Survival Saat Bencana dan Relawan ASI Saat Bencana

Survival Saat Bencana dan Relawan ASI

Usaha pencegahan dan penanggulangan bencana secara cepat dan tepat wajib dilakukan, baik oleh warga dan pemerintah. Salah satu yang sangat penting, tetapi sering diabaikan, perihal sistem manajemen logistik kebencanaan. Logistik dalam pengertian manajemen bencana berarti segala sesuatu yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup manusia, baik pangan, sandang, papan, dan turunannya. Termasuk dalam kategori logistik ialah barang yang habis dikonsumsi, misalnya sembako, obat-obatan, selimut, pakaian dan perlengkapannya, air, tenda, jas hujan, dan sebagainya.

Pada tahap pra, saat, dan pasca bencana, ketersediaan logistik yang cukup merupakan syarat mutlak karena berhubungan langsung dengan kelangsungan hidup korban bencana. Sebagai contoh, proses penanganan distribusi logistik korban gempa dan tsunami di Kepulauan Mentawai dilaporkan masih banyak kantong pengungsian yang belum tersentuh bantuan. Padahal, pengungsi sangat membutuhkan selimut, makanan, air bersih, dan obat-obatan. Sulitnya distribusi bantuan ini, antara lain, disebabkan sulitnya akses transportasi (baik darat maupun laut).

Secara umum, kesuksesan rantai pasok logistik bencana berdasar pada empat hal utama, yakni tempat atau titik masuknya logistik, gudang utama, gudang penyalur, dan terakhir gudang penyimpanan terakhir. Keempat pilar ini akan ditentukan oleh faktor informasi-komunikasi, jalur dan sistem distribusi, sarana tranportasi, dan manajemen persediaan atau ”stock management”.

Terdapat lima hal yang harus segera dibenahi agar sistem manajemen logistik bencana dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Pertama, kesiapan kader, operasional logistik sangat bergantung pada kader yang terampil, terlatih, dan cekatan. Kebutuhan kader logistik bencana dapat dipenuhi lewat dua jalur, yakni tenaga tetap dan tenaga sukarelawan. Masyarakat sekitar, terutama pemuda-pemudi, dapat diberdayakan menjadi sukarelawan setelah mendapat bekal pendidikan yang cukup akan menjadi garda terdepan dalam proses penyiapan rantai pasok dari awal sampai dengan titik tujuan bencana. Di luar negeri, seperti Amerika Serikat, penyiapan kader logistik sudah ditangani secara serius dan profesional. Tiap tahun, misalnya, Federal Emergency Management Agency (FEMA) menyelenggarakan acara yang dikenal dengan ”Logistic Management Boot Camp” yang sebagian besar diisi pelatihan dan simposium.

Kedua, terkait fungsi perencanaan. Pada kondisi darurat sering kali ditemukan proses distribusi yang kacau balau, tidak adanya garis komando, tumpang tindih fungsi kerja, dan sebagainya. Hal-hal seperti ini dapat dimaklumi dalam jangka waktu tertentu, namun tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Harus ada fungsi pengendalian yang direncanakan diawal. Pada saat pra bencana, fungsi perencanaan bertujuan mengetahui seberapa banyak jumlah korban yang membutuhkan bantuan logistik, mengetahui berapa banyak bantuan logistik yang dibutuhkan, mengetahui jenis kebutuhan (papan, pangan, dan sandang), mengetahui cara menyampaikan bantuan, mengetahui kapan bantuan harus diberikan, dan terakhir mengetahui siapa penanggung jawab kelompok penerima bantuan. Dalam tataran yang lebih luas, fungsi perencanaan mampu berbicara dengan berbagai level skenario, antara lain perencanaan saat kejadiaan bencana, perencanaan pascabencana, perencanaan rehabilitasi dan konstruksi.

Ketiga, ketersediaan sarana dan prasarana. Aspek ini meliputi penyediaan sarana dan prasarana untuk proses penyimpanan (gudang) dan proses distribusi (berbagai moda transportasi, darat, laut, dan udara). Akses jalan darat, seperti semua jalan di lereng Gunung Merapi, semestinya segera diperbaiki. Di samping mempermudah evakusi, jalan yang berfungsi dengan baik akan mempercepat proses pengangkutan barang dan material. Kendala yang dihadapi saat ini, ketersediaan alat-alat tersebut masih terbatas, misalnya yang dimiliki Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), khususnya di BPBD Jateng.

