SITUASI TANGGAP BENCANA DI USA VS INDONESIA

Kutipan Reflektif: “…Sehingga BNPB mengalami kesulitan dalam menjalankan fungsi koordinasi guna mencegah terjadinya tumpang tindihnya kebijakan, program dan anggaran baik di tingkat nasional maupun di tingkat daerah yang berimplikasi pada masalah koordinasi. Berkenaan dengan hal tersebut maka perlu menegaskan peran para pihak lain, K/L dan SKPB di dalam penanggulangan bencana,” (dikutip dari berita tribunnews.com: 28 November 2013)

Kondisi tanggap bencana di USA dapat dikatakan telah terorganisir dengan rapi dan terintegrasi, terdapat sinergisitas kinerja antara pihak satu dengan yang lain untuk saling bahu-membahu menangani bencana (Pramudya, 2013). Tidak dapat dipungkiri bahwa permasalahan utama ketika bencana (pra-saat-pasca) bukanlah kesakitan, kematian, dan kerugian, namun disebabkan oleh manajemen yang buruk yang kemudian membuat kondisi memburuk (Munira, 2013).

Menurut Pramudya (2013), USA telah memiliki sistem manajemen tanggap bencana yang baik. Dalam konteks birokrasi pemerintahan di USA terdapat US Homeline Security yang bertugas menjamin keamanan dalam negeri,  US Homeline Security membentuk Federal Emergency Management Agency (FEMA) yang merupakan suatu sistem manajemen bencana yang dibagi menjadi tiga, yakni: manajemen logistik, manajemen SDM, dan manajemen organisasi. FEMA sendiri kemudian membentuk sistem komando (pra-saat-pasca) bencana yang disebut dengan ICS (Incident Command System).

Incident Command System (ICS) yang bisa diterjemahkan sebagai Sistem Komando Bencana dikembangkan di Amerika Serikat pada tahun 1970an. Ketika itu terjadi bencana besar kebakaran di wilayah California. Kerugian harta benda ditaksir mencapai jutaan dolar dan banyak menelan korban jiwa baik meninggal maupun luka-luka. Penelitian yang dilakukan atas peristiwa tersebut menunjukkan bahwa masalah respon bencana diakibatkan oleh tidak bagusnya manajemen penanganan bencana. Sedangkan kurangnya sumber daya atau gagalnya taktik penanganan bencana jarang menjadi penyebab masalah buruknya penanganan bencana.

“Penelitian yang dilakukan atas peristiwa tersebut menunjukkan bahwa masalah respon bencana diakibatkan oleh tidak bagusnya manajemen penanganan bencana”

 ICS ini tidak hanya bisa diterapkan pada kondisi bencana, namun dapat juga digunakan untuk mengatur jalannya sebuah acara. ICS ini bagian penting dalam National Incident Management System (NIMS).  ICS digunakan di berbagai tingkatan adminsitrasi, baik pusat, daerah, maupun lokal. Begitu pula dengan sektor privat dan lembaga sosial masyarakat. Sistem ini diterapkan untuk mengorganisasi bencana dari yang kecil maupun yang paling rumit, baik bencana alam maupun bencana buatan manusia (terorisme). Sistem ini terstruktur untuk memfasilitasi segala aktifitas yang terangkum dalam 5 fungsi utama, yaitu :  komando, operasi, perencanaan, logistik, dan administrasi.

Prinsip komando dalam ICS ini terbagi dalam beberapa bagian. Bagian pertama yang harus dipahami adalah Rantai Komando. Rantai komando artinya adanya urutan garis otoritas dan hubungan pelaporan dari tingkat yang lebih rendah ke tingkat yang lebih tinggi. Segala laporan dan perintah harus mentaati garis rantai komando. Namun, hal ini tidak berlaku untuk aktifitas yang lain seperti meminta dan membagi informasi. Informasi dapat dibagi dan disebarluaskan secara fleksibel antar lini. Bagian yang kedua adalah Kesatuan Komando. Di bawah kesatuan komando, seluruh personel harus melapor hanya pada satu supervisor dan menerima tugas hanya dari supervisor tersebut.

