Surga Kecil Touna dan Ironi Kondisi Kesehatan Masyarakat

Sebuah Catatan Perjalanan dan Kontemplasi Seorang Peneliti

Oleh: Lafi Munira

Kabupaten Tojo Una-Una, terdengar asing bagi saya ketika membaca pengumuman peneliti yang lolos Riset Etnografi Kesehatan Tahun 2016 sekaligus penempatannya. Sejak pengumuman hasil tersebut saya mulai bertanya-tanya kepada mbah google tentang si Touna ini, dan taraaa yang saya dapatkan justru petunjuk rute perjalanan destinasi wisata para turis asing serta gambar-gambar pantai nan sangat indah. Hal tersebut membuat saya bertanya-tanya tentang “destinasi wisata dan ranking 480 IPKM”, saya yakin akan menemukan jawabannya ketika saya sudah sampai sana.

Saya dan tim memulai perjalanan pada 10 April 2016 berangkat dari domisili masing-masing. Sampai di Palu kami mengurus perizinan dan melakukan diskusi dengan beberapa pihak.

“kalau jalan malam, janganlah melewati poso, banyak orang mabuk turun ke jalan saat malam hari, apalagi ada pernah itu kasus perempuan diperkosa, janganlah malam, apalagi 10-12 jam jalan darat, lelah sekali pasti sudah.. apalagi jalannya berkelok-kelok” (Informan 1 dan 2)

“disana ada suku taa wana, di dataran bulan, tidak ada sinyal telfon, tidak ada listrik, tidak ada akses air bersih… yaa paling juga mata air pegunungan,, dan naik mobil dulu 5 jam ke atas, ditambah 2 jam naik ojek, dan sisanya jalan kaki menuju hutan… ya asal sanggup aja jalan kaki sih.. hati-hati dengan nyamuk hutan sulawesi,, malaria…” (Informan 1 dan 2)

Manusiawi bukan kalau saya merasa “ngeri” karena saya perempuan?, tapi tidak sepenuhnya saya masukkan ke fikiran dan perasaan saya karena saya belum membuktikannya. Akhirnya kami memutuskan untuk naik pesawat ATR dari Palu ke Luwuk. Setibanya di bandara luwuk kami dijemput oleh mobil L300 yang sudah kami pesan sebelumnya. Perjalanan dari Luwuk ke Ibukota kabupaten Tojo Una-Una yang dikenal dengan sebutan Ampana tersebut konon katanya dekat saja sekitar 7-8 jam. Tapi seingat saya, waktu itu kami berangkat jam 15.30 wita sore dan sampai di Ampana pukul 23.00 wita. Ya, memang kami sempat mampir sebentar untuk makan-makan. Biaya hidup di Sulawesi Tengah bisa dibilang cukup tinggi, 1 kali makan bisa menghabiskan 50 ribu rupiah dengan menu ikan bakar, dan yang paling murah itu sekitar 30 ribuan sekali makan. Saya berfikir, mungkin karena destinasi wisata yang banyak diminati turis asing jadi harganya meroket untuk ukuran orang Indonesia.

Saya sempat menikmati sejenak pemandangan sekitar Luwuk, ada pantai-pantai indah yang mengiringi di sebelah kiri jalan, dan lalu malam pun tiba. Di sepanjang jalan trans sulawesi tersebut tak ada lampu penerangan sedikitpun, sebelah kiri tebing rawan longsor, sebelah kanan jurang yang ke laut, saya hanya mampu menyerahkan segenap jiwa raga saya kepada Tuhan. Perjalanan kadang mulus kadang  juga tidak, setiap kali ada belokan misal belok ke kiri ya tubuh saya ikut ke kiri, lalu ada belokan ke kanan, tubuh saya pun miring ke kanan. Semacam lagi bermain wahana ekstrim di Dunia Fantasi! Dalam hati kecil saya berkata, “Tuhan, jika saya disuruh pergi sendiri melewati pegunungan dan hutan rimba ini malam-malam, mungkin nyali saya tidak cukup, syukurnya masih ada 2 orang teman saya, jadi ketar-ketirnya tidak terlalu meluap”.

Ampana, kota kecil ini cukup mendamaikan hati, walau teriknya panas matahari cukup membuat kulit menjadi kering, namun suasana hening dan damainya kota ini membuat saya merasa bersyukur karena telah melewati perjalanan panjang yang ekstrim, dan tiba dengan selamat. Kau tahu, terkadang saya merasa malu pada diri sendiri, saya yang sejak kecil tinggal di kota dengan semua fasilitas tersedia, namun masyarakat di sisi lain Indonesia ini mungkin tidak seberuntung saya.

 

“Destinasi Wisata dan Ranking 480 IPKM?”

Kabupaten Tojo Una-Una memang merupakan salah satu destinasi wisata yang terkenal di kalangan turis asing. Tak heran jika saya melihat beberapa turis asing di ruang makan penginapan saya. Para turis tersebut sedang menunggu kapal untuk pergi ke Wakai maupun Kepulauan Togean. Terdapat beberapa suku yang menetap di Kabupaten Tojo Una-Una. Di Daratan ada suku Taa dan Bare’e, di Kepulauan Togean ada suku Togian, Babongko, dan Saluan.

