Bidan Desa Tumpuan Harapan

Prolog

Aceh, sudah sejak lama diri ini ingin menapak jejak kaki di ujung barat Indonesiaku ini. Tuhan menjawab harapan saya, walau saya tak pernah memanjatkan doa secara langsung agar bisa ke Tanah Aceh, namun apalah yang tidak bisa diketahuiNya, walau hanya sepintas harap dalam hati, oh sungguh Maha Suci-Nya yang memberikan kesempatan kepada saya untuk singgah di Tanah Aceh, dan belajar tentang kesyukuran nan senantiasa merenung akan keindahan alam pun tentang polemik kesehatan di Tanah Aceh ini.

Perjalanan saya dimulai dari Banjarmasin, tempat dimana keluarga saya tercinta menetap. Pagi itu tanggal 27 April 2015 saya berangkat dari Bandara Syamsudin Noer tepat pukul 09.00 WITA, kemudian sampai di Bandara Soekarno – Hatta pada 09.30 WIB untuk transit. Penerbangan ke Medan kembali dilanjutkan pada pukul 12.30 sampai dengan pukul 15.10. Perjalanan dari Jakarta menuju Medan cukup membuat deg-degan karena memakan waktu yang cukup lama. Sesampainya di Bandara Kuala Namu Medan, saya menginap 1 malam di Medan. Saya kembali melanjutkan perjalanan keesokan harinya berbarengan dengan kawan satu tim, mas Subhansyah yang pada hari sebelumnya berangkat dari Yogyakarta. Kami naik travel mulai jam 10.30 WIB travel menjemput kami dan kami berputar-putar selama 2 jam di Medan karena menjemputi satu-persatu penumpang yang hendak pergi ke Kota Langsa. Sedangkan kami akan melanjutkan perjalanan sampai dengan Kabupaten Aceh Timur. Membutuhkan waktu 5 jam dari Medan ke Aceh Timur.

Di sepanjang jalan Medan-Banda Aceh, kami disuguhi pemandangan perkebunan sawit di sebelah kanan dan kiri jalan. Kami singgah untuk makan dan sholat di Kota Langsa yang merupakan daerah pemekaran. Dahulunya Kota Langsa merupakan bagian dari Kabupaten Aceh Timur, namun kini telah menjadi kota tersendiri. Kami sampai di Puskesmas Peudawa sekitar pukul 18.00 WIB dengan selamat dan aman. Kami tinggal di rumah dinas Puskesmas Peudawa. Saya tinggal satu kamar dengan dokter internship Ririn Juli Anggraini, 25 tahun, dan petugas gizi, Desi Mauliza, 25 tahun.

Dari pengamatan yang dilakukan, sarana Puskesmas Peudawa cukup lengkap karena di dalamnya terdapat beberapa poli atau program-program yang telah tertata dengan baik. Diantaranya terdapat ruang UGD (Unit Gawat Darurat) 24 jam, yang akan berganti-ganti shift baik pada pagi hari sampai sore hari. Terdapat ruang laboratorium untuk pengecekan gula dalam darah. Pelayanan Puskesmas dimulai dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore. Selain itu terdapat program KIA, Gizi, Kesling, PHBS, PM, PTM.

Bidan Desa Tumpuan Harapan

Pernah suatu hari saya mengikuti lokakarya mini (lokmin) yang diadakan di puskesmas pada pekan pertama hari kamis tiap bulannya. Lokakarya mini tersebut dihadiri oleh 17 bidan desa, petugas gizi, imunisasi, KIA, poli umum, hingga petugas apotik yang menyampaikan progress report-nya plus uneg-uneg dalam hati. Pada lokakarya mini tersebut saya mengamati pemaparan satu-persatu program kesehatan yang ada. Tidak jarang saat pemaparan penanggung jawab program, 17 bidan desa yang ada dicecar pertanyaan-pertanyaan sekaligus ditegur oleh kepala pukesmas bahwa kinerja bidan desa kurang baik. Definisi “kurang baik” disini dianggap karena; 1) kurang up date permasalahan kesehatan di desa tempat dimana bidan desa bertugas terkait masalah penyakit menular, 2) tidak memantau pola konsumsi obat pada pasien kusta dan TB, 3) serta pelayanan masyarakat yang sakit di polindes atau pustu, 4) adanya pernyataan “mana mungkin satu penanggung jawab program (petugas puskesmas),  memegang 17 desa yang ada?, ya itulah tugas kalian bidan-bidan desa”

Polindes atau Pustu yang terdapat di wilayah kerja Puskesmas Peudawa telah memiliki peralatan posyandu yang lengkap. Terdapat timbangan badan, dacin, dan mikrotoa. Posyandu dilakukan 1 bulan sekali oleh bidan desa dan kader posyandu serta petugas puskesmas di 17 titik desa yang menghimpun dusun-dusun  yang terdapat di desa-desa. Polindes juga lengkap dengan obat-obatan sehingga apabila masyarakat merasa sakit, mereka akan berkunjung ke Polindes untuk meminta obat kepada bidan desa.

