Dilema Program Keluarga Berencana

Sebuah Ringkasan Riset Etnografi Kesehatan di Kabupaten Aceh Timur

Oleh: Lafi Munira

Pengantar

Ketika kita berbicara tentang KB (Keluarga Berencana) maka ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan, yakni: 1) aspek kesehatan, 2) penambahan penduduk, dan 3) kualitas[1]. Ketika berbicara mengenai aspek kesehatan maka akan berkaitan dengan kesehatan neonatus dan balita apabila termasuk dalam PUS 4T (pasangan usia subur 4T) 4T disini merupakan singkatan dari “terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering, terlalu dekat”.

Dari pengamatan peneliti ada hubungan antara 4T dengan kesehatan anak khususnya. Bayi ataupun balita dengan kasus PUS 4T lebih banyak yang mengalami gizi kurang maupun BGM (Bawah Garis Merah). Hal tersebut dikarenakan dekatnya jarak kelahiran anak sehingga tidak mendapatkan asi eksklusif, kekurangan nutrisi karena ibu tidak fokus dalam pengasuhan anak.

Keluarga berencana merupakan suatu cara yang efektif untuk mencegah mortalitas ibu dan anak karena dapat menolong pasangan suami istri menghindari kehamilan risiko tinggi. Keluarga berencana tidak dapat menjamin kesehatan ibu dan anak, tetapi dengan melindungi keluarga terhadap kehamilan risiko tinggi, KB dapat menyelamatkan jiwa dan mengurangi angka kesakitan. Kehamilan risiko tinggi dapat timbul pada; kehamilan < usia 18 tahun, kehamilan > usia 35 tahun, kehamilan setelah 4 kelahiran, kehamilan dengan interval/jarak < 2 tahun[2]. Hartanto dalam bukunya menyebutkan bahwa kehamilan > 4 anak/spacing < 2 tahun beresiko: berat badan lahir rendah, nutrisi kurang, waktu/lama menyusui berkurang, lebih sering terkena penyakit, kompetisi dalam sumber-sumber keluarga, tumbuh kembang lebih lambat, pendidikan/intelegensia dan pendidikan akademis lebih rendah[3].

Program Keluarga Berencana di Kecamatan Peudawa, Kabupaten Aceh Timur tidak berjalan sebagaimana semestinya. Dengan kata lain Kecamatan Peudawa turut berkontribusi dalam penambahan dan pelonjakan jumlah penduduk di tahun 2035. Kemudian dari segi kualitas, dari penelusuran peneliti, mayoritas anak bersekolah sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP), tidak banyak yang sampai dengan Sekolah Menengah Atas (SMA). Ada pula anak-anak yang tidak dapat mengenyam pendidikan di sekolah dasar (SD) karena ikut membantu ayahnya untuk berkebun sawit.

Salah satu indikator terpenuhi atau tidak terpenuhinya hak reproduksi digambarkan dalam derajat kesehatan reproduksi masyarakat, seperti rangka cakupan pelayanan KB dan partisipasi laki-laki dalam keluarga berencana (makin rendah angka cakupan layanan KB, makin rendah derajat kesehatan reproduksi). Kemudian dilanjutkan dengan jumlah ibu hamil dengan 4T atau 4 Terlalu – terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat jarak kelahiran, dan terlalu banyak anak (makin tinggi jumlah ibu hamil dengan 4T, semakin rendah derajat kesehatan reproduksi)[4].

Berkaca dari paparan tentang hak reproduksi serta derajat kesehatan reproduksi, Kecamatan Peudawa Aceh Timur termasuk dalam 2 kategori yang dijelaskan tentang cakupan layanan KB, dan kasus hamil dengan 4T. Dari kedua hal tersebut dapat dikatakan derajat kesehatan reproduksi rendah. Karena kurangnya cakupan layanan KB, serta banyaknya kasus 4T.

Status Sosial Perempuan

Status sosial adalah kedudukan seseorang di dalam keluarga dan masyarakat. Menurut Sukanto Soerjono (1990), status sosial atau kedudukan sosial adalah tempat seseorang secara umum dalam masyarakat sehubungan dengan orang lain, yang bisa diartikan sebagai lingkungan pergaulan, prestise, serta hak-hak dan kewajiban-kewajibannya. Status sosial akan mempengaruhi perlakuan terhadap seseorang, penghargaan terhadap seseorang, dan tindakan yang boleh dilakukan seseorang[5].

Salah satu faktor yang mempengaruhi status perempuan adalah rendahnya kedudukan perempuan dalam keluarga dan  masyarakat. Perempuan sering dinomorduakan dalam kehidupan terutama budaya yang menganut paham patriarki di mana seorang laki-laki dianggap orang yang berkuasa dalam rumah tangga. Sehingga tidak jarang perempuan dilibatkan dalam pengambilan keputusan-keputusan penting, bahkan untuk dirinya sendiri, lebih diserahkan kepada laki-laki (suami), bapak dan keluarga. Dampak status sosial yang rendah akan berdampak kepada kesehatan perempuan yakni ancaman kesehatan reproduksi tinggi dan akses yang rendah ke fasilitas pelayanan kesehatan karena sering dibatasi dalam proses pengambilan keputusan untuk kepentingan dirinya sendiri misalnya dalam ber-KB[6].

