Jalan Hidup

Hidup ini penuh teka-teki yang memang kita sebagai manusia tidak bisa menebak apa yang ada di depan sana. Betapa banyak mimpi-mimpi kita yang kita dekap erat, ada cita-cita, ada cinta dan harapan yang lagi-lagi kita dekap erat. Kita mendekap erat kesemuanya itu dan berharap semua berjalan sesuai dengan rencana kita, berharap semuanya menjadi indah dan nyata. Jika dianalogikan, siapa dari kita yang sedang menonton film mengharapkan akhirnya tidak digantung dan happy ending.

Bagi yang masih sendiri di usia yang kian menua, mungkin terbersit tanya dihatinya, siapakah yang akan menjadi teman hidup sampai menua. Manusia-manusia tersebut adalah manusia yang sendirian yang ingin menemukan ataupun ditemukan oleh seseorang yang dianggap jodoh baginya di masa depan. Ada juga mereka yang sedang jatuh cinta bersama, dan berharap akan menua bersama dalam suatu hubungan yang sakral, di sisi lain mungkin juga manusia-manusia yang sedang jatuh cinta ini sedang cemas berjuang untuk mengumpulkan uang untuk resepsi pernikahan sesuai dengan harapan mereka. Semuanya sedang menaruh harapan, dan harapan. Semuanya sedang berusaha meraih asa, dengan doa sebaik-baiknya. Tapi siapa yang bisa menjamin semuanya akan happy ending?

Bagi yang belum mempunyai pekerjaan, tak jarang mereka merasa kurang percaya diri dengan kemampuannya. Tak jarang yang menyentuh gelar sarjana sekalipun kesulitan mendapatkan pekerjaan. Tapi di negeri ini untuk menyentuh pendidikan setingkat sarjana tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bagi mereka yang punya uang berlebih bisa dengan pesta merayakan momen baru masuk kuliah, ditambah bonus dibelikan mobil untuk mobilisasi kost-kampus. Sedangkan sebaliknya tidak semua pemuda di negeri ini bisa beruntung mendapatkan fasilitas pendidikan. Namun yang paling menyentuh hati adalah ketika ada manusia-manusia yang bekerja serabutan mulai dari sol sepatu, jualan koran di pagi hari, menjual jamu, dan sayur-sayuran di pasar.

Siapa yang bisa menjamin semuanya dalam hidup ini akan happy ending?. Kita tak akan mampu mendekap semua mimpi-mimpi kita dan menjadikan semuanya nyata. Kita diberikan akan oleh-Nya untuk bisa memilah-milih segala sesuatunya, baik untuk urusan pekerjaan-pendidikan-cinta-serta harapan-harapan lain. Jika saja semua keinginan itu memberontak ingin diwujudkan maka sesungguhnya kita sedang menggali kuburan sendiri. Kita, pada hakikatnya tidak memiliki apa-apa. Kita, pada hakikatnya sedang menunggu panggilan-Nya dan itu adalah hal yang pasti. Kita pada hakikatnya adalah mahluk yang lemah, dan pada akhirnya kepadaNya lah semua urusan diserahkan. Kita hanya mampu berikhtiar, dan berdoa. Titip harapan-harapan ini kepada-Mu Yang Maha Kuasa.

Banjarmasin,23 November 2016

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s