1000 Hari Awal Kehidupan

Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 untuk Angka Kematian Ibu (AKI) melonjak sangat signifikan dari 228 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 menjadi 359 per 100.000 kelahiran hidup. Hasil ini sangat mengejutkan, karena angka ini seolah mengembalikan situasi pada angka kematian ibu 15 tahun lalu, sekalipun telah banyak upaya yang dilakukan untuk menahan laju tingginya AKI ini. Angka Kematian Bayi (AKB) juga tidak mengalami penurunan yang mengesankan. Pada tahun 2002 AKB adalah 35 per 1000 kelahiran hidup. Pada tahun 2007, dilaporkan 34 per 1000 kelahiran dan pada tahun 2012 dilaporkan 32 per 1000 kelahiran hidup.

Selain tingginya angka kematian bayi dan balita, anak-anak Indonesia juga dibayangi oleh masalah kurang gizi. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas tahun 2010), persentase BBLR di Indonesia sebesar 8,8 persen, anak balita pendek sebesar 35,6 persen, anak balita kurus sebesar 13,3 persen, anak balita gizi kurang sebesar 17,9 persen. Sepertiga anak Indonesia usia dibawah lima tahun mengalami stunting (pendek), bahkan lebih dari seperlima anak sudah mengalami stunting pada usia 0-5 bulan, dan mencapai puncaknya pada usia antara 2-3 tahun, yaitu lebih dari 40%. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia pernah mengalami kekurangan gizi kronis dan berulang, yang dimulai pada usia sangat dini.

Periode seribu hari adalah 270 hari selama dalam kandungan dan 730 hari (2 tahun) setelah persalinan merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan organ yang menyusun berbagai sistem dalam tubuh. Proses pertumbuhan dan perkembangan ini memerlukan asupan zat gizi, baik yang dikonsumsi ibu maupun yang berasal dari cadangan ibu. Dampak buruk yang dapat ditimbulkan oleh kekurangan gizi pada 1000 hari awal kehidupan akan bersifat menetap. Dalam jangka pendek adalah terganggunya pertumbuhan fisik, gangguan metabolisme dalam tubuh dan perkembangan otak/kecerdasan. Sementara dalam jangka panjang, akan mengakibatkan menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar, menurunnya kekebalan tubuh sehingga mudah terjangkit penyakit infeksi, dan risiko tinggi untuk munculnya penyakit kronik seperti diabetes, penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, stroke, dan disabilitas pada usia tua. Keseluruhan hal tersebut akan menurunkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, produktivitas, dan daya saing bangsa di masa depan.

Perguruan Tinggi sebagai institusi pendidikan mempunyai tugas untuk melaksanakan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat harus memberi kontribusi bagi pencapaian tujuan MDGs. Namun, lebih dari pada sekedar melaksanakan tugas yang dikenal sebagai tri dharma perguruan tinggi, kontribusi tersebut merupakan tanggung jawab sosial dari setiap insan perguruan tinggi.

Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas) sejak tahun 2011 memulai suatu program inovatif yang dinamakan PROGRAM SATU MAHASISWA SATU BAYI UNTUK 1000 HARI, yang pada tahun 2014 ini diperbaharui dalam bentuk PROGRAM 1000 HARI AWAL KEHIDUPAN. Program ini bertujuan untuk memberi tanggung jawab kepada setiap mahasiswa yang baru masuk Fakultas kedokteran Unhas untuk mengawal seorang ibu hamil dari keluarga pra-sejahatera, sampai melahirkan dan mengikuti perkembangan ibu dan anaknya hingga berusia 2 tahun.

Hingga saat ini, meskipun partisipasi Universitas Hasanuddin dalam hal pembangunan kesehatan tidak bisa dianggap sepele, namun sejauh ini belum ada program kesehatan yang disusun dan direncanakan secara terstruktur dan berkesinambungan dalam jangka panjang yang melibatkan mahasiswa, dosen, instansi kesehatan pemerintahan daerah dan masyarakat.

