidak seberuntung saya. Mulai dari mendidik anak kecil. Saya pun pada akhirnya jatuh cinta telak kepada negeri ini. Indonesia. Sehingga orang-orang hanya geleng-geleng kepala melihat saya yang tingkat 6 ini belum lulus juga. Namun akhir-akhir ini saya kembali berfikir, bahwa saya akan bisa bermanfaat lebih untuk orang banyak ketika saya belajar lebih banyak. Ya belajar lebih banyak untuk mengajar lebih banyak. Hingga saya berfikir untuk menekuni kembali ilmu saya, yakni epidemiologi dan penyakit tropik, berusaha mencintai sepenuh hati, karena saya juga berfikir, dengan IPK yang tinggi ini akan lebih indah jika bisa mencetak generasi ber-IPK tinggi lainnya yang kemudian bisa bermanfaat untuk sekitarnya, terus-menerus. Dosen. Ya saya ingin mengajar di tempat yang sedang membutuhkan tenaga pengajar epidemiologi. Entah mengapa saya merasa bosan hidup di pulau Jawa, dan saya telah memutuskan untuk meneruskan kehidupan saya di Pulau lain di Indonesia tercinta ini, sambil melanjutkan kuliah, dan mengajar generasi penerus, menanamkan idealisme kebangsaan kepada mereka, bukan idealisme “materialistis”. Dan tentu saja akan merealisasikan mimpi saya untuk mengajar anak-anak  kecil tiap sore, belajar apapun, mendirikan rumah belajar, dengan pendanaan dari siapapun yang ikhlas membantu. Tadinya saya menggantungkan mimpi-mimpi saya ini kepada dia yang akan menjadi suami saya, siapapun dia. Namun saya berusaha logis dan realistis bahwa dengan atau tanpa seorang teman hidup pun saya harus tetap menjadi manusia yang bermanfaat, mewujudkan mimpi-mimpi saya. Dan saya berharap siapapun ia yang menjadi teman hidup saya kelak tidak terlalu menyusahkan saya untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya. Saya mencintai pendidikan, mencintai anak-anak, mencintai generasi, mencintai Indonesia.

 

— Kamar Kos Baitunnisa,

Yogya, 8 Oktober 2012

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s