Paparan tentang status sosial perempuan di kultur patriarkat dan dampak kesehatan dalam ber-KB merupakan temuan di Kecamatan Peudawa, Aceh Timur. Mayoritas perempuan disini dilarang untuk ber-KB oleh suami dengan alasan nanti libido istri akan berkurang. Desas-desus yang mengatakan bahwa wanita-wanita yang menggunakan pil, IUD atau suntikan akan berkurang gairah seksnya dan akan kehilangan hasrat untuk mengadakan hubungan seks, tersebar di kalangan kaum pria. Desas-desus semacam itu merupakan salah satu dasar kecurigaan yang menyebabkan sebagian kaum pria menentang pemakaian metode-metode ini[7].

“banyak yang istrinya pergi diam-diam ke bidan atau puskesmas tanpa sepengetahuan suaminya untuk KB suntik setiap 3 bulan, kalau pil KB tidak berani mereka, karena khawatir ketahuan suami”.

Terdapat beberapa gambaran kondisi sosial budaya patriarkat yaitu suatu budaya di mana yang dominan dan memegang kekuasaan dalam keluarga di pihak ayah. Budaya ini menjadikan perempuan sebagai subordinasi perempuan masih dianggap sebagai warga kelas dua setelah laki-laki yang selayaknya  ditempatkan di wilayah domestik – dapur, sumur, dan kasur. Parahnya budaya patriarkat juga memenjarakan pikiran  perempuan itu sendiri, sehingga, mereka pun meyakini bahwa tempat mereka memang di ranah domestik[8].

Kemudian patrial control. Dalam rumah tangga, perempuan tidak diberi peran dalam pengambilan keputusan bahkan untuk kepentingan pribadi. Segalanya tetap didominasi suami. Istri kerap menjadi korban dari keputusan salah yang diambil oleh suami. Misalnya,  suami menyerahkan urusan anak kepada istri, sementara pengetahuan istri tentang hal tersebut tidak ada[9].

Unmet Need, Ketidakterpenuhinya Program KB

Pelayanan KB merupakan upaya untuk mendukung kebijakan KB nasional[10]. Unmet Need adalah semua wanita subur yang sudah menikah atau hidup dalam suatu daerah, yang dianggap aktif secara seksual, yang baik tidak ingin punya anak lagi atau yang ingin memberikan jarak kelahiran anak berikutnya untuk setidaknya dua tahun lagi namun tidak menggunakan kontrasepsi[11].

Pada penelitian terdahulu, beberapa faktor yang mempengaruhi unmet need ini adalah takut efek samping dan dilarang pasangan[12]. Kasus ini pun terjadi di Kecamatan Peudawa, Kabupaten Aceh Timur. Para ibu merasa dadanya sakit dan tidak enak badan ketika menggunakan metode kontrasepsi pil maupun suntik. Sehingga mereka tidak melanjutkan pemakaian alat kontrasepsi. Mereka pun enggan memakai metode kontrasepsi yang lain. Lantas apa yang terjadi?, jumlah anak menjadi banyak dan jarak kelahiran anak begitu dekat. Sebagian dari mereka, Rufasah, 42 tahun,  sudah merasa “capek” ketika diwawancarai oleh peneliti saat posyandu, sehingga muncul keinginan untuk melakukan tubektomi. Ibu Rufasah ini memiliki 9 orang anak. Lalu  tidak jauh dari polindes, terdapat keluarga yang memiliki 10 orang anak dengan usia bapak dan ibunya sudah menua, namun masih ada balita yang digendong.

Faktor lain pun ada yakni dilarang oleh suami menggunakan alat kontrasepsi, dengan alasan nanti kalau pakai KB sama juga seperti membunuh anak yang merupakan titipan dari Allah. Selain itu efek samping menurunnya libido sang istri jika menggunakan alat kontrasepsi membuat suami melarang istrinya ber-KB. Sehingga seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, istri sembunyi-sembunyi pergi ke bidan desa maupun puskesmas untuk ber-KB tanpa sepengetahuan suami.

Persepsi Tentang Keluarga Besar: Studi Kasus Keluarga S

Aneuk Bak Allah (Anak  itu dari Allah)

S (46 tahun) dan M (41 tahun) adalah pasangan suami istri yang sudah menikah selama 21 tahun. Saat ini mereka dikaruniai 10 orang anak. Sebenarnya M pernah hamil sebanyak 18 kali, tetapi  dia 3 kali mengalami keguguran, dan  5 anaknya yang meninggal sewaktu dilahirkan atau masih bayi.

 

Memiliki 10 orang anak bukanlah sesuatu yang aneh di desa Paya Bili Dua dan di semua desa di Kecamatan Peudawa.  “Anak itu dari Allah”. Begitu kata bu M ketika ditanya pendapatnya tentang jumlah anaknya yang banyak tersebut. Bu M kemudian berkisah tentang kelahiran anaknya yang terakhir:

“Waktu itu orang rumah sakit (maksudnya petugas Puskesmas) bilang kehamilan saya berisiko, katanya harus melahirkan di Rumah Sakit Idi. Tapi saya tidak mau, takut dioperasi. Lalu saya minta didoakan oleh Tengku. Alhamdulilah anak saya si Putri ini lahir sendiri, belum sempat dibawa ke mana-mana dia keluar sendiri (bu M kemudian tertawa). Setelah lahir, bapaknya (maksudnya pak S, suami bu M) meminta tolong Mak Nukasah untuk memandikan bayi”.

