POTRET PENDIDIKAN DI INDONESIA

Sebuah Pandangan dan Impian Tentang Pendidikan di Indonesia

Oleh: Lafi Munira

Ketika mendengar tentang “pendidikan di Indonesia”, hal yang terbersit di dalam fikiran saya adalah satu kata yakni “kompleks”. Jika ingin dikerucutkan terdapat beberapa hal penting yang dapat disoroti, yakni 1) kota vs desa ketersediaan sekolah?, 2) ketercapaian akses, 3) kondisi sosial ekonomi dan budaya, 4) kualitas. Tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat kesenjangan antara wilayah perkotaaan dibandingkan dengan pedesaan dari ketersediaan sekolah maupun daerah tertinggal perihal ketersediaan sekolah.

Pada beberapa perjalanan yang telah saya lalui, saya menatapi kondisi pendidikan di Indonesia mulai dari tingkat dasar yakni SD, pada daerah tertinggal maupun daerah perkotaaan, sebarannya belum merata. Pertama-tama mari kita soroti daerah perkotaan pada saat saya menjadi relawan di kota semarang yang ketersediaan sekolahnya ada. Di Semarang, tepatnya kawasan pasar johar banyak anak-anak jalanan yang tidak sekolah karena orang tua mereka tidak mampu menyekolahkan mereka. Mereka, anak-anak jalanan tersebut bermain-main pada malam hari sambil mengemis di jalanan, lantas uang tersebut diberikan mereka kepada orangtua mereka, dan lalu uang tersebut digunakan untuk membeli rokok ayahnya. Begitupun ketika saya menjadi relawan di kota Demak, anak-anak disini berpotensi untuk menjadi anak jalanan karena memang kondisi perekonomian keluarganya tidak mencukupi untuk biaya sekolah. Mereka sesungguhnya terlahir untuk menjadi anak-anak yang baik, namun kondisi lingkungan dan kehidupan membuat mereka menjadi bermental lemah, gemar berkelahi, dan mengemis di jalanan. Mereka butuh akan cinta dan asupan pendidikan sejak dari kecil agar terbentuk karakter atau kepribadian yang baik. Menjadi anak jalanan membuat mereka dikejar-kejar oleh Satpol PP dan digiring menuju penjara anak-anak. Di dalam penjara mereka mendapatkan perlakuan yang tidak baik, mereka dipukuli dan jika ingin dilepaskan dari penjara, harus ada orang tua atau wali yang menebus mereka dengan harga tiga puluh ribu rupiah. Bagi mereka tiga puluh ribu bukanlah nominal yang sedikit, orangtua mereka kemudian mengumpulkan receh demi receh untuk menebus anak mereka yang berada di dalam penjara.

Lain lagi ketika saya berkesempatan untuk menyapa Kabupaten Aceh Timur dan Kabupaten Kutai Timur, di dua tempat ini anak-anak hidup jauh dan terisolir dari akses pendidikan. Selain akses pendidikan yang menempuh lebih dari 1 jam dan harus melewati kawasan hutan yang terbakar, mereka juga mempunyai mental yang telah tercemar karena kondisi sosial ekonomi dan budaya di daerah mereka tinggal. Orang tua mereka bekerja di ladang sawit yang dikelola oleh suatu perusahaan sawit yang hasil olahannya di ekspor ke luar negeri. Idealnya masyarakat yang tinggal di perkebunan sawit dapat hidup dengan layak tanpa kekurangan apa pun. Namun ironinya mereka hanya digaji 1 juta saja perbulan oleh perusahaan sawit tersebut. Anak dengan usia 13 tahun telah ikut berladang sawit juga dan mereka mengatakan bahwa “untuk apa sekolah, lebih baik ke kebun nanti dapat uang”. Iklim yang tidak bersahabat untuk menimba ilmu di sekolah tersebut telah membuat mereka tidak berkeinginan untuk sekolah.

