Potret Penanganan Pasien Gangguan Mental di Kecamatan Peudawa, Aceh Timur

Sebuah Pengamatan dan Penelusuran Peneliti Kesehatan

Oleh: Lafi Munira

Definisi sehat menurut WHO adalah suatu keadaan sejahtera yang meliputi fisik, mental dan sosial yang tidak hanya bebas dari penyakit atau kecacatan maka secara analogi kesehatan jiwa pun bukan hanya sekedar bebas dari gangguan tetapi lebih kepada perasaan sehat, sejahtera dan bahagia, ada keseraasian antara pikiran, perasaan, perilaku, dapat merasakan kebahagiaan dalam sebagian besar kehidupannya serta mampu mengatasi tantangan hidup sehari-hari.

Terdapat 8 pasien dengan riwayat depresi, serta 12 pasien dengan riwayat Skizofrenia sampai dengan bulan April 2015 di wilayah kerja Puskesmas Peudawa dan terdapat 2 orang pasien baru skizofrenia yang dirujuk ke RSJ Banda Aceh karena mengamuk di rumah dan lingkungan rumahnya.

Penanganan Gangguan Mental di Layanan Primer?

Pengobatan pasien dengan gangguan mental membutuhkan pengobatan dengan tempo waktu yang tidak singkat, bisa bertahun-tahun karena ketidakseimbangan hormon di dalam otak pasien. Menurut paparan Junaedi selaku petugas yang menangani kasus gangguan mental di Puskesmas Peudawa.

“itu yang depresi dan skizo satu keluarga ada 2 orang, kakak dan adik, dua-duanya perempuan Yusra dan Mursida.. kakaknya Mursida skizofrenia, dan adiknya Yusra depresi,.. suka menyendiri, kakaknya dibawa ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di Banda Aceh karena mengamuk-mengamuk, melempar batu ke rumah-rumah masyarakat, mengambil barang-barang.. depresinya karena keluarga “broken home[1], persoalan ekonomi keluarga, tidak cocok dengan orang tua”.

Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi kejadian Skizofrenia. Dari 12 pasien yang tercatat ada pasien yang tidak konsul kembali sebanyak 6 orang pada bulan februari dan terdapat 8 pasien yang konsul pada bulan Maret, lalu terdapat 6 pasien yang konsul pada bulan April.

Peneliti kemudian menelusuri mengapa jumlah pasien tidak sama pada setiap bulannya. Menurut Junaedi ada pasien yang putus obat, kemudian sebagian ada juga yang kambuh dan merepotkan warga sehingga di rujuk ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di Banda Aceh.

Terdapat hal lain yang menarik yang berkaitan dengan BPJS. Menurut paparan Junaedi sebagai penanggungjawab gangguan mental Puskesmas Peudawa.

 “jumlah obat dibatasi selama ada BPJS ga jelas lah pengobatan pasien dengan gangguan jiwa ni. Dulu bisa setiap seminggu persediaan obat diberikan kepada pasien.. sekarang hanya dapat 3 hari saja yang dapat diberikan kepada pasien..”.

Dari penelusuran ini, peneliti menggali lebih dalam tentang pemberian obat, jenis obat, hingga dukungan keluarga. Pendeknya jarak waktu pemberian obat ini beresiko membuat keluarga pasien maupun pasien itu sendiri menjadi “malas berobat” ke Puskesmas.

Dalam hal ketersediaan obat selama sistem BPJS ini Puskesmas mendapatkan obat yang terbatas dari Dinkes Aceh Timur. Obat yang diberikan untuk pasien depresi dan skizofrenia nyatanya sama yakni Chlorpromazine (CPZ), Haloperidol, Triheksiperidil (THP).

“disini obat cuma tiga macam.. CPZ, Haloperidol, dan THP. Skizo dan depresi obatnya sama.. sejak ada BPJS ni kadang haloperidol ada eh CPZnya nda ada.. atau sebaliknya CPZnya ada haloperidolnya yang tidak ada.. jadi kek (kayak)  mana (gimana)..”.

Hal tersebut diperkuat oleh orangtua dengan anaknya yang menderita skizofrenia. Sutriah, 58 tahun, bersama dengan suaminya membawa Khairunnas, 34 tahun, minta dirujuk ke RSJ Banda Aceh, karena pasien merasa sedang kambuh, ditandai dengan tingkat emosi yang tinggi dan mengamuk-ngamuk.

“Anak saya.. sudah sakit 2 tahun, sejak tahun 2014 pernah dibawa  sekali ke Banda Aceh. Lalu minum obat setiap hari dengan 3 macam obat.. setelah membaik ga diminum lagi obat.. ini anaknya sendiri yang minta dirujuk ke Banda Aceh, karena sakit sekali kepalanya, serasa ingin dicopot, dan dipukul-pukulnya terus kepalanya… kalau di RSU Idi.. anak saya dikasih 6 macam obat… anak saya tu pintar mengaji, bagus suaranya ketika mengaji, hafal surat-surat, tapi entahlah sakitnya tu.. mana ada yang mau menikah sama anak saya”.

Menurut keterangan dari Junaedi penyebab terjadinya skizofrenia diantaranya karena ikut-ikut pengajian, belajar-belajar kitab, hingga penggunaan ganja.