Semua anak bu M lahirnya dibantu oleh mak Nukasah, seorang dukun gampong yang sangat dipercaya masyarakat setempat sejak jaman dulu. Hampir semua orang di gampong Paya Bili Dua dan gampong lain di kecamatan Peudawa mempercayakan kelahiran anak mereka pada mak Nukasah. Saat ini mak Nukasah sudah didampingi bidan desa ketika menangani persalinan. Secara teknis sebenarnya bidan desa yang bekerja menolong persalinan, sedangkan mak Nukasah membantu memijat-mijat kaki dan tangan si ibu melahirkan sambil membaca doa-doa dalam bahasa Arab bercampur bahasa Aceh. Apalagi mengingat usia mak Nukasah yang sudah 72 tahun maka kemampuannya untuk menolong persalinan sendiri sudah berkurang.

“Kalau ada mak Nukasah kita rasanya aman, tidak kuatir. Mak Nukasah seperti keluarga sendiri, seperti orang tua sendiri”, kata bu M. “Semua orang di sini pasti memanggil mak Nukasah, biarpun sudah ada bidan desa. Bidan desa itu masih muda-muda dan kurang akrab dengan kita, jadi kita kadang-kadang masih was-was”, lanjut bu M.

Selama ini peranan seorang Biden atau Bidan kampong sangatlah besar dalam proses persalian di pedesaan Aceh. Ketika bayi keluar dari rahim seorang ibu, maka bayi tersebut disambut oleh sang biden. Sang biden akan mengikat pangkal pusarnya (pusatnya) si bayi. Jumlah ikatan bergantung pada jenis kelamin sang jabang bayi. Jika jenis kelaminnya laki-laki, maka jumlah ikatannya ada 7 ikat. Sedangkan, jika jenis kelaminnya perempuan, maka jumlah ikatannya ada 5 ikat. Selanjutnya, tali pusar dipotong dengan sebilah bambu (sembilu), lalu ditempeli (diobati) dengan ramuan yang terbuat dari arang, kunyit, dan air ludah, kemudian sang bayi dimandikan (Hidayah, Z. 1996)[13].

Ketika bayi sudah bersih, maka diserahkan kepada ayahnya atau kakeknya. Jika bayi itu laki-laki, maka ayah atau kakeknya akan memperdengarkan adzan ke telinganya. Akan tetapi, jika bayi itu perempuan, maka cukup dengan memperdengarkan iqamah. Makna simbolik yang ada di balik adzan dan iqamah itu adalah penyambutan atas hadirnya seorang muslim atau muslimat. Sedangkan, pesan yang terselubung di dalamnya adalah agar kelak menjadi seorang penganut agama Islam yang taqwa (menjalani aturan-aturan agama (Islam) dan menghindari larangan-larangannya). Setelah itu, bayi dibaringkan di samping ibunya. Sementara itu, adoi (teman bayi/ari-ari) dimasukkan pada sebuah periuk, kemudian diberi bebungaan dan wewangian, lalu ditanam di halaman rumah. Makna simbolik yang terkandung dalam bebungaan dan wewangian tersebut adalah kebersihan dan kecantikan. Jadi, pesan yang terkandung di dalamnya adalah agar bagi kelak dapat menghargai kebersihan dan kecantikan[14].

Seminggu setelah lahir, bayi ibu M pun dicukuri rambutnya dan dimandikan oleh mak Nukasah. Hal ini memang sudah kebiasaan warga hampir di seluruh kecamatan Peudawa. Di hari itulah anak bayi mungil itu kemudian diberinama Nur Akmalia. Akan tetapi beberapa minggu kemudian Nur Akmalia sering sakit panas sehingga pak S harus mendatangkan Tengku untuk menyembukan si bayi. Pak Tengku beberapa kali datang dan membacakan doa-doa. Pak Tengku akhirnya menyarankan agar nama si bayi diganti karena kurang cocok sehingga sering sakit-sakitan.

Mengganti nama bayi karena tidak cocok adalah hal yang lumrah di masyarakat Peudawa. Akan tetapi dalam kasus Nur Amalia ini agak sedikit rumit karena si bayi sudah dibuatkan akta kelahiran melalui bantuan bidan desa. Solusi yang kemudian diambil oleh bu M dan suaminya adalah dengan tetap menggunakan nama Nur Amalia di akta kelahiran, tetapi untuk nama panggilan sehari-hari mereka memanggil si bayi dengan nama panggilan baru: Putri.

Seperti umumnya bayi-bayi yang lahir di desa itu, Putri sejak hari pertama lahir sudah diberi makanan berupa pisang yang dilumatkan. Kadang-kadang pisang itu dicampur nasi yang juga dilumatkan dengan diberi sedikit air. Asi tetap diberikan akan tetapi bu M mengaku bahwa ASI-nya tidak mencukupi. Umumnya ibu-ibu melahirkan di desa itu merasa bahwa ASI tidaklah mencukupi untuk seorang bayi yang baru lahir. “Sembilan bulan di dalam perut, si bayi tidak makan apa-apa, masak sekarang setelah lahir juga tidak dikasih makan? Bisa mati dia” demikian pendapat seorang nenek yang baru mendapatkan cucu seusia Putri.

