PROMOSI PEMBERIAN AIR SUSU IBU (ASI) PADA SAAT BENCANA

Ibu dan anak-anak, terutama bayi adalah korban yang paling rentan ketika terjadi bencana. Media memiliki peran yang penting untuk melindungi bayi dalam keadaan darurat dengan tidak memberikan dukungan pada donatur yang menyumbangkan susu formula dan mengingatkan pembaca bahwa air susu ibu (ASI) adalah makanan yang paling steril dan bisa mencegah penyakit pada bayi, sedangkan makanan buatan akan menambah risiko bagi bayi.

Bayi memiliki kebutuhan nutrisi khusus dan dilahirkan dengan sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna. Untuk bayi yang masih menyusui, ASI akan memenuhi kebutuhan makanan untuk mereka dan sekaligus kekebalan tubuh yang melindungi mereka dalam kondisi darurat. Media memliki peran yang sangat penting untuk melindungi bayi dan anak-anak dalam kondisi darurat dengan menyebarkan informasi dukungan terhadap ibu menyusui dan penggunaan susu bubuk dan susu formula yang tepat. Media bisa membantu dengan memasukkan cerita-cerita seperti ini:

  1.     Dukung ibu untuk tetap menyusui adalah cara yang paling pasti untuk melindungi bayi

dalam kondisi darurat.

  1.     Menyusui bisa dilakukan  seorang  ibu dalam  kondisi  apapun, termasuk  jika  sedang stress, ibu tetap bisa memberikan susu yang cukup untuk bayinya.
  2.     Penggunaan  susu  bubuk  dan  susu  formula  secara  sembarangan  sangat membahayakan kondisi bayi, menyebabkan sakit bahkan kematian.
  3.     Relawan harap menyampaikan bahwa tidak ada kebutuhan untuk susu formula dalam jumlah  yang  sangat  besar  pada  saat  kondisi  darurat  dan  jika benar-benar membutuhkan bisa  disediakan  secara  lokal.
  4.     Tidak  perlu  sumbangan  susu formula, susu bubuk dan botol bayi dalam kondisi darurat bencana
  5.     Anggota masyarakat dan lembaga bantuan disadarkan bahwa distribusi susu formula dan susu bubuk yang tidak tepat akan dilaporkan kepada pihak yang berwenang.

Pengalaman sebelumnya di Indonesia menunjukkan bahwa susu formula dan susu bubuk adalah bantuan yang umum diberikan dalam keadaan darurat. Sayangnya, produk-produk ini seringkali dibagikan tanpa kontrol yang baik dan dikonsumsi oleh bayi dan anak-anak yang seharusnya masih harus disusui.

Hasil dari sebuah penilaian yang dilakukan UNICEF satu bulan setelah gempa di Yogyakarta di tahun 2006 menunjukkan bahwa tiga dari empat keluarga yang memiliki anak-anak di bawah usia enam bulan juga menerima bantuan susu formula. Hasil tersebut juga menunjukkan adanya peningkatan konsumsi susu formula dari 32% sebelum gempa menjadi 43% setelah gempa. Akibatnya, kasus-kasus penyakit diare di kalangan bayi usia di bawah enam bulan yang menerima bantuan susu formula dua kali lebih banyak dibandingkan mereka yang tidak menerima bantuan itu. Di samping itu, secara rata-rata, angka diare di kalangan anak-anak usia antara 6 – 23 bulan adalah 5 kali lebih besar dari angka sebelum gempa.

Bencana selalu menyisakan trauma, beban trauma ini juga dirasakan bagi seorang ibu menyusui. Padahal kondisi mental akan mempengaruhi produksi ASI ibu yang bersangkutan. Jika ibu dalam kondisi tertekan maka hormon oksitosin yang mengatur produksi ASI akan turun yang berakibat pada sedikitnya ASI yang diproduksi. Jika ASI yang diproduksi sedikit maka bayi akan kekurangan nutrisi. Hal ini berbahaya jika dibiarkan sementara pemberian susu formula saat kondisi bencana justru berbahaya karena bisa menimbulkan persoalan lain seperti diare. Seperti kita ketahui kondisi pasca bencana selalu membuat persediaan air bersih terbatas. Padahal untuk menyajikan susu formula membutuhkan air bersih baik untuk menyeduhnya maupun mensterilkan wadahnya. Dalam kondisi demikian ASI tetap yang terbaik buat bayi.

Selama ini kurangnya pemahaman terhadap ASI telah menghambat pemberian ASI di pengungsian. Terlebih pada petugas kesehatan hendaknya telah paham lebih dulu dan bisa mengajak pihak lain untuk tetap memberikan ASI saat bencana. Perlu adanya dukungan berupa pendampingan secara psikologis. Diperlukan tenaga-tenaga pendamping yang memiliki kompetensi dalam hal kejiwaan. Ini akan membantu ibu menyusui dalam mengelola stress sehingga bisa rileks dan mampu memproduksi ASI yang cukup. Stres pasca trauma yang dialami biasanya berupa panik, cemas, sulit tidur, berkurang atau berhentinya produksi ASI. Stres ibu menyusui harus segera dipulihkan agar kegiatan menyusui bisa terus berlanjut. Dalam kondisi bencana diperlukan relawan ASI, yang mendampingi dan memantau pemberian ASI di pengungsian. Untuk itu diperlukan tindakan relaktasi yaitu proses menyusui kembali setelah sempat berhenti beberapa waktu. Proses relaktasi ini sebenarnya hanyalah membiarkan bayi menyusu kembali sesering mungkin. Namun prosesnya sungguh memerlukan kesabaran tingkat tinggi. Mengapa? Karena prosesnya memerlukan kondisi ibu yang rileks agar ASI keluar dan membiasakan bayi kembali menghisap puting terkadang memerlukan waktu yang tidak singkat.

 

Referensi:

http://fmeindonesia.wordpress.com/2009/11/29/pemulihan-perekonomian-daerah-bencana/, diunduh pada 19 Desember 2013

http://www.brookings.edu/~/media/research/files/reports/2006/11/natural%20disasters/11_natural_disasters_bah.pdf, diunduh pada 19 Desember 2013

http://www.gitews.org/tsunami-kit/en/E6/further_resources/national_level/peraturan_kepala_BNPB/Perka%20BNPB%207-2008_Tata%20Cara%20Pemberian%20Bantuan%20Pemenuhan%20Kebutuhan%20Dasar.pdf, diunduh pada 19 Desember 2013

http://ratnaazisprasetyo.blogspot.com/2010/12/masyarakat-korban-bencana.html, diunduh pada 19 Desember 2013

http://health.kompas.com/read/2010/11/22/10235682/Urgensi.Manajemen.Logistik.Bencana, diunduh pada 19 Desember 2013

http://firdaussandy.blogspot.com/2012/12/peranan-manajemen-logistik-dalam.html, diunduh pada 19 Desember 2013

http://www.gizikia.depkes.go.id/wp-content/uploads/2012/06/lb-1-20082.pdf, diunduh pada 19 Desember 2013

http://www.bnpb.go.id/uploads/pubs/52.pdf, diunduh pada 19 Desember 2013

http://aimi-asi.org/wp-content/uploads/2013/01/22-MELINDUNGI-BAYI-DALAM-KEADAAN-DARURAT.pdf, diunduh pada 19 Desember 2013

 

Tulisan ini diikutkan dalam kompetisi blog kesehatan yg diselenggarakan IYHPS dengan HPEQ Project (http://hpeq.dikti.go.id

)Gambar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s