Keempat, terkait keterlacakan dan akuntabilitas. Harus dicarikan solusi alternatif bagaimana membangun sebuah sistem yang mampu menyuguhkan data stok dan posisi bantuan secara ”real time” dan terhubung ke semua pemangku kepentingan yang terkait. FEMA USA, misalnya, telah memiliki Logistic Visibility Tools (LogVIZ) yang mampu menampilkan data secara cepat, akurat, transparan, dan terkoneksi secara baik. Tidak kalah penting adalah kerja sama dan kolaborasi dengan sektor swasta seperti donatur, lembaga swadaya masyarakat, dan lain-lain. Sosialisasi perihal sistem logistik manajemen perlu digalakkan secara serius agar semua pemangku kepentingan memiliki pemahaman yang seragam. Berikut bantuan-bantuan yang diperlukan masyarakat untuk kelangsungan hidup pada saat dan pasca bencana:

Bantuan Tempat Penampungan/Hunian Sementara

Bantuan penampungan/hunian sementara diberikan dalam bentuk tenda-tenda, barak, atau gedung fasilitas umum/sosial, seperti tempat ibadah, gedung olah raga, balai desa, dan sebagainya, yang memungkinkan untuk digunakan sebagai tempat tinggal sementara.

Bantuan Pangan

Bantuan pangan diberikan dalam bentuk bahan makanan, atau masakan yang disediakan oleh dapur umum. Bantuan pangan bagi kelompok rentan diberikan dalam bentuk khusus.

Bantuan Non Pangan

Bantuan non pangan diberikan kepada korban bencana dalam status pengungsi di tempat hunian sementara pada pasca tanggap darurat, dalam bentuk : Peralatan Memasak dan Makan, Kompor, Bahan Bakar, dan Penerangan, Alat-alat dan Perkakas.

Bantuan Sandang

Bantuan Sandang terdiri dari : Perlengkapan Pribadi (pakaian, peralatan tidur, pakaian dalam, alas kaki)

Kebersihan Pribadi

Tiap rumah tangga memperoleh kemudahan mendapatkan bantuan sabun mandi dan barang-barang lainnya untuk menjaga kebersihan, kesehatan, serta martabat manusia.

Bantuan Air Bersih dan Sanitasi

Bantuan Air Bersih: Diberikan dalam bentuk air yang kualitasnya memadai untuk kebersihan pribadi maupun rumah tangga tanpa menyebabkan risiko yang berarti terhadap kesehatan.

Bantuan Air Minum: Diberikan dalam bentuk air yang dapat diminum langsung atau air yang memenuhi persyaratan kesehatan untuk dapat diminum.

Bantuan Sanitasi: Diberikan dalam bentuk pelayanan kebersihan dan kesehatan lingkungan yang berkaitan dengan saluran air (drainase), pengelolaan limbah cair dan limbah padat, pengendalian vektor, serta pembuangan tinja.

Bantuan Pelayanan Kesehatan

Korban bencana, baik secara individu maupun berkelompok, terutama untuk kelompok rentan, dapat memperoleh bantuan pelayanan kesehatan.

Ibu dan anak‐anak, terutama bayi, adalah korban yang paling rentan ketika terjadi bencana. Media memiliki peran yang penting untuk melindungi bayi dalam keadaan darurat dengan tidak memberikan  dukungan  pada  donator  yang  menyumbangkan  susu  formula   dan mengingatkan pembaca bahwa Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan yang paling steril dan bisa mencegah penyakit pada bayi, sedangkan makanan buatan akan menambah risiko bagi bayi.  Bayi memiliki kebutuhan nutrisi khusus dan dilahirkan dengan sistem kekebalan tubuh yang

belum sempurna. Untuk bayi yang masih menyusui, ASI akan memenuhi kebutuhan makanan

untuk mereka dan sekaligus kekebalan tubuh yang melindungi mereka dalam kondisi darurat.

Media  memiliki  peran  yang  sangat  penting  untuk  melindungi  bayi  dan  anak‐anak  dalam kondisi  darurat  dengan  menyebaran  informasi  dukungan  terhadap  ibu  menyusui  dan penggunaan  susu  bubuk  dan  susu  formula  yang  tepat.  Media  bisa  membantu  dengan memasukkan cerita‐cerita seperti ini :