Hidup-Mati adalah Takdir

“Hidup dan Mati itu sudah takdir”. Begitulah yang dikatakan pak S tentang anak-anaknya yang meninggal pada usia bayi, dan keguguran sebanyak lima kali yang dialami istrinya. Anak mereka sebelum Putri meninggal pada usia 8 bulan akibat diare yang terus-menerus. Waktu itu bu M sempat meminta pertolongan Tengku tetapi penyakitnya tidak berkurang. “ini sakit rumah sakit, jadi kemudian kami mau bawa ke Puskesmas, tapi terlambat, si bayi meninggal di rumah, ya itulah takdir Allah”, kenang pak S.

Terkait kematian anak Ibu M, bidan desa yang sebelumnya memantau perkembangan anak bu M beberapa tahun yang lalu. Bidan desa tersebut lupa balitanya Ibu M yang keberapa yang meninggal menyatakan bahwa;

“aduh saya lupa sudah lama sekali sejak saya jadi bidan desa di desa paya bili dua, itu anaknya balita, sakit diare, sebelum-sebelumnya sudah dibawa ke mantri sana-sini, disemburlah apalah, akhirnya di rujuk ke rumah sakit di Langsa sebelum adanya pemekaran daerah.. setelah 2 hari di rumah sakit di Langsa, bu M itu minta anaknya dipulangkan saja dengan alasan di rumah tidak ada yang mengurus rumah, padahal belum sembuh betul itu anaknya, setelah dibawa pulang ke rumah… anaknya tu meninggal, itu saja yang bisa saya ingat”

Peneliti melihat bahwa ada keterkaitan antara kejadian kematian anak Ibu M dengan perilaku pencarian pengobatan (health seeking behaviour). Pola pencarian pengobatan pada kasus keluarga Ibu M, ia lebih percaya atau mencari pengobatan tradisional terlebih dahulu. Apabila pengobatan tradisional tidak berhasil, maka ia akan beralih ke pengobatan moderen seperti ke bidan desa atau ke puskesmas. Keterlambatan dalam penanganan karena harus mobilisasi ke berbagai macam pengobatan tradisional lalu ketika sudah parah baru dilarikan ke puskesmas beresiko pada kematian.

Oleh karena kematian adalah takdir, maka umumnya masyarakat di Aceh Timur menerima kematian sebagai bagian dari hidup sehari-hari. Untuk sesaat ada kesedihan, tapi tidak berlanjut menjadi penyesalan. Keikhlasan menjadi nilai yang sangat diagungkan. Anggota keluarga atau kerabat tidak akan meratapi kematian. Mereka percaya bahwa ratapan akan menyulitkan  orang yang mati di akhirat. Anggota keluarga terdekat biasanya hanya menangis pelan dan terahan-tahan.

Setiap Anak ada Rejekinya Masing-Masing

Oleh karena seorang anak yang lahir ke dunia ini adalah kehendak Allah, maka Allah pulalah yang akan menyediakan rejeki bagi anak itu. Begitulah pandangan umum masyarakat, seperti yang juga diyakini oleh bu M dan pak S. “Kita ini hanya berikhtiar, mencari rejeki untuk keluarga, kalau saya ihtiarnya dengan berjualan ikan keliling kampong”, kata pak S.

Pak S sudah hampir lima belas tahun bekerja sebagai penjual ikan keliling. Setiap hari dia berangkat dengan sepeda motor dari rumah sekitar pukul 06.00 menuju pelelangan ikan di Kuala idi yang jaraknya dari rumah sekitar 12 km. Setiap hari pak S harus menyediakan modal sekira Rp. 300.000,- yang digunakan membeli ikan pada langganannya  untuk dijual keliling.

Wilayah kerja pak S meliputi hampir seluruh desa di Kecamatan Peudawa. Rata-rata penghasilan bersih (keuntungan) yang diperoleh adalah Rp.80.000 setiap hari. Selain itu ada keuntungan lain, dalam berjualan ini Pak S juga melewati kampungnya, dan dia selalu menyempatkan untuk mampir ke rumahnya untuk mengantarkan ikan untuk konsumsi keluarganya. Biasanya pak S mengantar ikan ke rumahnya itu pada sekitar pukul setengah dua belas. Istri dan anak-anak segera mengolah ikan itu sebagai lauk makan siang mereka. Pak S sendiri tidak makan siang di rumah, karena harus segera melanjutkan pekerjaannya berjualan ikan keliling hingga pukul enam sore hari. Saat pulang sore hari itu sering kali pak S juga membawa pulang barang belanjaan berupa beras, minyak goring, gula-kopi dan jajanan untuk anak-anaknya.

“Alhamdulillah, biar sedikit ada-lah rejeki anak-anak. Anak saya yang pertama sudah lulus SMK sekarang merantau ke Banda Aceh, cari kerja. Adiknya si Nurjannah juga baru lulus SMA. Adik-adiknya yang lain juga sekolah…” demikian kata pak S.