Pada poin terakhir saya sedang merenungkan perihal “kualitas”. Kualitas ini saya bedakan menjadi dua berdasar apa yang saya amati selama ini. Kualitas tersebut terbagi menjadi dua yakni kualitas tenaga pendidik dan kualitas anak didik. Kualitas tenaga pendidik dan kualitas anak didik saling berhubungan. Kualitas tenaga pendidik merupakan jembatan yang akan mengantarkan peserta didik untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Namun pada kasus yang sama amati di daerah tempat tinggal saya, seorang lulusan SMA bisa menjadi guru honorer di sekolah dasar, dan banyak muridnya yang mengeluhkan bahwa gurunya tersebut tidak bisa mengajari mereka matematika. Para murid sering mengeluhkan bahwa “ibu guru saya tidak bisa mengajarkan bagi-bagian dan kali-kalian”, sehingga murid pun memilih untuk belajar sendiri di rumah dengan bantuan kakak-kakaknya atau pun mengikuti les yang murah meriah. Apakah kualitas guru tidak layak untuk disoroti?, bagaimana bisa mencetak generasi emas jika tenaga pengajarnya belum layak dikatakan “berkualitas”. Namun di sisi lain, kualitas tenaga pengajar tidak melulu harus disalahkan, dalam hal kualitas peserta didik dapat dikaitkan dengan asupan gizi anak sejak 1000 hari awal kehidupan. Permasalahan kesehatan gizi pada anak ini berdampak kepada kualitas anak ketika mendapatkan pelajaran. Permasalahan “kualitas” ini penting untuk ditindaklanjuti.

Impian, ya impian saya untuk pendidikan di Indonesia begitu banyak. Saya mencintai negeri ini serta seluruh anak-anak di Indonesia. Hati saya berbahagia ketika menatapi wajah mereka ataupun ketika mengkhidmati senyuman mereka, adakah yang lebih indah dari binar mata dan senyuman hangat mereka?. Alangkah indahnya jika setiap anak di negeri ini bersemangat dan mendapatkan pendidikan dengan kualitas yang baik dan merata. Alangkah indahnya jika semenjak mereka kecil mereka sudah mempunyai cita-cita dan berusaha berlari mewujudkan cita-citanya itu. Sesederhana anak Indonesia yang tiada lagi mengalami buta huruf, sesederhana anak Indonesia yang mendapatkan kasih sayang yang baik dari orang tua maupun guru mereka sehingga mereka tumbuh dengan kepribadian yang baik tanpa merasa tertekan dengan beban studi yang mereka tempuh. Saya sangat ingin menatapi wajah mereka satu-persatu dengan harapan kelak mereka bisa lebih baik dari apa yang saya dapatkan dan syukuri saat ini hingga saya bisa mendapatkan gelar sarjana dengan kondisi ekonomi keluarga saya yang serba terbatas. Maukah pemerintah di negeri ini membantu, mendorong mereka dengan penganggaran negara untuk peningkatan kualitas tenaga pendidik maupun penganggaran negara untuk mencakupi seluruh biaya pendidikan mulai dari tingkatan dasar hingga perguruan tinggi, karena anak-anak saat ini adalah mereka yang akan membangun negeri ini di masa depan. Betapa inginnya saya jika di dalam kurikulum pengajaran diselipkan materi pembentukan karakter, sehingga mereka tumbuh dengan karakter yang positif dan siap untuk mengabdikan diri kepada bangsa dan negara dengan cara apapun yang mereka inginkan, bukan lagi anak-anak bermental lemah yang bahkan bermimpi pun tak sanggup. Alangkah damainya jika semua akses game online ditutup, karena otak anak-anak di negeri ini sudah terlanjur menjadi maniak game online, hingga mereka menjadi malas belajar lagi di rumah. Untuk menyelesaikan permasalahan pendidikan di negeri ini dibutuhkan kerjasama multi sektor, bukan hanya peran kementerian pendidikan, namun juga orang tua, tenaga pendidikan, pelayanan gizi kesehatan, kementerian agama, kemkominfo, maupun lingkungan tempat tinggal anak-anak di negeri ini. Alangkah indahnya membayangkan di masa depan, anak-anak menjadi dewasa dan siap membangun negeri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s