Struktur organisasi ICS:

Berikut ini job desc dari masing-masing bidang:

  1. Komandan bencana bertugas sebagai supervisor yang mengatur alur mitigasi bencana, komando bersifat terpusat namun saling sinergis dan terintegrasi antara satu lini ke lini lain yang ada di bagan di atas.
  2. Petugas informasi masyarakat bertugas sebagai komando arus keluar masuk informasi satu pintu, bertugas untuk mengadakan pers conference, hanya bagian ini saja yang berhak mendistribusikan informasi kepada masyarakat atau pihak luar pada saat terjadi bencana, sehingga tidak terjadi simpang siur informasi. Hal tersebut untuk mencegah masyarakat atau pihak luar tidak cemas dan panik oleh pemberitaan media versi a-b-c.
  3. Petugas keselamatan bertugas untuk memastikan kondisi bahaya. Dalam hal ini apabila kondisi buruk terjadi maka petugas keselamatan berhak memberi komando kepada relawan atau petugas kesehatan lainnya untuk segera meninggalkan lokasi bencana saat itu juga untuk mencegah kesakitan dan kematian yang lebih besar tanpa harus meminta ijin kepada komandan bencana.
  4. Petugas penghubung (LO) ini bertugas sebagai humas, apabila pejabat ingin mendatangi lokasi bencana, bertugas juga sebagai penghubung apabila ada negara lain yang ingin memberikan bantuan pada saat bencana.

Untuk pemberdayaan masyarakat dibentuk CERT (Community Emergency Respons Team) dengan sekup-sekup kecil di masing-masing wilayah. Ketika terjadi bencana CERT tersebut diaktifkan, CERT diartikan sebagai sukarelawan yang diaktifkan ketika terjadi bencana, dan mengikuti training serta upgrading berkala di setiap summer sehingga tidak lupa dengan keterampilan yang diajarkan pada saat pelatihan. Masing-masing anggota CERT diberikan satu buah tas yang berisikan peralatan yang menunjang ketika mereka diterjunkan pada saat bencana, seperti baju keselamatan, helm, peralatan palu dkk, serta makanan. Selain itu juga setiap masyarakat diberikan buku saku yang dibagikan di stand-stand pengenalan bencana dan penanggulangannya yang diadakan di setiap summer.

Tabel Refleksi Kondisi Kesiapsiagaan di USA dan Indonesia

Kondisi Lapangan

USA

Indonesia

Sistem & Policy

Terpusat, satu komando, sinergis, bekerja sesuai job desc dan fokus terhadap perannya masing-masing, strict to the point, sistem diaplikasikan dengan baik dan manajerial yang baik.

Birokrasi tidak berbelit-belit, flexible, namun terfokus. Terdapat ICS yang berfungsi dengan baik.

Terlalu banyak kebijakan yang normatif dan tidak dijalankan, sehingga terjadi tumpang tindih protap. Misal Kementrian X membuat kebijakan A dan Kementrian Y membuat kebijakan B, dan lalu jalan masing-masing sehingga terjadi kebingungan sendiri di tingkat pusat antara X dan Y. Birokrasi berbelit-belit untuk urusan alur pra-saat-pasca bencana. Terlalu banyak sistem yang dibuat namun tidak diaplikasikan. Yang pada akhirnya berdampak pada carut-marutnya manajerial bencana yang ditinjau dari berbagai aspek.

Pada bulan Maret 2013 BPNB membuat ICS, namun sampai sekarang manajemen masih perlu ditinjau ulang.

Manajerial

Baik sesuai SOP yang telah dibuat

Belum baik karena SOP banyak versi dan terlalu banyak teori yang normatif/ideal namun saat pelaksanaan tidak ideal

Edukasi Masyarakat

Masyarakat antusias mencari informasi untuk bencana

Kultur di Indonesia, masyarakat kurang dalam “mencari tahu”,  tidak seluruh masyarakat mau diberdayakan untuk mandiri pada saat bencana terjadi.

Humas/LO

Ada humas yang mengawal pejabat untuk memasuki lokasi bencana tanpa embel-embel politik kepartaian

Terkadang bencana digunakan sebagai kesempatan untuk partai politik dalam melakukan pencitraan dengan didirikannya tenda-tenda berbendera partai yang saling menunjukkan eksistensi masing-masing

Relawan

Ada komunitas relawan yang selalu diupgrade

Relawan dari LSM, dan juga relawan dadakan.

Referensi:

  1. Wawancara dengan Dr. Yudhi Pramudya, pada 24 Desember 2013, pukul 12.30-13.20
  2. seputarbencana.wordpress.com, blog milik Dr. Yudhi, diunduh pada 24 Desember 2013
  3. http://www.tribunnews.com/nasional/2013/11/28/harus-ada-revitalisasi-sistem-penanggulangan-bencana-di-indonesia, diunduh pda 24 Desember 2013
  4. http://www.bnpb.go.id/uploads/pubs/577.pdf, diunduh pada 24 Desember 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s