Dilihat dari pola konsumsi ikan pada keluarga S ini, sebenarnya keluarga tidak kekurangan sumber protein yakni ikan segar sebanyak satu baskom ditambah dengan udang. Dengan konsumsi protein yang melimpah ironinya beberapa anak-anaknya berstatus gizi kurang dan stunting[15]. Hal ini berkaitan dengan pola pengasuhan anak keluarga S yang akan dibahas pada sub-bab tersendiri.

Kakak Membantu Mengasuh Adik?

Pekerjaan rumah tangga lain seperti mencuci pakaian dan perlengkapan makan lebih banyak dikerjakan oleh Nurjannah. Apalagi dia sekarang sudah lulus SMA sehingga waktunya lebih banyak dihabiskan di rumah. Nurjannah juga yang memandikan adik-adik balitanya. Akan tetapi tidak semua pekerjaan tersebut dapat ditangani oleh Nurjannah, apalagi jika dia terlalu capek atau bahkan jatuh sakit, maka adik-adiknya itu tidak sempat dimandikan sepanjang hari.

Suatu hari Nurjannah jatuh sakit. Badannya panas tinggi, tapi dia maresa menggigil kedinginan. Bu M menyebutkan kena meurampot atau kemasukan setan. Meurampot biasanya dianggap tidak berbahaya dan sifatnya sementara, dan bisa disembuhkan. Bu M kemudian memanggil seorang Tengku yang biasa mengobati orang yg terkena meurampot. Metode yang digunakan tengku untuk mengobati Nurjanah adalah dengan memberikan segelas air putih yang sudah dijampi-jampi.

Sakit  Nurjannah mereda, tapi hanya sebentar. Dua hari kemudian Nurjannah mengeluh sakit pada lambungnya. Kali ini Nurjannah dibawa ke Puskesmas Peudawa. Bu M meminta Nur dirujuk ke RSUD Idi. Nurjanah akhirnya di bawa ke Idi dan dia didiagnosa mengidap typus sehingga harus beristirahat total selama beberapa hari.

Selama Nurjannah sakit, banyak pekerjaan rumah tangga menjadi makin terbengkalai. Pakaian kotor berhari hari tidak dicuci, begitu pula dengan peralatan dapur. Adik-adik Nurjanah juga semakin jarang mandi, makan juga semakin tidak teratur. Sofi dan Nanda yang sedikit lebih besar secara begantian mengasuh Putri,  mereka belum bisa memandikan adik bayinya itu.

Sebelumnya, kami pernah bertanya kepada bu M apakah dia merasa kerepotan mengurus anak-anak yang banyak itu. Bu M mengatakan bahwa dia tidak merasa repot karena anak-anaknya bisa saling membantu. Si kakak bisa mengasuh si adik. Hal seperti ini memang sudah menjadi tradisi di desa ini. Akan tetapi dalam pengamatan kami tampak bahwa anak-anak bu M sering merasa kerepotan juga ketika tanggungjawab pengasuhan itu dibebankan pada mereka.

Nurjannah sampai mengalami sakit akibat kelelahan, Sofi yang saat ini sedang menghadapi ujian SD juga terganggu aktifitas belajarnya. Dia hampir tidak punya waktu untuk belajar di rumah, pulang sekolah langsung mengasuh Putri dan dua adiknya yang lain, setelah itu sehabis Ashar dia harus berangkat mengaji di meunasah/balai. Padahal Sofi sudah pernah dua kali tinggal kelas selama sekolah di SD itu. “Sofi itu agak bodoh, dia sebenarnya sudah di kelas dua SMP tapi waktu kelas 2 dia tidak naik ke kelas 3, terus waktu 4 dia tidak naik ke kelas 5”, kata bu M. “Dia jadi begitu karena waktu hamil dulu dia mau saya gugurkan, tapi ternyata tetap lahir juga. Ya sudah takdir dia lahir”, kata bu M kemudian. Kami terkejut mendengar penjelasan bu M tentang pengguguran tersebut.

“Waktu itu saya dikasih obat sama dokter (dia menyebutkan satu nama)  untuk menggugurkan, mungkin supaya akan kami tidak banyak-banyak, tapi sekarang dokternya sudah meninggal”.

Wacana “kakak membantu adik” memang sering kita dengar ketika berbicara tentang keluarga yang memiliki banyak anak. Biasanya mereka mengemukakan pengalaman-pengalaman dari masa lalu.

“Waktu saya kecil, kami 14 bersaudara. Tidak ada masalah di dalam keluarga. Semua anak-anak akur, saling menolong. Kakak yang besar mengasuh adik. Kalau kakak sudah berkerja dan punya uang, dia ikut membiayai keperluan keluarga”.

Demikian disampaikan oleh pak Kohar, seorang guru senior berusia 52 tahun pada sebuah obrolan di warung kopi. “Iya, tapi itu jaman dulu, pak, sekarang sudah berbeda”, bantah pak Iiyas sang pemilik warung. Pak Kohar menambahkan;

“Ya, benar juga, mungkin dunia sudah berubah, apalagi jam sekolah anak-anak sekarang lebih banyak, beban pelajaran juga makin berat, mungkin tidak sempat lagi mengasuh adik-adiknya”.