  1. Dukung ibu untuk tetap menyusui adalah cara yang paling pasti untuk melindungi bayi dalam kondisi darurat. 
  2. Menyusui bisa dilakukan  seorang  ibu dalam  kondisi  apapun, termasuk  jika  sedang stress, ibu tetap bisa memberikan susu yang cukup untuk bayinya.
  3. Penggunaan  susu  bubuk  dan  susu  formula  secara  sembarangan  sangat membahayakan kondisi bayi, menyebabkan sakit bahkan kematian.
  4. Relawan harap menyampaikan bahwa tidak ada kebutuhan untuk susu formula dalam jumlah  yang  sangat  besar  pada  saat  kondisi  darurat  dan  jika benar-benar membutuhkan bisa  disediakan  secara  lokal. 
  5. Tidak  perlu  sumbangan  susu formula, susu bubuk dan botol bayi dalam kondisi darurat bencana
  6. Anggota masyarakat dan lembaga bantuan disadarkan bahwa distribusi susu formula dan susu bubuk yang tidak tepat akan dilaporkan kepada pihak yang berwenang.
  7.  Berikut ini pedoman dan pengelolaan pemberian makanan bayi dalam kondisi darurat : 
  • Ibu  yang menyusui  anaknya harus diberikan dukungan dan bantuan praktis untuk meneruskan  menyusui,  mereka tidak  boleh  sembarangan  diberikan  bantuan  susu formula dan susu bubuk.
  • Ibu yang sudah tidak lagi menyusui, misalnya ibu yang telah menyapih anaknya harus didukung untuk memulai relaktasi dan mencari ibu susu untuk bayi tanpa ibu.
  • Jika ada bayi yang tidak bisa disusui, bayi tersebut harus diberikan susu formula dan perlengkapan untuk menyiapkan susu tersebut, dibawah pengawasan yang ketat dan kondisi kesehatan bayi harus tetap dimonitor.
  • Botol bayi sebaiknya tidak digunakan karena risiko terkontaminasi, kesulitan untuk membersihkan botol‐gunakan sendok atau cangkir untuk memberikan susu kepada bayi.
  • Jika  susu bubuk yang tersedia dicampur dengan makanan lokal yang ada  sebelum didistribusikan, itu juga bukan merupakan pengganti ASI.
  • Upayakan untuk melindungi dan mendukung menyusui dan memastikan pemberian makanan yang aman untuk anak‐anak.

Situasi berbeda dialami oleh bayi yang tidak menyusui. Dalam keadaan darurat, persediaaan makanan terhambat dan tidak ada persediaan air bersih untuk membuat susu formula atau membersihkan botol susu yang akan digunakan. Dalam kondisi seperti ini, bayi yang tidak menyusui  rentan  terhadap  infeksi  dan  diare.  Bayi  yang  menderita  diare  sangat  mudah terserang malnutrisi dan dehidrasi serta meningkatkan risiko kematian.

Pengalaman sebelumnya di Indonesia menunjukkan bahwa susu formula dan susu bubuk adalah bantuan yang umum diberikan dalam keadaan darurat. Sayangnya, produk-produk ini seringkali dibagikan tanpa kontrol yang baik dan dikonsumsi oleh bayi dan anak-anak yang seharusnya masih harus disusui.

Hasil dari sebuah penilaian yang dilakukan UNICEF satu bulan setelah gempa di Yogyakarta di tahun 2006 menunjukkan bahwa tiga dari empat keluarga yang memiliki anak-anak di bawah usia enam bulan juga menerima bantuan susu formula. Hasil tersebut juga menunjukkan adanya peningkatan konsumsi susu formula dari 32% sebelum gempa menjadi 43% setelah gempa. Akibatnya, kasus-kasus penyakit diare di kalangan bayi usia di bawah enam bulan yang menerima bantuan susu formula dua kali lebih banyak dibandingkan mereka yang tidak menerima bantuan itu. Di samping itu, secara rata-rata, angka diare di kalangan anak-anak usia antara 6 – 23 bulan adalah 5 kali lebih besar dari angka sebelum gempa.

Sudah menjadi suatu keyakinan bahwa pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama dalam kehidupan bayi diikuti dengan pemberian ASI degan makanan tambahan sampai usia dua tahun merupakan sebuah cara yang paling efektif untuk menjamin kesehatan bayi dan pertumbuhannya yang normal.

Manfaat dari pemberian ASI jauh melebihi masa bayi itu sendiri. Bayi yang disusui dengan benar di awal kehidupannya akan tumbuh lebih besar, lebih kuat, lebih pintar, dan lebih bisa menyesuaikan diri dibandingkan bayi yang tidak disusui. Dengan kampanye untuk menyosialisasikan praktek pemberian ASI oleh ibu-ibu yang memiliki bayi sedang diintensifkan di seluruh negeri, masyarakat yang sedang menghadapi situasi darurat dan bencana alam menjadi semakin siap untuk mengasuh bayi-bayi mereka di bawah kondisi yang membuat stres ini.