“yaa itulah, orang tu ada ikut-ikut pengajian aliran apa entah, belajar-belajar kitab,.. terus pakai ganja juga diluar sepengetahuan orang tua.. ada juga yang anak orang kaya skizo karena minta belikan motor sama orangtuanya tapi tidak kesampaian..”.

Tentang lamanya pengobatan, petugas program gangguan mental menyatakan bahwa:

 “ada yang sudah 10 tahun berobat, ada yang sudah mandiri berobat sendiri ke Puskesmas, ada yang sudah mampu bekerja sambil rawat jalan, ada yang sudah menikah dan mempunyai 2 orang anak”.

“kalau pasien sudah kambuh, dan lari-lari.. nanti ditangkap oleh polsek, lalu kami suntikkan diazepam atau CPZ, lalu malam langsung kami bawa ke Banda…”.

Dalam pandangan peneliti, penderita depresi maupun skizofrenia selayaknya tidak dilayani di tingkat puskesmas. Minimal pengobatan dirujuk ke RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah) pada poli jiwa. Hal tersebut karena pasien dengan gangguan mental sepatutnya ditangani oleh psikiater, bukan petugas puskesmas yang penanggungjawabnya adalah seorang perawat.

Peneliti menemukan pola bahwa terdapat “kebiasaan” merujuk pasien yang kambuh langsung dibawa ke rumah sakit jiwa di Banda Aceh, dan hal tersebut dalam pandangan peneliti tidak efektif maupun efisien. Setiap kali dirujuk ke Banda Aceh membutuhkan waktu pulang pergi 18 jam, dan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit yakni minimal Rp. 500.000,00. Skizofrenia tampaknya menjadi suatu hal yang “biasa saja” di wilayah kerja Puskesmas Peudawa.

Semua penderita skizofrenia patut dirujuk ke RSUD dan ditangani langsung oleh psikiater, karena dalam hal ini penyakit skizofrenia tidak dapat diatasi di level pelayanan primer, namun sekunder yakni RSUD. Akses menuju RSUD pun tidak jauh di Ibukota Kabupaten yakni Kota Idi. Hal tersebut pun jauh lebih efektif dan efisien, selain gratis, obatnya pun beragam dan diberikan per 2 minggu. Hal tersebut dalam pandangan peneliti dapat membuat kondisi pasien dapat membaik. Dari hasil penelusuran peneliti juga, terdapat poli jiwa di RSUD  Zubir Mahmud di kota Idi. Jarak antara desa menuju RSUD pun tidak jauh, sekitar 15 menit jika menggunakan kendaraan bermotor.

Problematika Promosi Kesehatan dan Edukasi Terhadap Keluarga

Pola minum obat yang tidak rutin pun atau putus obat sudah biasa terjadi sehingga dalam kurun waktu 6 bulan, selalu saja ada yang kambuh dan mengamuk. Hampir setiap pekan, pasti ada pasien yang dirujuk ke RSJ Banda Aceh. Menurut penelusuran peneliti, penanggungjawab gangguan mental di puskesmas tidak memberikan edukasi mengenai keteraturan minum obat maupun tidak memberikan edukasi mengenai efek samping obat-obatan tersebut. Penanggungjawab gangguan mental yang seorang perawat disini menurut peneliti tidak memahami sepenuhnya mengenai gangguan mental secara komprehensif. Hal tersebutlah yang membuat peneliti berfikir bahwa, hal ini menjadi penting. Mengapa penting?, hal ini perlu menjadi sorotan, dan diubah pola pengobatannya untuk ke depan.

Keluarga salah seorang pasien mengakui bahwa anaknya sudah lama tidak minum obat lagi karena merasa “sehat-sehat” saja, dan kemudian pasien sendiri menyadari bahwa ia sedang kambuh setelah 6 bulan tidak meminum obat. Pasien lalu menceritakan ke keluarga dan lalu dirujuk langsung ke RSJ Banda Aceh. Keluarga pun bercerita kepada peneliti mengapa setelah minum obat anaknya sering tremor dan tegang-tegang pada bagian tangannya. Peneliti hanya mampu menjelaskan bahwa obatnya baik untuk diminum terus walaupun gejala sudah tidak terlihat.

Keluarga pun tidak diberitahu penanggungjawab gangguan mental puskesmas mengenai efek samping obat yang diminum yakni tremor dan lainnya. Keluarga pun tidak tahu kalau obat harus diminum secara rutin. Pada kasus lain, setelah pasien dibawa ke RSJ Banda Aceh, setelah beberapa bulan, tiada keluarganya yang menjemput karena adanya perasaan malu dan takut jika pasien kambuh lagi. Disini perlunya edukasi kepada keluarga tentang penyakit, pengobatan, serta pencegahan pencetus kekambuhan kepada keluarga pasien. Dengan adanya edukasi kepada keluarga, diharapkan keluarga dapat mendampingi pasien untuk minum obat dan konsul ke psikiater tentang kondisinya. Dengan adanya dukungan positif dari keluarga, pasien dengan gangguan mental dapat terperhatikan pola pengobatannya, dan mengurangi jumlah pasien yang kambuh dan dirujuk ke RSJ Banda Aceh lagi.

[1] Broken home adalah istilah yang digunakan untuk keluarga yang tidak harmonis maupun bercerai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s