Pada kegiatan ini, mahasiswa baru Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin akan mengasuh ibu hamil, bayi yang dilahirkan beserta keluarganya (kelompok prasejahtera) selama 1000 hari.  Bentuk pengasuhan berupa pemantauan kesehatan dan perkembangan ibu hamil dan bayi yang dilahirkannya, disertai dengan pendampingan dalam menghadapi masalah kesehatan baik menyangkut ibu dan bayinya, maupun yang ditemukan di dalam keluarga tersebut yang berpotensi mengganggu pertumbuhan dan perkembangan kehamilan ibu dan bayinya. Untuk memastikan proses pengasuhan berjalan dengan baik, dalam melakukan pengasuhan, 5 orang mahasiswa dibimbing oleh 1 orang mentor (kakak senior) dan untuk setiap 10-15 orang mahasiswa dan 2-3 orang mentor akan didampingi oleh satu orang dosen pembimbing.

Dalam proses pengasuhan, jika mahasiswa menemukan potensi permasalahan kesehatan, maka mahasiswa tersebut akan membuat rencana pengasuhan dan melaporkannya kepada mentor dan dosen pembimbing yang ditunjuk. Jika permasalahannya ringan dan membutuhkan  pengasuhan yang sifatnya umum, maka mentor dapat membantu mahasiswa dalam membuat rencana pengasuhan. Jika permasalahannya sedang, dan edukasi yang akan dilakukan memerlukan campur tangan mentor, maka mentor bersama mahasiswa setelah berkonsultasi dengan dosen pembimbing, akan bersama-sama melakukan pengasuhan. Jika permasalahan yang ada membutuhkan tindakan profesional dari ahlinya, maka mahasiswa harus melaporkan hal tersebut kepada mentor dan dosen pembimbing agar ibu hamil mendapat pengarahan yang sesuai alur rujukan. Jika diperlukan, seorang dosen pembimbing dapat mengadakan kegiatan yang dilaksanakan di puskesmas, puskesmas pembantu ataupun posyandu dengan melibatkan seluruh mahasiswa yang dibimbing beserta mentornya dengan berkordinasi dengan kordinator program dari Fakultas Kedokteran.

Dalam format baru program 1000 hari awal kehidupan ini telah dilengkapi dengan Buku Acuan, Buku Panduan Peserta (modul), Logbook dan pendataan berbasis teknologi informasi. Selama proses kegiatan, mahasiswa menggunakan logbook berbasis teknologi informasi yang mencatat riwayat kesehatan dan dipantau secara langsung oleh mentor dan dosen secara interaktif melalui web atau melalui pertemuan yang diatur secara regular. Setiap mahasiswa akan mendapat satu akun yang disertai user name dan password.  Akun tersebut dapat dibuka oleh mentor dan dosen pembimbingnya untuk diskusi interaktif melalui e-learning. Sistem Informasi akan mengkompilasi data dari semua mahasiswa, sehingga data ini akan dapat digunakan untuk keperluan pengasuhan, pelayanan kesehatan bahkan penelitian.

Program ini merupakan gerakan “turun tangan” kalangan kampus untuk ikut mengawal periode emas ini sehingga kelak para ibu hamil dari keluarga pra-sejahtera dapat melahirkan generasi yang berkualitas. Adapun fokus pengawalan dalam program ini:

  1. Nutrisi selama kehamilan yang cukup dan beragam.
  2. Edukasi tentang kesehatan pribadi dan lingkungan
  3. Pemantauan pemeriksaan antenatal minimal 4 x selama kehamilan.
  4. Penyaringan kemungkinan risiko komplikasi kehamilan
  5. Ikut memantau/mendata persalinan.
  6. Edukasi dan Menggiatkan Keluarga Berencana.
  7. Inisiasi Menyusu Dini dan ASI eksklusif 6 bulan.
  8. Memantau berat badan bayi dan panjang badan secara rutin setiap bulan.
  9. Memantau Imunisasi dasar wajib bagi bayi hingga 2 tahun.
  10. Memantau Pemberian Makanan Peralihan ASI (MP ASI) secara bertahap pada usia 6 bulan dan tetap memberikan ASI hingga 2 tahun.