Selain soal kakak membantu adik, peran keluarga luas seperti kakek, nenek, bibi atau paman, oleh sebagian orang masih dianggap penting dalam pengasuhan anak-anak. Akan tetapi tetap saja acuannya adalah masa lalu, yakni era satu generasi yang lalu. Kenyataan hari ini kita sering menyaksikan bahwa tiap orang semakin sibuk dengan urusan masing-masing. Meskipun demikian, dalam beberapa hal si nenek masih berperan juga misalnya membantu dalam menyiapkan segala sesuatu sebelum dan sesudah cucunya lahir.

Berbagai studi telah mengidentifikasi faktor-faktor risiko tinggi yang mempunyai pengaruh dengan status gizi anak. Faktor-faktor itu berkaitan dengan kondisi medis, sosial, ekonomi, dan tingkat pendidikan, beberapanya mencakup berat bayi lahir rendah, banyak anak-anak dalam keluarga, serta jarak kelahiran yang pendek, serta sering kena infeksi[16]. Ketika kami hampir meninggalkan lokasi penelitian ini, ada kabar si bungsu Putri sakit panas lagi. Dari petugas Puskesmas kami mendapatkan informasi bahwa Putri memang rentan sakit karena dia termasuk katagori gizi-kurang. Beberapa bulan sebelumnya bahkan dia masuk katagori gizi-buruk. Selain itu faktor kebersihan badan, kebersihan makanan dan tempat tinggal  juga sangat mempengaruhi kesehatan Putri.

Penolakan Pada Program Keluarga Berencana (KB)

Alasan menolak program KB

“Saya ini tidak bisa KB, tidak cocok di badan. Pernah pakai pil saya jadi sesak nafas. Pernah juga pakai suntik, badan saya jadi lemas tidak bisa apa-apa, berdiri saja susah. Lalu saya coba cara kampong, kata orang makan buah jarak sehari satu bisa untuk KB, tapi saya juga tidak cocok, badan jadi lemah juga. Pernah juga pakai sepiral, tapi malah sepiralnya lepas waktu saya kerja di sawah”.

Itulah alasan bu M ketika ditanya mengapa dia tidak menjadi akseptor KB. Bu M bahkan semapt marah ketika petugas kesehatan terus-menerus menasehatinay supaya ikut KB. Si Ibu yang beranak 10  ini sempat berkata kasar dalam bahasa Aceh: “loen toh wak kah gabuek!”. Artinya kira-kira adalah ”aku yang melahirkan kok kalian yang repot!”.

Alasan “tidak cocok” dengan alat kontrasepsi seperti itu ternyata juga dirasakan oleh beberapa ibu lain di desa Paya Bili Dua dan Paya Dua. Bu Rufasah, 42 tahun  dengan pengalaman hamil 9 kali berkisah;

“Saya tidak cocok pakai suntik dan pil KB, dada saya terasa sakit, saya sudah capek juga melahirkan dan mengurus anak saya, sampai anak saya yang terakhir ini berbibir sumbing dan mengalami gizi kurang. Saya ingin di tubektomi saja nanti, tapi saya mau minta izin suami dulu. Saya takut kena marah suami”

Banyak perempuan mengaku dilarang untuk ber-KB oleh suami dengan alasan nanti libido istri akan berkurang. Desas-desus yang mengatakan bahwa wanita-wanita yang menggunakan pil, IUD atau suntikan akan berkurang gairah seksnya dan akan kehilangan hasrat untuk mengadakan hubungan seks, tersebar di kalangan kaum pria. Desas-desus semacam itu merupakan salah satu dasar kecurigaan yang menyebabkan sebagian kaum pria menentang pemakaian metode-metode ini.

Menurut petugas dari Puskesmas Peudawa, alasan seperti di atas sebenarnya hanya mengada-ada. “Itu alasan yang dibuat-buat, mereka memang tidak ada kemauan untuk ikut program KB, tetapi kami sendiri tidak jelas apa sebab-musebab sebenarnya”.

Pendapat dari kaum suami ternyata berbeda lagi. Pak Rohman, seorang yang termasuk cukup berada di kampong Paya Bili Dua berkata;

“Aceh ini masih luas, tidak seperti di jawa, di sini jarak dari satu rumah ke rumah yang lain masih berjauhan, jadi masih cukup untuk ditambah penduduk.. Waktu tsunami dulu, ratusan ribu orang Aceh meninggal, sebelum itu juga di Aceh ada konflik yang banyak memakan korban, jadi kita masih perlu menambah generasi”.

Ada juga warga yang meragukan apakah alat-alat kontrasepsi itu diperbolehkan atau tidak oleh aturan agama.

“Memang tidak ada larangan yang jelas, tapi kita tidak tahu obat-obat itu dari mana dan dari bahan apa. Obat itu masuk ke badan, kita juga tidak tahu macam mana reaksi yang terjadi, macam mana efek sampingnya itu”

Berbagai alasan bisa saja bermunculan, yang pasti banyak orang yang tidak merasa memerlukan dan tidak merasa membutuhkan KB. Dengan kata lain, KB bagi mereka belum menjadi bagian dari hidup sehari-hari. Bagi masyarakat Aceh, dalam kehidupan masyarakat sehari-hari antara individu dengan individu, antara kelompok dengan kelompok, maupun antara golongan dengan golongan mempunyai norma tertentu atau etiket-etiket pergaulan.

