Sekalipun jauh, ayah tetap mencintai anaknya

Ayah tetaplah ayah. Baik atau buruk ia tetaplah ayah.

Ayah tetaplah ayah.

Sekalipun terpisahkan jarak dan waktu, ia tetap ingat akan anaknya.

Sekalipun terpisahkan jarak dan waktu, ia tetap berdoa untuk anaknya.

Sekalipun terpisahkan jarak dan waktu, ia tetap rindu pada anaknya.

Sekalipun terpisahkan jarak dan waktu, ia tetap mengenang anaknya.

Sekalipun terpisahkan jarak dan waktu, ia tetap cinta kepada anaknya.

 

Saya meyakini bahwa tiada yang kebetulan di dunia ini, semuanya telah tertulis, kapan dan dimana engkau akan bertemu seseorang yang dapat memberikan arti di dalam kehidupanmu.

Pada suatu hari, setelah berjalan dari kampung suku bajo, saya naik ojek, sepanjang perjalanan saya bercakap dengan bapak ojek bahwa saya dan teman sedang mencari rumah di perkampungan suku bajo tapi belum dapat. Bapak tersebut lantas menawarkan bantuan bahwa ia akan mencarikan rumah untuk tempat kami tinggal di perkampungan suku bajo. Kami pun bertukar nomer hape. Karena saya berfikir positif saat itu, InsyaAllah bapak itu orang yang baik. Pertemuan kedua kami terjadi saat saya sms meminta untuk diantar ke klinik, sambil membeli pesanan ikan bakar dari teman saya. Sembari menunggu ikan di bakar saya memulai percakapan biasa dengan bapak itu, dan beliau mengisahkan tentang kehidupannya, kami berbicara tentang beberapa filosofi dan perjalanan kehidupan. Bapak itu berkata bahwa ia pernah menikah dengan seorang wanita yang berlainan agama dengannya, pada saat konflik Poso, mereka terpaksa bercerai dengan istrinya dengan alasan keselamatan nyawa (menyelamatkan diri dari dampak konflik), bapak itu lantas pindah ke Tojo Una-Una sambil meninggalkan wanita yang ia cintai yang sedang mengandung janin dalam kandungannya yang berusia 3 bulan. Seiring waktu berlalu, bapak tersebut selalu mendoakan anaknya, berharap bertemu anaknya, berharap anak yang ditinggalkannya pada saat dalam kandungan itu mengingatnya walaupun sekedar sebagai seorang bapak. Lama bapak tersebut menunggu jawaban Tuhan atas doa-doanya, pada suatu pagi setelah 19 tahun penantian, ia mendapatkan sms yang berbunyi: “pa, ini ananda anak papa yang pernah papa tinggalkan, ananda ingin bertemu pa, di Palu”, berkaca-kaca bapak itu membaca sms dari putri yang selama ini bahkan ia malu menjadi seorang bapak karena tidak pernah mengurus anaknya. Dan pertemuan itu pun terjadi, doa-doa yang dipanjatkan bapak itu: “Tuhan, apabila suatu hari nanti Engkau membuat anakku ingat padaku dan mau menemuiku, karena aku tak punya nyali untuk bertemu dengannya, karena aku bukanlah seorang bapak yang baik Tuhan”. Setelah 19 tahun menunggu, mereka pun bertemu, dan saling melepas rindu. Kau tau rasanya bagaimana rindu yang tak terluapkan berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun?, rindu yang seperti itu adalah rindu yang didalamnya bercampur aduk antara harapan-putus asa-dan doa.

Makassar, 29 Juni 2016

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s