Melalui kegiatan ini juga akan terbangun care relationship antara dosen-mentor-mahasiswa-ibu hamil-bayi. Sehingga program ini menjadi bagian dari pendidikan dan pembangunan karakter yang mengasah empati, membangun semangat mengabdi, menjadi garda terdepan pengawal generasi.

Kegiatan 1000 awal hari kehidupan diselenggarakan oleh FK Unhas bertempat di ruang Auditorium Amiruddin FK Unhas pada hari Minggu, tanggal 23 November 2014.

Dalam sambutannya dr. Maisuri menyampaikan bahwa Dekan FK Unhas Prof dr Irawan Yusuf PhD bersama Dr dr Armyn Nurdin merupakan pemrakarsa ide program satu mahasiswa, satu bayi untuk 1000 hari kehidupan, yang dimulai pada mahasiswa baru tahun 2011 di lokasi kawasan kumuh kota Makassar (Kec. Ujung Tanah dan Tamalanrea). Program ini merupakan salah satu bentuk care relationship di mana ada hubungan interaktif antara dosen pembimbing-mentor-mahasiswa-ibu hamil. Upaya yang telah dilakukan meliputi pemantauan nutrisi selama kehamilan yang cukup dan beragam, edukasi tentang kesehatan pribadi dan lingkungan, pemantuan pemeriksaan antenatl minimal 4 x selama kehamilan, pemantauan dan pendatan persalinan, edukasi menggiatkan keluarga berencana, inisiasi menyusui dini dan ASI eksklusif 6 bulan, penimbangan berat badan bayi dan panjang badan secra rutin setiap bulan, pemberian imunisasi dasar wajib bag bayi/ baduta (bawah dua tahun), serta pengawalan pemberian makanan peralihan ASI (MP ASI) secara bertahap pada usia 6 bulan dan tetap memberikan ASI hingga 2 tahun. Proses yang dilakukan adalah pengisian logbook virtual, kunjungan rumah periodik selama kehamilan-pasca persalinan bayi, family care: health behaviour, kondisi rumah dan lingkungan, kondisi kesejahteraan, pada tahun pertama melakukan pemantauan ibu hamil serta pengawalan ASI eksklusif dan keluarga berencana, dan di tahun kedua dan ketiga melakukan pemantuan pertumbuhan bayi-baduta, pemantauan gizi, imunisasi, KB.

Mengapa hal ini penting dilakukan?, karena 1000 hari awal kehidupan merupakan masa emas di mana proses perkembangan syaraf untuk kecerdasan, serta penentuan pertumbuhan dan kesehatan seumur hidup ditentukan. 1000 hari awal kehidupan juga untuk menyiapkan generasi emas calon pemimpin bangsa. Lesson learnt yang didapatkan dari program ini meliputi: membangun empati dan afektif, early community exposure, memahami masalah-masalah kesehatan sejak dini, mahasiswa menjadi agent of change, kehamilan risiko tinggi terdeteksi lebih awal, kesehatan ibu hamil-janin dan bayi terpantau, edukasi tentang perilaku sehat dalam keluarga, kehamilan dan persalinan yang bersih dan aman, gizi ibu hamil dan baduta, ASI eksklusif dan Keluarga Berencana, serta penurunan angka kematian ibu dan bayi. Pada tahun ini diturunkan sebanyak 310 mahasiswa untuk mendampingi ibu hamil dengan 81 mentor.