Masing-masing pihak memelihara norma-norma tersebut meskipun di sana-sini terjadi penyesuaian sebagai strategi mengadapi perubahan jaman. Dalam masyarakat Aceh terungkap kata adat ngon hukum lagee zat ngon sifeut, yang artinya adat dengan ‘hukum’ seperti zat dengan sifat yang tidak bisa dipisahkan. Berdasarkan ungkapan ini, maka masyarakat Aceh, termasuk masyarakat di Kecamatan Peudawa masih ada ikatan dengan adat istiadat. Adat istiadat Aceh dalam hal ini bisa dilihat dari peristiwa kelahiran, adat upacara sebelum dewasa, adat pergaulan muda mudi, adat upacara perkawinan dan upacara kematian.

Adat istiadat memberi arahan pada komunitas untuk bertahan atau berubah. Adat istiadat itu sendiri pada dasarnya adalah dialog yang terus menerus tentang keberlanjutan sebuah komunitas. Hukum-hukum atau sanksi adat ditetapkan sesuai keadaan, dan akan berbeda-beda tergantung situasi dan kondisi.

Tentang Nilai Anak

            Penerimaan atau penolakan terhadap program Keluarga berencana akan terkait erat dengan bagaimana persepsi masyarakat terhadap nilai anak. Sementara itu nilai anak tidak terpisahkan dari situasi sosial budaya dan kesejarahan mereka. Berikut ini akan dipaparkan dua hal pokok yang merupakan nilai anak di kalangan masyarakat Peudawa yang memberi dampak besar pada pengambilan keputusan mereka terkait program KB.

Anak sebagai sumber kebahagiaan.

Anak adalah pelengkap hidup dan sumber kebahagiaan. Umumnya masyarakat di Peudawa tidak terlalu mempersoalkan anak-laki atau perempuan. Akan tapi beberapa pasangan muda menyatakan bahwa mereka mengidealkan memiliki anak “dua pasang”, dalam arti dua anak laki-laki dan dua anak perempuan. Mengapa dua pasang? Jumlah itu dianggap tidak terlalu banyak dan tidak juga terlalu sedikit. Jika ternyata ada yang meninggal maka masih ada “cadangan” dengan jenis kelamin yang lengkap.

Anak laki-laki penting karena dianggap akan dapat menjadi kebanggaan keluarga dan penerus keturunan. Selain itu anak laki-laki juga dianggap dapat membantu dalam urusan sehari-hari yang sifatnya fisik, seperti mengerjakan pekerjaan di sawah atau pekerjaan bertukang. Sementara itu anak perempuan dianggap lebih bisa membahagiakan hati orang tuanya. Anak perempuan yang cantik akan membawa kebangaan tersendiri bagi keluarga. Selain itu anak perempuan dianggap lebih bisa merawat ibu-ayah-nya di hari tua. pendapat Mutaha, seorang ayah (30 tahun) yang memiliki dua anak laki-laki yang masing-masing berusia 7 dan 4 tahun.

“Kalau kita sudah tua maka anak perempuan yang bisa merawat kita, sedangkan anak laki-kali biasanya dia akan lebih memperdulikan anak-istrinya sendiri, anak laki-kali juga biasanya pergi entah kemana”.

Umumnya orang-orang di Peudawa memiliki hubungan yang akrab dengan anak-anak mereka. Banyak ayah yang suka sekali mengajak anaknya yang berusia di bawah 7 tahun untuk sekedar berjalan-jalan dengan menggunakan sepeda motor berkeliling desa. Kadang-kadang mereka pergi ke pantai yang tidak jauh dari desa itu, lalu mampir ke warung untuk membeli jajanan. Kadang-kadang bukan hanya anak kandung yang ikut jalan-jalan, keponakan atau anak tetangga sebelah juga ikut dibenceng dengan sepeda motor. Satu sepeda motor bisa membonceng tiga orang anak.

Anak itu penerus agama, untuk memperbanyak ummat.

“Memang kami orang Aceh ini maunya punya anak yang banyak. Dalam masalah ini ada dalil yang mengajurkan  umat Islam untuk mempunyai anak banyak. Nabi bersabda: nikahilah perempuan yang pecinta dan yang dapat mempunyai anak banyak, karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab banyaknya kamu di hadapan umat-umat yang terdahulu”.

Demikian yang dikatakan pak Amrullah (52 tahun) seorang  tokoh masyarakat. Alasan berdasarkan syariat untuk memperbanyak anak ini memang sangat terkait dengan sejarah panjang rakyat Aceh yang penuh gejolak. Pada masa Perang melawan Belanda syariat telah digunakan sebagai dasar perjuangan melawan Belanda yang biasa disebut kaum Kaphe (kafir). Mereka merasakan bahwa anjuran untuk memperbanyak anak sangat relevan dengan kebutuhan personil pasukan untuk perang sabil tersebut.