Bencana selalu menyisakan trauma, beban trauma ini juga dirasakan bagi seorang Ibu Menyusui. Padahal kondisi mental akan mempengaruhi produksi ASI ibu yang bersangkutan. Jika Ibu dalam kondisi tertekan maka hormon oksitosin yang mengatur produksi ASI akan turun yang berakibat pada sedikitnya ASI yang diproduksi. Jika ASI yang diproduksi sedikit maka bayi akan kekurangan nutrisi. Hal ini berbahaya jika dibiarkan sementara pemberian susu formula saat kondisi bencana justru berbahaya karena bisa menimbulkan persoalan lain seperti diare. Seperti kita ketahui kondisi pasca bencana selalu membuat persediaan air bersih terbatas. Padahal untuk menyajikan susu formula membutuhkan air bersih baik untuk menyeduhnya maupun mensterilkan wadahnya. Dalam kondisi demikian ASI tetap yang terbaik buat bayi. Unicef dan WHO telah mengingatkan bahaya pemberian susu formula di pengungsian. Apa yang terjadi pasca bencana Gempa di Bantul Yogyakarta hendaklah dijadikan pelajaran. Pemberian susu formula kala itu justru meningkatkan terjadinya diare pada anak dibawah usia dua tahun. Dimana ternyata 25 % dari penderita itu meminum susu formula.

Selama ini kurangnya pemahaman terhadap ASI telah menghambat pemberian ASI di pengungsian. Terlebih pada petugas kesehatan hendaknya telah paham lebih dulu dan bisa mengajak pihak lain untuk tetap memberikan ASI saat bencana.

Yang kedua adalah dukungan berupa pendampingan secara psikologis. Diperlukan tenaga-tenaga pendamping yang memiliki kompetensi dalam hal kejiwaan. Ini akan membantu Ibu Menyusui dalam mengelola stress sehingga bisa rileks dan mampu memproduksi ASI yang cukup. Stres pasca trauma yang dialami biasanya berupa panic, cemas, sulit tidur, berkurang atau berhentinya produksi ASI dan lain-lain. Stres Ibu Menyusui harus segera dipulihkan agar kegiatan menyusui bisa terus berlanjut.

Yang ketiga diperlukan relawan ASI, yang mendampingi dan memantau pemberian ASI di pengungsian. Kondisi stress tak jarang membuat produksi ASI sedikit bahkan terhenti sama sekali. Untuk itu diperlukan tindakan Relaktasi yaitu proses menyusui kembali setelah sempat berhenti beberapa waktu. Proses Relaktasi ini sebenarnya hanyalah membiarkan bayi menyusu kembali sesering mungkin. Namun prosesnya sungguh memerlukan kesabaran tingkat tinggi. Mengapa? Karena prosesnya memerlukan kondisi Ibu yang rileks agar ASI keluar dan membiasakan bayi kembali menghisap puting terkadang memerlukan waktu yang tidak singkat. Jika dalam kondisi normal artinya tidak dalam bencana proses akan lebih mudah. Melihat kondisi pengungsian yang crowded tentu dibutuhkan usaha lebih keras lagi. Disinilah letak pentingnya Relawan ASI yang tidak hanya paham seluk-beluk ASI juga bersedia memberikan seluruh hati, jiwa dan waktunya untuk mendampingi Ibu Menyusui di pengungsian. Sosok Relawan ASI harus tahan akan tekanan dan harus lebih sabar daripada Ibu Menyusui tadi.

Yang Keempat, berikan cairan yang cukup bagi Ibu Menyusui, meski dalam kondisi kekurangan gizi ringan jika tetap cukup cairan maka ASI tetap bisa diproduksi.

Referensi:

http://fmeindonesia.wordpress.com/2009/11/29/pemulihan-perekonomian-daerah-bencana/, diunduh pada 19 Desember 2013

http://www.brookings.edu/~/media/research/files/reports/2006/11/natural%20disasters/11_natural_disasters_bah.pdf, diunduh pada 19 Desember 2013

http://www.gitews.org/tsunami-kit/en/E6/further_resources/national_level/peraturan_kepala_BNPB/Perka%20BNPB%207-2008_Tata%20Cara%20Pemberian%20Bantuan%20Pemenuhan%20Kebutuhan%20Dasar.pdf, diunduh pada 19 Desember 2013

http://ratnaazisprasetyo.blogspot.com/2010/12/masyarakat-korban-bencana.html, diunduh pada 19 Desember 2013

http://health.kompas.com/read/2010/11/22/10235682/Urgensi.Manajemen.Logistik.Bencana, diunduh pada 19 Desember 2013

http://firdaussandy.blogspot.com/2012/12/peranan-manajemen-logistik-dalam.html, diunduh pada 19 Desember 2013

http://www.gizikia.depkes.go.id/wp-content/uploads/2012/06/lb-1-20082.pdf, diunduh pada 19 Desember 2013

http://www.bnpb.go.id/uploads/pubs/52.pdf, diunduh pada 19 Desember 2013

http://www.rahmatullah.net/2013/10/model-pemetaan-kebutuhan-masyarakat.html, diunduh pada 19 Desember 2013

http://aimi-asi.org/wp-content/uploads/2013/01/22-MELINDUNGI-BAYI-DALAM-KEADAAN-DARURAT.pdf, diunduh pada 19 Desember 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s