Dari beberapa jabaran di atas, saya berfikir bahwa tugas bidan desa cukup berat, karena selain mengurusi permasalahan kesehatan ibu dan anak, mereka pun menjadi tumpuan harapan keberhasilan status kesehatan masyarakat di desa yang mereka diami. Saya mencoba bertanya kepada salah seorang petugas kesehatan di Puskesmas Peudawa yang sebelumnya pernah menjadi bidan desa. “kata orang dinkes, kami lah ujung tombak pelayanan kesehatan di desa… capek sekali jadi bidan desa.. nanti ada salah-salah kami yang disalahkan.. belum lagi membuat laporan,, aduuh capek kali kami waktu itu lafi” ujarnya.

Kemudian saya bertanya kembali tentang apa yang dialami dan dirasakan oleh “mantan bidan desa” yang kini telah menjadi petugas puskesmas, dari 2 orang informan yang saya tanyai, keduanya melontarkan kata-kata : ”ooh tanggung jawabnya besar”, “beda bebannya dengan orang yang bekerja di puskesmas”, “ kita berada di bawah pak geucik (kepala desa), ada orang melahirkan kita yang menolong, ada orang sakit kita yang menolong, nanti kalau ada orang yang KBnya tidak berjalan kita juga yang ditanya, kalau desanya tidak bersih kita juga yang ditanya, semuanyalah, maka itu bidang desa dibilang ujung tombak kesehatan masyarakat.

Kemudian saya menanyakan kembali apakah bidan desa membutuhkan tenaga kesehatan pendamping untuk meringankan beban kerjanya. “tergantung desanya kita lihat luas atau tidak desanya, banyak tidak penduduknya.. seperti di desa paya dua itu kan ada 4 dusun tapi dipegang oleh 1 bidan desa saja. Kalau dulu kalau desanya besar ditaroh 2 bidan desa, tapi sekarang tidak lagi karena ada peraturan 1 bidan 1 desa saja. Darimana asal peraturan datangnya kami tidak tahu juga, tapi ada peraturan seperti itu. Untuk penambahan tenaga kesehatan lain kami rasa tidak perlu, cukup tambahkan jumlah bidan di desa yang luas saja. Kalau penambahan tenaga kesehatan lain seperti perawat oh itu tidak perlu, penambahan sesama bidan saja biar enak komunikasinya. Tapi saat ini tidak bisa seperti itu dari pemerintah, kalau misal bidannya ada 2 di desa berarti gajinya dibagi dua juga.”

Kemudian saya menanyakan tentang anggaran desa apakah ada pengalokasiannya ke ranah kesehatan, menurut informan anggaran desa hanya sebatas membantu untuk Pemberian Makanan Tambahan (PMT) lebihnya tidak ada.

Saya mencoba menarik benang merah bahwa kondisi-kondisi kesehatan yang ada di desa-desa yang berada di wilayah kerja Puskesmas Peudawa berasal dari perilaku kesehatan masyarakat yang kurang mendukung, serta belum efektifnya sisi promotif, dan preventif. Apakah tugas bidan desa juga meliputi promotif dan preventif seluruh masalah kesehatan secara holistik?. Mungkin akan menarik jika ada suatu mekanisme di dalam sistem kesehatan yang telah dibuat untuk melibatkan SDM kesehatan berlatarbelakang Ilmu Kesehatan Masyarakat dilibatkan dalam pendampingan di masyarakat yang terarah dan berkontinuitas. Namun ironinya ketika saya bertanya apakah bidan desa perlu didampingi oleh SKM atau tidak mereka menyatakan “emmm SKM, ini SKM yang mana dulu?, SKM yang betul-betul bisa kerja apa enggak di lapangan, SKM yang betul-betul bisa kasih penyuluhan dan promosi kesehatan tidak, jangan sampai SKM nanti di tempatkan di desa malah cuma duduk-duduk santai saja. Sebetulnya 1 SKM di desa itu tak perlu, namun bisa jadi ada SKM yang punya desa binaan fokus ke desa itu.”.

Nah, ini jadi PR tersendiri untuk para SKM yang kompetensinya pun masih “diragukan” oleh tenaga kesehatan lain, ya inilah kenyataan di lapangan, kata-kata penyemangat saja tidak cukup, namun inilah kenyataan di lapangan, bahwa SKM perlu memantapkan keberadaannya di ranah kesehatan dengan kerja-kerja nyata yang dibutuhkan masyarakat sesederhana penyuluhan. Ya sesederhana itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s