Kami mengumpulkan beberapa literatur, dan berdiskusi dengan beberapa pihak untuk mengenal lebih dekat Touna.

“ada itu mamago,, ritual penyembuhan secara massal suku taa, jadi orang sakit dikumpulkan dan dilakukan ritual itu dari pagi sampai malam ada itu sando (dukun) yang akan mengadakan itu… dan juga itu kenapa saya juga tidak tahu banyak sekali anak-anak meninggal disana… tidak ada puskesmas juga bagaimana mau berobat..” (Informan 1 dan 2)

“saya fikir dari kebijakan yang telah dibuat oleh dinas kesehatan provinsi sudah baik namun di level operasionalnya yang belum berjalan dengan baik, apalagi setelah saya baca buku IPKM kualitatif tojo una-una, saya tidak menyangka hasilnya seperti itu..” (Informan 3)

Dalam temuan para peneliti IPKM Kualitatif, terdapat beberapa penyakit yang ngehitz di Touna. Pada tulisan ini dibatasi hanya sedikit saja dari sekelumit permasalahan kesehatan di Touna. yang paling banyak disoroti adalah tingginya angka kejadian penyakit di poli jiwa baik di RSUD Ampana maupun RS Wakai. Kami melakukan penelusuran sekilas ketika berada di Dinkes Kabupaten maupun Poli Jiwa RSUD Ampana.

“iya itu juga saya heran kenapa banyak kasus kesehatan jiwa di Touna ini,  ada itu teman saya sudah lama mengeluhkan sakit perut, sudah dibawa ke Poli Penyakit Dalam namun tak kunjung membaik, lalu di rujuk internal ke Poli Jiwa, dan dia bilang kondisinya membaik, sampai dia bilang kalau lebih baik berobat ke Poli Jiwa, keluhannya hilang semua.” (Informan 4).

“iya memang betul bu, disini paling banyak tiap hari itu poli jiwa dan penyakit dalam” (Petugas Pendaftaran RSUD Ampana)

“ya banyak memang yang mengeluhkan cephalgia, lalu dirujuk ke poli jiwa, dan kondisinya membaik, disini itu yang kasusnya banyak anxietas dan depresi, ada yang cemas kalau harus ke laut nanti tenggelam karena sering kapalnya karam, ada yang KDRT, macam-macam lah”. (dokter poli jiwa RSUD Ampana)

Kesulitan Aksesibilitas Terhadap Layanan Kesehatan: Harapan Itu Masih Ada!

Sebelum pulang menuju Luwuk, kami singgah sebentar ke Desa Mire, Desa Mire adalah perkampungan muslim suku Taa. Kami menyewa sebuah mobil rentalan dengan biaya 350ribu. Awalnya kami fikir Desa Mire itu dekat dengan Puskesmas Marowo, Kecamatan Ulubongka, tapi nyatanya tidak. Perjalanan dari Ampana menuju Marowo membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Kami mendatangi puskesmas Marowo, dan mencari nomor kontak kepala puskesmas dan bidan desa. Kalulu namanya bidan desa yang bertugas di polindes Desa Mire, petugas puskesmas pun menunjukkan rumah orangtua bidan Kalulu. Seorang nenek berkata kepada kami bahwa anaknya ada di Desa Mire sekarang. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke Desa Mire, di kanan kiri jalan kami disuguhi pemandangan pegunungan yang sangat indah. Semakin ke atas dan sinyal telefon pun mulai tiada. Dari Marowo menuju Desa Mire membutuhkan waktu selama 1 jam. Sesampainya kami di Desa Mire kami disapa dengan hangat oleh seorang bapak tua, sambil bertanya dimana rumah bidan Kalulu. Suku Taa yang bermukim di Desa Mire telah mengenal personal hygiene, mereka telah mau mandi. Bidan Kalulu bercerita bahwa beliau mulai ditugaskan disana sejak 1998, beliau juga bercerita bahwa dulu masyarakat di desa tersebut masih primitif sekali. Saya kemudian tertarik untuk mengetahui bagaimana beliau bisa bertahan selama itu dan bagaimana proses “perubahan” budaya masyarakat disana?, namun saya belum sempat menanyakannya. Belasan tahun beliau mengabdi di desa tersebut, setidaknya saya melihat adanya ketulusan dan kemauan untuk berbuat baik. Di sepanjang jalan pulang saya berfikir bahwa permasalahan Touna sebenarnya jatuh pada akses menuju Fasyankes. Mereka yang di kepulauan dan daratan menderita banyak penyakit hingga sampai pada level parah karena untuk menuju Fasyankes saja mereka harus menempuh jarak yang jauh dan membutuhkan uang yang tidak sedikit untuk menuju Fasyankes. Namun hal tersebut bisa di minimalisasi jika ada Bidan Desa seperti Bidan Kalulu atau petugas kesehatan yang lain yang mau bekerja secara totalitas. Harapan itu masih ada, ya masih ada. Selalu ada alasan mengapa Tuhan menempatkanmu di suatu tempat, mungkin untuk belajar banyak hal, mungkin untuk berbuat baik.

Banjarmasin, 20 April 2016

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s