Berdasarkan hasil wawancara kepada beberapa mahasiswa mereka merasa sangat antusias dan bersemangat terhadap program ini, mereka memaparkan bahwa pihak kampus telah menyiapkan mereka melalui pemberian materi, pembimbingan mentor serta pemberian data ibu hamil. Data yang diperoleh lalu digunakan mahasiswa untuk menghubungi ibu hamil melalui alamat maupun nomor telfon. Apabila ibu hamil diketahui telah partus ataupun tidak bersedia didampingi maka mahasiswa tersebut harus secara mandiri mencari data lagi puskesmas di sekitar tempat tinggal mahasiswa berada. Telah terbangun pemahaman proses serta tujuan dibenak mahasiswa, dan telah terbangun juga empati pada mahasiswa tersebut.

Berdasarkan wawancara kepada beberapa ibu hamil, mereka menyatakan bahwa mereka merasa tenang dan lega karena ada yang memperhatikan kehamilan mereka. Namun karena peserta yang hadir baru didampingi selama 1 minggu, mereka belum menemukan kesulitan yang berarti. Ibu hamil tersebut hanya mempunyai harapan agar persalinannya lancar dan bayi yang dilahirkan selamat.

Menurut wawancara dengan dr. Maisuri beliau menyampaikan bahwa selama tahun 2011-2013 banyak kekurangan dalam program terutama dalam pendataan secara kuantitatif, dan di tahun 2014 hal tersebut tengah dibenahi. Terdapat evaluasi setiap 1 semester dan terdapat kerjasama dengan dinkes provinsi dalam pengumpulan data ibu hamil. Program ini diberlakukan secara voluntary pada seluruh mahasiswa baru dan tidak merupakan sks dalam perkuliahan, namun ada rencana bahwa program ini akan dijadikan sks ke depannya. Terdapat kendala dalam hal pembiayaan program, selama ini pembiayaan program bersumber dari dana fakultas, BKKBN, dan sponsor lainnya.

Menurut dr. Maisuri, kegiatan ini ternyata telah banyak menumbuhkan rasa empati bagi para mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini. Mereka berjumpa langsung dengan orang miskin, mengawal bagaimana keluarga itu dapat menjaga kesehatan janin dan mendidik agar mampu merawat bayi dalam 2 tahun pertama.Yang kita kawal, menurut dr. Maisuri, bukanlah seorang bayi, melainkan seorang pemimpin bangsa. Jadi, program ini terkait dengan ketahanan bangsa dan lahirnya pemimpin bangsa di masa depan.

Menteri Kesehatan Prof. Dr.dr. Nila F. Moeloek,SpM(K) sangat mendukung kegiatan ini. Karena itu, meskipun hanya mendengar kisah ini dari dr. Maisuri saat bertemu secara tak sengaja saat transit di bandara, Ibu Nila langsung menyetujui untuk datang dan mengharapkan kegiatan ini dapat diduplikasi oleh seluruh Fakultas Kedokteran di Indonesia. Nila mengatakan, bila saja di Indonesia ada 500 mahasiswa kedokteran, dan satu mahasiswa mendampingi satu ibu hamil, berapa banyak jiwa baru dapat diselamatkan melalui pendampingan ini?

Kepala BKKBN, Fasli Jalal mengatakan bahwa program ini sangat penting bagi mahasiswa kedokteran karena mereka akan belajar tentang kerjasama antar profesi dan lintas sektoral. Dalam kegiatan ini terlibat banyak pihak, bukan hanya fakultas, melainkan juga pemerintah daerah dan dinas kesehatan setempat. “Kita ini kan ingin agar para mahasiswa itu memiliki kepekaan sosial, punya kemampuan berkomunikasi dan menggunakan ilmunya itu lintas sektoral dan lintas profesional. Karena itu, program ini penting bagi pengembangan diri mereka,” ujar Fasli Jalal.

Makassar, 23 November 2014

*Lafi Munira, Doni Koesoma Albertus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s