Pada jaman Indonesia medeka, semangat perang Aceh bertranformasi menjadi gerakan untuk memerdekakan dan memisahkan diri dari NKRI. Landasan syariah masih digunakan untuk meneruskan perjuangan. Upaya untuk terus “memproduksi” banyak anak pun masih diperlukan sebagai cadangan pasukan melawan TNI.

Bahkan setelah masa damai sekarang ini pun ingatan akan konflik masih mempengaruhi masyarakat dalam mengambil keputusan.

 “Ada orang yang menolak KB karena kuatir akan terjadi lagi konflik seperti dulu. Mereka bilang: kalau kita KB, anak kita habis, cemana kalau terjadi konflik lagi, kita tidak punya pasukan lagi”, demikian keterangan yang disampaikan oleh Pak Mahlel, kepala Puskesmas Peudawa.

Keyakinan agama dan sejarah konflik yang terus-menerus direproduksi  seringkali menempatkan komunitas selolah-oleh selalu dalam situasi darurat. Ada kisah tentang bayi-bayi di Peudawa sejak baru laihr sudah diberi makanan berupa pisang yang dilumatkan. Ini adalah keadaan darurat ketika perang dan konflik, di mana ribuan ibu di Aceh ikut berperang sambil membesarkan anak-anaknya. Sudah umum diketahui bahwa kaum ibu Aceh adalah pejuang-pejuang tangguh yang bahkan memimpin pasukan di garis depan. Dalam keadaan seperti itu mustahil si ibu bisa memberikan ASI secara teratur. Kini situasi berubah, Aceh sudah memasuki era damai, akan tetapi situasi darurat masih menguasai alam pikiran sebagian besar masyarakat. Itulah sebabnya hingga kini kebiasaan memberi makan bayi belum juga berubah. Kebiasaan yang ada asal-usunya itu kini seolah dianggap sebagai sesuatu yang natural dan given. Oleh karena itu apapun yang dikatakan petugas kesehatan tentang gizi dan KB, maka tidak akan mendapatkan respon positif dari komunitas selama “budaya darurat” itu masih bertahan.

Selain tentang perang dan konflik, peristiwa tsunami yang terjadi pada tahun 2004 juga menjadi wacana yang mempengarui warga dalam mengambil keputusan. Secara fisik wilayah Peudawa memang tidak begitu terdampak, mengingat posisi wilayah ini ada di pantai timur Sumatera yang tidak terkena langsung gelombang dahsyat itu. Hanya ada beberapa rumah yang berlokasi di pinggir pantai yang rusak akibat limpahan air laut.

Akan tetapi tsunami sudah menjadi wacana baru yang menyatukan seluruh Aceh yang pada saat itu sedang berkonflik. Isu tsunami sudah menjadi ingatan bersama rakyat Aceh, termasuk warga Peudawa. Seorang tokoh masyarakat di gampong Paya Bili Dua  mengatakan bahwa akibat tsunami, Aceh telah kehilangan ratusan ribu orang, itu belum tergantikan hingga saat ini. “KB belum cocok dijalankan di daerah Aceh, kita malah perlu memperbanyak generasi sekaligus memperbanyak umat”, katanya.

[1] Paparan KIA, Workshop Pengumpulan Data Riset Etnografi Kesehatan. Surabaya. April 2015.

[2] Hartanto, H. KB:Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta, 2004.

[3]Hartanto, H. KB:Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta, 2004.

[4] Kumalasari ,I., Andhyantoro, I. Kesehatan Reproduksi Untuk Mahasiswa Kebidanan dan Keperawatan. Salemba Medika. Jakarta. 2012. Hal 3-4.

[5] Kumalasari ,I., Andhyantoro, I. Kesehatan Reproduksi Untuk Mahasiswa Kebidanan dan Keperawatan. Salemba Medika. Jakarta. 2012. Hal 101.

[6] Kumalasari ,I., Andhyantoro, I. Kesehatan Reproduksi Untuk Mahasiswa Kebidanan dan Keperawatan. Salemba Medika. Jakarta. 2012. Hal 101-103.

[7] Bogue, D.J, Rintangan Komunikasi dalam Keluarga Berencana. Aquarista Offiset. Jakarta. 1978. Hal 16.

[8] Kumalasari ,I., Andhyantoro, I. Kesehatan Reproduksi Untuk Mahasiswa Kebidanan dan Keperawatan. Salemba Medika. Jakarta. 2012. Hal 142.

[9] Kumalasari ,I., Andhyantoro, I. Kesehatan Reproduksi Untuk Mahasiswa Kebidanan dan Keperawatan. Salemba Medika. Jakarta. 2012. Hal 142.

[10] Hasil Riskesdas 2013, Hal 202.

[11] Bushan I. 1997. Understanding unmet need. The John Hopkins School of Public Health. Center for communication program. Working paper no 4. November 1997.

[12] Sopacua, E., Widjiartini,. Profil Kesehatan Perempuan 15-49 tahun Berstatus Kawin dengan Unmet Need Pemakaian Kontrasepsi di Indonesia. Balitbangkes. Surabaya. 2010.

[13]  Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia. Jakarta: LP3ES.

[14] ibid

[15] Laporan Pemegang Program Gizi Puskesmas Peudawa

[16] Suhardjo. 1992. Pemberian Makanan Pada Bayi. Kanisius. Yogyakarta. Hal 56.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s